Simposium Kecil dengan Orang Kota.
Hwangshin/Camelon AU. Shin Ryujin sebagai Arang, Hwang Hyunjin sebagai Bujang. Catatan: cerita ini mengandung deskripsi mengenai kematian, harap tidak melanjutkan membaca apabila dirasa tidak nyaman dengan konten yang disajikan. Tokoh yang ada di cerita ini adalah fiksi dengan setting tempat yang nyata. Selamat membaca!
Arang nggak tahu lagi apa sebenarnya yang ia kejar di dunia ini.
Tadinya, dia pikir, tujuan hidupnya itu cuma untuk membahagiakan orangtuanya saja. Setidaknya, dia mau membuat Ibu dan Bapak hidup enak di masa tua mereka. Arang mau melihat ibunya cuma leyeh-leyeh di kasur sehari-hari, sementara bapaknya asyik pergi memancing seharian.
Nyatanya, belum sempat Arang mewujudkan mimpi kecilnya itu, Ibu dan Bapak sudah keburu pergi duluan. Kalau Arang boleh bilang, perginya pun nggak dalam keadaan yang menyenangkan (meskipun pada dasarnya, kematian memang enggak pernah menyenangkan, tapi kematian kedua orangtua Arang itu benar-benar disebabkan oleh alasan yang kalau bisa dibilang, tragis). Bapak lenyap ditelan ombak ketika sedang melaut, tidak ada yang tahu jasadnya ada di mana, entah telah menjelma menjadi buih atau malah jadi makanan udang. Entahlah, Arang bahkan tidak bisa membayangkannya lagi. Saking tragisnya, kematian Bapak nggak lagi membuatnya sedih, melainkan hampa. Air mata pun seolah sudah enggan keluar lagi dari matanya yang membengkak sendiri.
Arang juga nggak melihat jasad ibunya ketika meninggal sebab bahkan jasadnya telah nggak berbentuk. Kalau nggak dilihat dari KTP yang ada di dompetnya, Arang bisa-bisa nggak mengenali kalau itu jasad ibunya. Ibunya ditabrak, entah siapa pelakunya sebab dia kabur begitu saja, seolah-olah dia tak baru saja menghilangkan nyawa orang. Arang cuma bisa membatu ketika melihat bendera kuning di depan rumahnya senja itu. Dia baru pulang dari pantai, menjaga warung bergantian dengan ibunya seperti hari-hari biasa. Tapi rasanya, setelah ini ia akan selalu menjaga warung sendirian, sebab kini Ibu sudah nggak ada lagi untuk menemaninya.
Maka dari itu Arang melanjutkan hidup dengan seadanya. Dia tak bisa berbuat banyak, melayangkan protes pada Tuhan pun tak akan menghidupkan kembali kedua orangtuanya. Di tahun keduanya menjadi siswi Sekolah Menengah Atas, Arang cuma mengisi hari-harinya dengan bersekolah dan menjaga warung. Semua dilakukannya sendirian, sebab semua yang pernah ada di sampingnya telah mati dengan turut membawa gelora dalam jiwa Arang pergi.
“Permisi, Mbak? Mbak? Halo?“
Agaknya Arang terlalu lama berkontemplasi dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia nggak menyadari bahwa ada pelanggan di warungnya yang meminta dilayani dari tadi.
“Eh, Mas, maaf. Nggak sengaja melamun. Mau pesan apa, Mas?“
Di hadapan Arang, berdiri seorang laki-laki yang ia asumsikan berusia tak jauh dengannya. Penampilannya nggak kelihatan seperti orang kota, tapi sebetulnya nggak culun-culun amat. Biasanya, Arang lebih sering melihat orang-orang kota yang mengunjungi pantai ini, sebab orang-orang yang tinggal di sekitar sini nggak senang memilih pantai yang sudah termasyhur namanya seperti pantai ini. Sudah terlalu ramai pendatang, kata mereka, jadi sudah nggak menyenangkan untuk didatangi.
Laki-laki itu memesan segelas kopi hitam dan semangkuk mi rebus, pesanan template bapak-bapak kalau berkunjung ke pantai ini. Tapi laki-laki itu masih muda, cuma seleranya saja yang kayak bapak-bapak. Ia kelihatan seperti datang seorang diri, sebab ketika Arang menyajikan pesanannya, ia menitipkan barang bawaannya di warung itu sebentar sebab ia mau mengambil foto pantai dengan lebih dekat.
Arang menyanggupi permintaan tolongnya, tapi tanpa ia sadari ia pun jadi malah berlanjut memperhatikan tingkah laku laki-laki itu. Laki-laki itu setengah berlari ke arah air, celana belelnya sudah digulung sampai dengkul. Ia membawa sebuah tustel yang kelihatannya lawas, sebab bentuknya nggak seperti yang sering Arang lihat dalam hajatan-hajatan pernikahan orang kaya (atau setidaknya orang yang kebelet kelihatan kaya).
Sibuk memperhatikan laki-laki itu, sampai Arang sendiri nggak sadar kalau ia melamun lagi. Lagi-lagi, ia lamunannya itu dibuyarkan oleh suara laki-laki tadi. Ia rupanya telah kembali dari bibir pantai.
“Mbak biasa jaga warung sendirian setiap hari?“
Kedua manik Arang mengerjap mendengar pertanyaan itu. Biasanya tuh, yang jualan yang nanya nggak sih, ke pelanggan? Ini malah pelanggannya dulu yang nanya, batinnya nggak penting.
“Oh, iya, Mas. Saya dulu jaga warung ini bareng ibu saya, tapi sekarang beliau sudah nggak ada. Makanya saya sendirian sekarang.“
Sebagaimana orang-orang lainnya yang mendengar berita nggak mengenakkan, laki-laki itu memasang roman iba. Arang sudah kebal dengan respons semacam itu sebab telah berkali-kali menerimanya dalam kurun dua bulan ini.
“Mas sendiri, asalnya dari mana? Dari kota?“
Nggak tahu apa yang merasukinya, tapi Arang akhirnya memutuskan untuk memperpanjang konversasi. Dia nggak biasa-biasanya berlaku seperti itu, tapi semenjak ia menjaga warung seorang diri sehari-hari, ia jadi merasa lebih kesepian karena nggak ada kanti berbicara sewaktu menjaga.
“Betul saya dari kota. Mbaknya sendiri, asli dari Gunungkidul? Ngomong-ngomong, nama saya Bujang.“
Bujang, ya ... nama yang agak nggak biasa buat orang kota zaman sekarang, batin Arang, lagi-lagi super nggak penting.
“Saya asli dari Gunungkidul, Mas. Nama saya Arang. Salam kenal ya, Mas Bujang. Di sini lagi liburan?“
“Nggak, saya baru pindah ke sini, ngikut Ibu. Ibu saya asli dan besar di sini, sebelum menikah sama bapak saya.“
Bujang nggak melanjutkan ceritanya, tapi Arang sedikit banyak sudah bisa menebak bahwa kelanjutannya pasti nggak mengenakkan sampai-sampai Bujang akhirnya bisa berakhir di sini. Sesuatu pasti terjadi di antara ibu dan bapaknya, entah apa bentuknya.
“Jadi Mas sekolah di sini? Eh, sebentar. Mas umurnya berapa, sih? Masih sekolah, 'kan? Maaf ya kalau saya asal nebak, soalnya kelihatannya Mas seumuran sama saya.”
Mendengar pertanyaan itu Bujang tertawa, tawa pertamanya semenjak awal konversasinya dengan Arang.
“Iya, saya jadi pindah sekolah di sini. Saya enam belas tahun, harusnya Mbak juga nggak jauh beda, ya to?“
Setelah itu, Bujang buru-buru menyusulkan nama sekolah tempat ia pindah. Arang berakhir terkesima sebab satu: dia seusia dengan laki-laki itu, dan dua, demi Tuhan, yang dia sebutkan itu nama sekolahnya!
“Ternyata kita seumuran dan satu sekolah. Bisa jadi malah satu kelas, meski nggak tahu juga, tergantung sama pengumuman waktu mulai sekolah dua minggu lagi. Aneh juga.“
Bujang sendiri juga nggak begitu menyangka bakal bertemu calon teman satu sekolahnya, lebih-lebih bertemu ketika ia tengah menjaga warung. Padahal ia sudah rela saja kalau-kalau di sekolah nanti ia nggak punya teman. Dia nggak begitu ambil pusing soal itu, toh sebentar lagi, sekitar satu setengah tahunan lagi juga dia akan lulus dari sana dan kembali ke kota untuk berkuliah. Tapi rupanya Tuhan malah mempertemukannya dengan teman satu sekolah di tempat yang nggak ia duga sama sekali.
“Rumahmu di mana, Arang? Eh, boleh 'kan saya panggil gitu karena kita seumuran? Kalau rumah kita berdekatan, rasanya takdir kita aneh betul.“
Nggak tahu kenapa, Arang mengangguk sedikit lebih cepat dari yang ia intensikan di dalam kepalanya. Ia jadi takut Bujang menganggapnya orang sinting sebab dia berakhir mengangguk terlalu bersemangat tanpa sebab (atau bisa jadi karena sebab tertentu sebetulnya, misalnya karena dia senang mengobrol dengan Bujang, cuma Arang nggak mau mengakuinya saja).
“Rumah saya nggak jauh dari Kantor Kapanewon Tepus. Kamu tahu daerah sana? Saya ragu sebab kamu baru pindah ke sini.“
Nyatanya, Bujang ternyata lebih dari paham tempat itu sebab rumahnya juga nggak jauh dari sana. Memang nggak terlalu berdekatan dengan Arang karena rumahnya memang notabenenya masih harus masuk-masuk ke jalan kecil, sementara rumah Bujang lumayan dekat dari pinggir jalan utama.
Nggak tahu bagaimana ceritanya, Arang berakhir mengisi sore harinya dengan mendengarkan Bujang menceritakan bagaimana ia menyelamatkan ibunya dari bapaknya yang pemabuk dan bagaimana pula ia bekerja serabutan untuk menghidupi keduanya. Nggak tahu juga bagaimana ceritanya, Bujang berakhir mengisi sore harinya dengan mendengarkan Arang menceritakan kematian tragis kedua orangtuanya dan bagaimana hampanya menjalani hidup dan banting tulang seorang diri.
Arang jadi malu mendengar bagaimana Bujang dengan berapi-api mengutarakan keinginannya untuk berkuliah meskipun duitnya yang pas-pasan, sementara Arang bahkan sempat berpikiran untuk berhenti sekolah saja untuk menjaga warung di pantai sehari penuh. Mimpi-mimpi kecil lelaki itu mengingatkannya bahwa dulu, sebelum orangtuanya meninggal, ia juga punya mimpi kecil untuk membuat keduanya menjalani masa tua tanpa harus bekerja.
Entah bagaimana caranya, konversasinya dengan Bujang di Pantai Slili yang mulai sepi menjelang magrib itu kembali memunculkan gelora dalam jiwa Arang yang sempat mati bersamaan dengan kepergian orangtuanya. Rasanya ia kini bisa percaya bahwa Tuhan selalu mengirimkan keajaiban di waktu dan oleh cara yang tak terduga. Bagi Arang yang akhir-akhir ini nampak seperti mayat hidup, munculnya kembali gelora dalam jiwanya itu adalah keajaiban yang tiada tara.
“Kalau kamu juga ingin melanjutkan kuliah, nanti kita bisa belajar sama-sama, Rang.“
Arang nggak menjawab, tapi senyumnya menjadi isyarat bahwa ia nggak menolak tawaran Bujang. Bagaimanapun, sebenarnya Arang juga nggak bodoh-bodoh amat dalam pelajaran. Ia cuma butuh dorongan, dan Bujang bersedia untuk membantu mendorongnya.
“Mataharinya sudah mau terbenam, saya harus menutup toko. Kamu pulang naik apa, Bujang? Mau pulang bersama? Jalan ke Tepus itu gelap sekali, saya takut kamu belum hafal jalan.“
Arang itu nggak biasa-biasanya seperti ini. Maksudnya, dia biasanya nggak suka berbasa-basi menawarkan bantuan kepada orang lain yang belum ia kenal lama sebelumnya. Tapi nggak tahu kenapa, konversasi kecil (yang sebenarnya nggak kecil-kecil amat) bersama Bujang hari ini membuat dia merasa punya semacam ikatan dengan laki-laki itu. Lagipula, sudah lama ia nggak punya teman (atau lebih dari teman, mungkin, tapi Arang nggak pernah mau mengakui). Sudah waktunya dia berhenti menjadi antisosial akut hingga jadi perbincangan tetangga.
“Saya tadi ke sini sama Ibu, tapi saya nggak enak minta tolong Ibu buat jemput lagi. Boleh menumpang kamu, nggak? Kamu bawa motor? Kalau boleh, biar saya boncengin.“
Jelas saja Arang nggak akan menolak penawaran itu. Di hari-hari lain, biasanya Arang nggak pernah pulang ketika langit sudah mulai gelap, ia pasti pulang sebelum matahari terbenam karena matanya yang nggak awas cuma akan membahayakan dirinya sendiri kalau naik motor malam-malam. Dia belum punya biaya buat membeli kacamata, jadi selama ia belum punya kacamata, ia nggak akan pulang semalam ini. Tapi karena keasyikan berbincang, nggak kerasa langit sudah mulai menggelap. Untungnya, Bujang itu punya kacamata, pakai kacamata, dan bisa naik motor. Jadi jelas Arang nggak akan menolak tawarannya.
Persetan dengan belum cukup umur, semua orang di sekitarnya bahkan sudah membawa motor sendiri sejak SD. Setidaknya Arang dan Bujang itu sudah enam belas, sebentar lagi bisa ikut ujian untuk dapat SIM. Tapi buat sekarang, Arang lebih memilih melanggar peraturan berkendara dibanding harus bolak-balik Wonosari, Tepus, dan Pantai Slili dengan berjalan kaki. Begini-begini, dia juga masih manusia normal yang kakinya nggak terbuat dari baja.
Ujung-ujungnya, Arang dan Bujang pulang berboncengan—Bujang yang di depan—pakai motor bebek Arang yang sebetulnya hasil peninggalan bapaknya. Besok, Bujang menawarkan untuk menemani Arang menjaga warung di pantai lagi, hitung-hitung menghabiskan waktu sampai Bujang bisa kembali mendapatkan pekerjaan apapun yang mau menerima anak sekolahan di tempat itu.
“Eh, Nduk, Arang! Mau ke warung, ya? Kok tumben, bareng sama teman? Sudah punya teman to, sekarang?“
Asem, batin Arang dalam hati ketika dikomentari tetangganya waktu Bujang menjemputnya ke rumah. Asem, batinnya sekali lagi.
SELESAI.
2024 © k, @whimsicalode.

