I.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Suta, mending kamu bantu bapakmu ngangon di sawah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Dari tadi berkutat sama buku terus, memangnya kamu pikir kerjaan bapakmu akan selesai dengan kamu hanya baca buku?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Buku enggak akan bikin kita kaya, Suta.”

Ibu.

Aku menyayangi dan menghormatinya dengan amat sangat. Bagaimanapun juga, beliau tetap ibuku.

Meski aku selalu diam-diam berdoa ibuku bisa sebaik ibu-ibu temanku ketika melihat anaknya tekun belajar.

Teman-temanku dipuji ketika baca buku, aku malah disambit pakai jarik batik ibu.

“Bu, Suta sudah kelas dua belas.” “Suta harus belajar untuk ujian.” “Suta mau kuliah di UGM.”

Kini aku bukan disambit lagi. Jarik batik yang biasa dipakai untuk membungkus mayat di kampungku itu dilempar dengan sekuat tenaga ke arah kepalaku.

Aku oleng sedikit, membentur buku biologi yang sejak tadi kugelontorkan atensi.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Cah gendeng!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kuliah?” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Mau kuliah pakai duit siapa kamu?” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Duit bapakmu?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Dasar anak enggak tahu diuntung!”

Ibu pergi dengan kaki yang terhentak-hentak, menggetarkan lantai kayu rumah reyotku.