LAUH.
Lauh Ranggit, 2001, lahir di Pantai Pulang Sawal (Indrayanti), Gunungkidul. Ayahnya nelayan, ibunya penjahit kebaya. Punya dua kakak laki-laki. Yang paling tua, namanya Jala, kerja di Jakarta. Yang kedua, namanya Bidar, kerja di Jogja.
Di Pulang Sawal, alias kampung dan tempat besarnya, Lauh punya dua sahabat. Yang pertama, namanya Sauh Mualim, Sauh. Yang kedua, namanya Ratih Isra, Ratih, saudara kembarnya Sauh.
Lauh, Sauh, Ratih dari kecil selalu bersama. main bertiga, sekolah bertiga, sampai dapat beasiswa untuk kuliah di UGM pun bertiga. sayangnya, mereka berpisah fakultas dan jurusan.
tapi hal itu belum juga bisa memisahkan mereka bertiga. mereka bergabung dengan MAPAGAMA, UKM pecinta alam di UGM. berkat ada di satu UKM yang sama, mereka jadi sering bertemu.
kalau aku yang menulis cerita, enggak mungkin luput dari bagian sedih-sedihnya. suatu waktu di tahun 2020, mereka bertiga memutuskan untuk nanjak ke Gunung Slamet bertiga. awalnya, semuanya berjalan lancar. mereka bisa mendirikan tenda di pos terakhir. besoknya, waktu jam 3 pagi mereka mau summit attack (istilah untuk naik sampai ke puncak), kabut tiba-tiba menebal. di sanalah mereka mengalami point of no return, alias enggak ada pilihan lain untuk terus nanjak karena kalau turun ke tenda bahayanya lebih besar. mereka terus naik, tapi kabut enggak kunjung hilang. di sana kondisi mereka mulai melemah, karena perbekalan cuma sedikit yang dibawa, sisanya ditinggal di tenda. sewaktu mereka akhirnya memutuskan untuk menepi sebentar, Ratih diserang hipotermia. fokusnya hilang dan sudah susah diajak bicara. Sauh nekat memutuskan buat turun, cari pertolongan ke desa terdekat, sementara Lauh menjaga Ratih. Sauh sempat tersasar, namun karena mengikuti jalur sungai, akhirnya berhasil sampai ke desa terdekat. ketika Sauh kembali ke tempat dua sahabatnya dengan membawa beberapa orang desa untuk menolong, Ratih sudah meninggal di pangkuan Lauh, dengan Lauh yang masih mencoba memberi Ratih kehangatan dengan memegang tangannya erat-erat, dan menangis.
selepas kepergian Ratih, Lauh dan Sauh belum pernah kembali menanjak Gunung Slamet lagi. pun semenjak itu, hubungan mereka merenggang. mereka memang sekampus, tapi interaksi mereka cuma sebatas waktu mereka kembali ke rumah di Pulang Sawal, atau pas sedang ada kegiatan MAPAGAMA.
sedihnya belum selesai. nanti, ayahnya Lauh diceritakan meninggal di laut. di satu malam, beliau pamit untuk melaut. tapi beliau enggak kunjung pulang sampai pagi, esok pagi, lusa pagi, sampai kapanpun. tapi ini masih cerita nanti, masih agak lama.
soal romansa, ini enggak berbelit-belit banyak tokohnya kayak Manah. cuma sama Sauh, romansanya. cuma romansanya ini munculnya mungkin enggak secara gamblang, karena Lauh sama Sauh sama-sama sembunyi di balik nama persahabatan.
tapi mengejutkannya, cerita ini nanti ending-nya malah cenderung bahagia. yang ini kusimpan dulu biar jadi rahasia. 👍