III.

Menyambut awang-awang yang mulai penyap pendarnya menjelang, Mbak Maka pulang. Romannya nampak dengkik dengan kacamata nang turun dan surai jelaga nang acak-acakan. Tangan kanannya mendekap segunung kertas-kertas, sementara tangan kirinya bergiat melepas sepatu putihnya yang mulai menguning perlahan demi perlahan.

Aku menyambutnya dengan senyum kecil, berharap senyumku bisa secara ajaib menular padanya.

“Mbak Maka.” “Tumben pulangnya sore banget.” “Sini, Mbak, biar 'tak bantu bawa kertas-kertasnya.”

Mbak Maka tak memarih penafian sama sekali ketika selarap karantalaku mulai memindahtangankan kertas-kertas yang tadi didekap Mbak Maka erat-erat. Ia kemudian menggelandang napas panjang.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ada masalah yang lumayan bikin repot di kampus tadi, Nah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mbak capek banget rasanya hari ini.”

Kaki-kaki kecil kami beriringan membawa aku dan kakak perempuanku satu-satunya itu berjalan untuk masuk ke dalam rumah petak kami. Aku mewalakkan kertas-kertas milik Mbak Maka di meja ruang tamu, berdampingan dengan asbak yang juga milik Mbak Maka. Sementara Mbak Maka menghembalang awaknya dengan penuh kelesuan ke sofa reyot sebelah meja.

“Mbak.” “Mau ngudut dulu?” “Mau 'tak belikan rokok dulu ke warung?”

Mbak Maka tidak bisa hidup tanpa rokok. Ngudut adalah satu-satunya pelarian Mbak Maka bila ia tengah dipersendakan semesta. Tapi kali ini, Mbak Maka menggelengkan kapita.

Tawaranku untuk membelikannya rokok di warung ditolak. Sebuah kejadian langka.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nanti malam 'kan Ayah mau ajak kita bicara.” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Mbak enggak mau suara batuk-batuk Mbak mengganggu pembicaraan serius antara kita bertiga.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Batuk-batuk dan ngudutnya, kutunda besok saja.”