II.

Bel pulang sekolah menjadi pelebaya buatku untuk bisa segera merapikan barang-barang di atas dan kolong meja. Di sebelahku, Laut menatapku dengan dua alis yang bertaut.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nah, Manah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ngopo sih, kok kesusu koyok ngono?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Lagi dikejar demit po, kowe ki?”

Kenapa sih, kok buru-buru kayak gini? Lagi dikejar setan kah, kamu ini?

“Enggak, enggak kenapa-kenapa.” “Aku cuma pingin buru-buru pulang, ada urusan sama Ayah.” “Ayo, Ut, anterin aku pulang sekarang.

Padahal Ayah juga pulangnya masih malam nanti, tapi aku betul-betul tak sabar karena sudah dibuat tak tenang seharian ini.

Laut mengganjur napas panjang, nampaknya pasrah dengan kelakuanku. Dia menarik tas selempangnya yang buluk bukan main, sebelum merangkulku untuk berjalan menuju parkiran.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nek ono opo-opo, Nah—” ㅤㅤㅤㅤㅤ“—kowe iso cerito karo aku.”

Kalau ada apa-apa, Nah, kamu bisa cerita sama aku.

Di tengah-tengah langkah gontai kami menuju tempat kuda besi Laut terparkir, dia berkata begitu sambil menatapku.

Aku balik menatapnya, lantas mengembangkan senyuman simpul pada roman. Satu karantalaku terangkat, iseng menjitak keningnya pelan.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Heh, jangkrik!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kok aku malah mbok jitak iki lho?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Aku ngomong serius, lho!”

Mendengar reaksinya, aku tidak bisa tidak tertawa. Laut memang paling seru diajak bercanda.

“Iyoooooo, Laut Buhpala sing paling ngganteng sejagat raya.” “Eh, enggak deng, dudu sing paling ngganteng.” “Paling nggilani, kowe mah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Jangkrik!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Tak pites yo, kowe?!”

Lengan kirinya yang tadi merangkulku, kini dibuat Laut mengerat di bagian leherku.

“Heh, Laut, uhuk!” “Aku ra iso napas, bajigur!”