Tersyiar sebuah berita beranjak usia.

Tersyiar sebuah berita beranjak usia, dijala oleh bantau telanjang tak nampak wujudnya dalam kendang telinga. Diantarnya kepadaku secara nyolong-nyolong, nampaknya tak ikhlas bila tawang dan karib-karibnya menjarah dengar.

Ada suara-suara kudus yang mengilik-ngilik kisik; alai-belai magi menunggal bersama prahara pawana alangkah berisik.

Jemaat zakiah yang membayang melabuh suah. Rapat, rapat, bahkan sejengkal pun nihil ordenya. Aku didekap secara batiniah. Intim, intim, kuputuskan tengka itu tak lain cuma bual belaka.

Aku mendapat desas-desus. Aku dirayu, dirayu terus.

Sabdanya, ada yang tengah berbahagia. Aku memfaal dan mereka-reka, kira-kira siapa?

Apakah itu Kanjeng Ratu Pantai Selatan? Agak-agaknya bukan. Kalau iya, aku pasti diganjur untuk merahap di pinggir laut sekon ini juga, sagu hati hijau-hijau terjajar tumplak di pasir pucat manai.

Ibu? Bapak? Bah, omong kosong! Mereka bahkan tak ingat kapan mereka keluar dari selangkangan ibu mereka, tak peduli kapan mereka bersemenda, dan tak tahu kapan mereka bercinta hingga menelurkanku di atas perahu yang berlenggang timpang. Kalau aku mendera mabuk laut dan mati saat itu juga, besoknya Bapak suah menjadikanku umpan untuk cari udang. Karena aku tak mabuk laut, mereka malah menyamakanku dengan penyakit anjing gila.

Aku berkisut, mengerut. Lantas siapa? Siapa yang tengah berbahagia? Siapa yang tengah beranjak usia? Siapa?

Entitas yang entah apa itu kembali mendekapku secara batiniah, dersik sakinah lajak saja berpadu dengan sirah darah. Merabas, merabas. Merembah, merembah.

Suara agung sekonyong-konyong mengilhami hingga aku tersadar.

Aku telah terilhami. Aku telah diilhami.

Yang paling laksmi paras dan hati dari kami, yang paling laksmi paras dan hati dari kami. Berbahagialah, Mayang Nti. Berbahagialah, Mayang Nti.

Ragaku terbius untuk berajojing di sembir pantai, tak menghirau kaki-kaki kurus yang menggeligis tersimbur keling air pasang. Aku jatuh terkulai, jatuh terkulai. Namun bibirku tak mogok berdoa, berdoa untuk yang tengah berbahagia. Aku memang badung separuh tak beragama. Namun untung kali ini, aku berhajat Tuhan betulan ada.

Yang paling laksmi paras dan hati dari kami, yang paling laksmi paras dan hati dari kami. Berbahagialah, Mayang Nti. Berbahagialah, Mayang Nti.

Aku memohon kukila berkenan membawa doaku hingga berlabuh di dekapanmu, Mayang. Hari ini, adalah hari perayaanmu. Berdansalah di gaunmu dengan bintang, mandilah bersimbah pendar alkamar nanti malam. Buatlah semua orang terlalai, tergenggam dalam jari-jemarimu yang panjang. Sebab kau pantas, kau jombang.

Berbahagialah, sayang.

Mayang yang tersayang, dari Lauh Ranggit, ditulis di kamar sempit ukuran 3x3.