Geranyam

Bahtera Lengkawa, 2000.

Bahtera, jantung hati kedua. Adalah Bahtera, yang menyelamatkan Manah dari lubang hitam berkabung atas kepergian seorang Sabrang Dermaga yang tiba-tiba.

Bahtera lahir setahun sebelum Manah, membuatnya otomatis jadi lebih tua. Namun Manah tidak pernah menyapa Bahtera dengan sapaan formal kak atau mas, sama seperti kepada Sabrang.

Tak jauh beda dengan sahabat karibnya, Bahtera juga lahir dari keluarga kaya. Hidup enak sedari kecil bukanlah bualan semata baginya. Dengan uang di tangan kiri dan kuasa di tangan kanan, Bahtera hidup bersisian.

Sejak kecil, Sabrang dan Bahtera sudah bersahabat dekat. Berawal dari teman main di taman komplek, berlanjut jadi sahabat karib yang sekolahnya selalu sama. Kau yang mengira mereka akan berpisah sewaktu kuliah, nyatanya salah. Bahtera dan Sabrang kembali bernaung di bawah almamater yang sama, kali ini di bawah nama Universitas Gadjah Mada. Meski, mereka berada di jurusan dan fakultas yang berbeda.

Bahtera menaruh suka pada Manah sejak pertama menjumpa wajahnya di hadapan pusara Sabrang. Berkuliah di satu kampus yang sama membuatnya menjadi kepalang lengket dengan Manah, meskipun berasal dari fakultas yang berbeda.

Bahtera adalah sosok yang sanggup menyembuhkan luka Manah selepas kepergian Sabrang. Kalau dulu Sabrang yang rutin memboncengnya dengan motor merah menterengnya ke mana-mana, posisi itu kini digantikan oleh sahabatnya, Bahtera. Sabrang dan Bahtera begitu banyak miliki kesamaan, bahkan merek dan jenis motornya pun sama. Hanya saja, milik Bahtera warnanya hitam jelaga.

Manah dan Bahtera satu sama lain menghembalang rasa yang sama, namun dibumbui banyak tanda tanya. Pula keduanya punya keinginan untuk melapih hubungan lebih dari teman, tapi seperti ada yang menahan di balik badan. Sayang alangkah sayang, lagi-lagj ada paldu tanwujud di antara mereka yang membatasi. Manah masih belum sepenuhnya melupakan Sabrang. Dia pun lagi-lagi berpikir kurang pantas, sebab dia dan Bahtera tak berada di satu tingkat kekayaan yang sama. Sementara Bahtera berpikir bila dia mencintai Manah, itu sama saja seperti mengkhianati Sabrang, sahabatnya sendiri.

Hingga nanti masa kuliah mereka selesai atau hingga mereka tak lagi bersemuka, masih belum juga ada kata cinta.

Mentari Juwita, 2005.

Mentari, adik satu-satunya Sabrang Dermaga. Perempuan jangkung yang tutur katanya semanis parasnya ini adalah murid Manah di les privat Matematika.

Dekat dengan Sabrang otomatis membuat Manah dekat pula dengan adiknya. Memiliki banyak kesamaan, Manah dan Mentari merasa mereka adalah teman yang cocok untuk satu sama lain. Terutama, kesukaan bermain biola yang menyatukan mereka.

Mentari memiliki rasa sayang yang amat sangat kepada sang kakak. Mengetahui Sabrang memiliki penyakit yang bersemayam dalam awaknya sedari kecil, Mentari selalu berusaha untuk melindungi kakaknya. Ketika Sabrang akhirnya meninggal dunia, Mentari tidak menangis di depan jasad kakaknya yang terbujur kaku. Mentari lega, sekarang Sabrang tidak perlu lagi merasa kesakitan di dunia.

Sabrang Dermaga, 2000—2020.

Sabrang, jantung hati pertama. Setelah sekian lama Manah tidak merasakan dag-dig-dug fuad jua kupu-kupu yang terbang mengelilingi perutnya, Sabrang tiba mengembalikan semua rasa nostalgia jatuh cinta yang nyaris kedaluwarsa.

Sabrang lahir setahun sebelum Manah, membuatnya otomatis jadi lebih tua. Namun Manah tidak pernah menyapa Sabrang dengan sapaan formal kak atau mas, karena memang Sabrang sendiri yang meminta untuk disapa hanya dengan nama.

Lahir dari keluarga kaya, membuat Sabrang sejak kecil hidup serba berkecukupan tak kekurangan. Ditambah memiliki orangtua dan satu adik perempuan yang pengertian, hidup Sabrang rasanya sempurna sudah.

Hanya ada satu hal yang membancang kesempurnaan hidup Sabrang: asma. Tumbuh sejak cilik bersama asma membuat Sabrang berkarib dengan sesak dan sakit kepala. Buruknya Sabrang, dia tidak pernah mau orang lain tahu perihal lemahnya, pula paling ogah menerima iba. Oleh karenanya, hanya sedikit yang tahu-menahu perihal penyakitnya.

Sabrang menaruh suka pada Manah sejak pertama menjumpa wajahnya di hari pertama Manah mengajar adiknya, Mentari. Berkuliah di satu kampus yang sama membuatnya menjadi kepalang lengket dengan Manah, meskipun berasal dari fakultas yang berbeda.

Sabrang adalah orang pertama yang mendengar cerita ihwal biola kesayangan Manah yang terpaksa dijual sebab keluarganya butuh biaya——ketika dia tak sengaja mendapati Manah meminjam biola milik Mentari dan memainkan satu lagu klasik. Sabrang selalu suka dengan permainan biola Manah. Dia merasakan ketenangan yang amat sangat ketika mendengar permainannya. Di 2019, tepat pada hari ulang tahun Manah, Sabrang menghadiahkan biola baru. Sabrang bilang, dia tak ingin Manah berhenti bermain biola.

Manah dan Sabrang satu sama lain menghembalang rasa yang sama. Pula keduanya punya keinginan untuk melapih hubungan lebih dari teman. Sayang alangkah sayang, ada paldu tanwujud di antara mereka yang membatasi. Manah yang berpikir dia kurang pantas sebab dia dan Sabrang tak berada di satu tingkat kekayaan yang sama, dan Sabrang yang berpikir dia takut akan menghancurkan nama persahabatan di antara mereka.

Hingga Sabrang dijemput hayat karena penyakitnya di September 2020, tidak ada sama sekali kata cinta yang terucap di antaranya dan Manah.

Ramaprana Astrajingga, 2001.

Ramaprana, atau yang akrab disapa Rama, adalah teman satu jurusan, sekaligus teman UKM band, juga kepala divisi tempat di mana Manah bernaung. Divisi Sigma, namanya, singkatan dari Sosial dan Pengembangan Masyarakat.

Persis seperti Manah, Rama juga menghabiskan waktunya sejak lahir di Kota Pelajar. Sedari SMP, Rama sudah aktif berurusan dengan organisasi. Di SMP dan SMA Rama menjabat sebagai ketua OSIS. Hal inilah yang membuatnya dipercaya menjadi kepala salah satu divisi di himpunan. Dalam HIMASTA alias Himpunan Mahasiswa Statistika, sebenarnya istilah yang digunakan adalah Koordinator 1 dan Koordinator 2, jadi otomatis tidak ada yang namanya ketua dan wakil. Tapi karena Rama—sebagai Koordinator 1—memang lebih pandai dalam urusan memimpin dan lebih 'terlihat' sebagai seorang pemimpin, jadilah Manah—Koordinator 2—menyebutnya sebagai ketua atau kepala.

Dibanding teman kampusnya yang lain, Manah paling banyak menghabiskan waktu bersama Rama. Bahkan lebih banyak dari Bahtera. Bagaimana tidak? Sudah sejurusan, satu divisi, satu UKM pula. Sama-sama jurusan Statistika, sama-sama Divisi Sigma, pun sama-sama anggota Gamaband. Nyaris setiap hari di kampus Manah dan Rama bersemuka.

Rama adalah pribadi yang disiplin dalam urusan organisasi. Melihat bahwa dia adalah orang yang tegas dan perfeksionis, Rama kurang bisa menolerir kesalahan. Oleh karenanya, Manah yang selalu jadi sasaran. Sebagai wakil, Manah hampir setiap hari menerima ceramah dadakan dari kepala divisinya yang satu ini. Padahal yang melakukan kesalahan adalah anggota, tapi yang kena tetap saja Lir Manah Sangara. Saking kesalnya, Manah suka mengatai Rama dengan julukan Si Muka Batu, kadang-kadang diimbuhi dengan bisik, “Hatinya juga enggak kalah batu!”.

Biar pun terkadang Rama ini kejam, tetapi dia juga punya sisi baik hati. Setiap kali ada rapat baik pagi, siang, atau bahkan malam-malam, Rama selalu rela mengantar pulang Manah ke rumah. Baiknya lagi, dia tidak pernah meminta upah. Uang bensin, uang rokok, uang makan, apalah itu——kau bisa sebutkan semua. Tetapi Rama tak pernah meminta.

Meskipun kesan yang didapat orang ketika pertama melihatnya adalah galak dan pendiam, nyatanya Ramaprana tidak seperti itu. Dia suka berkelakar, meski lelucon yang dikeluarkannya seringkali tidak lucu. Dia juga suka menebar senyum, mesti saking tipis senyumannya itu tidak terlihat seperti senyuman. Yang jelas, jauh di lubuk hatinya, dia adalah pribadi yang menyenangkan. Hanya di luar urusan organisasi, tapi.

Rahasiakan yang satu ini dari Lir Manah, tapi Ramaprana sebetulnya menaruh rasa padanya.

Yang melepas kepergian aku dan Sabrang adalah Mentari. Dengan pakaian tidurnya dia berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan dengan mungkum sarat kekariban yang tak kunjung luntur dari roman.

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kak Sabrang, udah pakai jaket dobel, 'kan?” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ini sudah malam, angin di luar pasti dingin.”

Sabrang tidak memberi respons dalam bentuk kalimat, tapi ia mengacungkan ibu jari.

Pakai jaket dobel, apa Sabrang sebetulnya sedang demam, ya?

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Naik ke motorku, Nah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ayo, keburu kamu dicariin ayahmu.”

Aku lajak saja naik ke jok motor Sabrang. Yang mengesalkan, motor Sabrang ini motor besar! Motor gede, bahasa kerennya. Aku biasanya paling enggan dibonceng pakai motor jenis semacam ini, sebab joknya tinggi sekali! Selain karena tinggi badanku yang pendek, aku juga 'kan masih pakai rok sekolah! Untungnya aku selalu pakai celana panjang di bawah rok seragamku.

Hari ini aku tengah mujur, aku bisa naik ke boncengan tanpa banyak kesusahan dan tanpa harus mempermalukan diri di depan Mentari dan Sabrang. Sepertinya Tuhan sedang malas bermain-main dengan takdirku.

Brmmmmm!

Gandaran mentereng Sabrang dengan gagah melesat membelah kesunyian adimarga komplek mewah tempat di mana hunian Sabrang berada. Sejauh mata memandang yang bisa kudapat cuma rumah-rumah besar dengan banyak kaca dan gerbang maha megah, disertai pos sekuriti di tiap-tiap unitnya. Gila, ini sih memang dunia lain! Aku jadi takut-takut Sabrang jadi berpikir tidak-tidak tentangku setelah melihat area di mana rumahku berada.

“Kamu hafal jalan ke arah rumahku, 'tah, Brang?” “Kok kamu kayaknya santai betul!

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Hafal, Manah!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kotagede wis khatam tenan aku!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Percaya, enggak?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Aku nih sudah mengunjungi tiap-tiap sudut Jogja!”

Dengan intensitas angin yang bukan main-main, kami berusaha menyambung percakapan. Meski harus mengeluarkan tenaga ekstra karena mesti berteriak, kuakui ini sungguh menyenangkan.

Dengan topik-topik yang asal dicomot——seasal ketika tadi Sabrang mencomot kukis cokelat dari kabinet——kami terus membelah malam Kota Pelajar. Sesekali ada tawa geli yang menyelinap, sebab sekali-dua Sabrang melontar kelakar.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mentari itu ya, Nah, kalau lagi naksir cowok—” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Beh, garangnya langsung hilang semua!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Langsung jadi malu-malu kucing!”

“Hus, Sabrang!” “Kamu nih, enggak boleh gitu sama adikmu sendiri!” “Ya wajar kalau malu, aku kalau lagi naksir cowok juga pasti begitu!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Yah, berarti sama aku enggak naksir, Nah?” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kok enggak malu-malu kucing?”

“Mau 'tak tabok ya kamu, Brang?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“HAHAHAHAHA, AKU BERCANDA 'TOK, MANAH!”

Konversasi ngawur penuh bumbu lelucon itu akhirnya membawaku hingga sampai di rumah. Dari awal motor Sabrang memasuki jalan menyempit wilayah rumahku, aku sudah gigit bibir——antisipasi kalau-kalau Sabrang mau mengeluarkan unek-unek tentang lingkungan tempatku bermukim. Tapi rupanya tidak, Sabrang tidak mengeluh tentang apa-apa. Dia masih kelihatan santai seperti biasa.

Deru motor gede yang bising akhirnya terhenti ketika rumah petakku berada di hadirat mata. Aku lekas saja turun dari boncengan, tak mau membuat Sabrang berlama-lama.

“Brang, terima kasih banyak sudah antar aku sampai rumah, ya!” “Maaf sudah merepotkan kamu, buat kamu keluar malam-malam.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Santai aja, Manah, 'kan tadi aku sendiri yang nawarin ke kamu?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Santai aja kalau sama aku mah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ini aku langsung pulang, ya?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Takut kena omel Mentari.”

Aku memasang senyum lebar, lantas mengangguk. Sabrang kembali memakai helmnya, kemudian menghidupkan mesin kuda besinya.

“Eh, Brang, sebentar!” “Kamu tuh ... lagi demam, ya, jadi pakai jaket dobel segala?”

Mendengar pertanyaanku, Sabrang malah tertawa lebar. Seperti sewaktu di kamar Mentari tadi, hanya saja suaranya agak lebih pelan, mungkin dia takut mengganggu tetangga rumahku.

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Enggak, Manah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Aku enggak demam, aku sehat.” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Aku enggak kenapa-kenapa, enggak usah khawatir, sayang.” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Pamit, ya?” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Dah, salam buat Ayah!”

Sampai deru motor Sabrang memelan dan sosoknya tak lagi nampak oleh manikam, aku masih belum menjawab salam. Aku masih berdiri di sana sampai lima menit berikutnya dengan dua pipi yang merona berma.

Apa tadi katanya? Sayang? Dasar cowok sinting!

LIR.

Lir artinya seperti atau bagaikan. Ini diambil dari bahasa Indonesia klasik.

MANAH.

Manah artinya hati, kalbu, nurani, atau ati. Ini diambil dari bahasa Jawa, dari referensi Dasanama.

SANGARA.

Sangara artinya air atau banyu. Lagi-lagi ini diambil dari bahasa Jawa, dari Dasanama untuk elemen dasar alam.


Jika disambung, ketiganya akan berbunyi: seperti nurani air. Apa maknanya? Maknanya adalah doa dari orangtua kepada si pemilik nama, agar dia menjadi pribadi dengan sifat yang bersih dan jernih——sebagaimana nurani sebuah air. Karena air itu bening, air di sini menjadi personifikasi dari kebersihan dan kejernihan.

Dalam perspektif lain, bisa juga menjadi: bagaikan hatinya adalah air. Maksudnya, si pemilik nama punya hati yang tenang dan menyejukkan seperti air.

Halo, kamu yang baru berkunjung ke laman milik Lir Manah Sangara! Saya ucapkan selamat datang.

Pertama-tama, perkenalkan, saya adalah 𝖬𝖠𝖣𝖴𝖪𝖠𝖱𝖠, insan yang bertanggungjawab atas segala yang berkaitan dengan si anak manis, Manah.

Hadirnya saya di sini, untuk memberi beberapa informasi yang sekiranya penting, sebelum kamu memutuskan untuk memencet tombol follow di akun DAULATMATI.

Manah ini karakter yang seperti apa, sih?

Karakter Manah ini digambarkan sebagai sosok gadis pintar yang cinta bermain biola, asli Yogyakarta. Manah ini berasal dari kalangan ekonomi kurang mampu, tapi selalu berusaha untuk membantu ayahnya untuk menghidupi keluarga.

Kira-kira, konten akun ini membahas tentang apa saja?

Apa-apa yang akan saya tulis nantinya akan mengandung bahasan kesenjangan antara si kaya dan si miskin, keluarga yang tidak lengkap (tanpa ibu), penyimpangan norma, dan masalah-masalah sosial lain. Pun, enggak menutup kemungkinan akan terdapat adegan kekerasan dan pemaksaan yang muncul. Tapi, saya tidak akan menghadirkan adegan seksual di sini. Jadi, sebelum yakin untuk menekan tombol follow, mohon pastikan kalian enggak terganggu dengan konten yang nantinya akan saya munculkan di sini, ya. Tolong pahami dengan baik-baik.

Apa kamu keberatan kalau saya unfollow gara-gara saya enggak sreg dengan konten kamu?

Tentu saja tidak keberatan! Dua rius, enggak keberatan sama sekali. Siapapun bebas untuk menentukan follow atau unfollow akun ini. Tetapi, mohon jangan block atau report, ya, teman-teman? Nanti akunnya sakit, lho.

Apa Manah menggunakan setting dunia tanpa pandemi?

Seratus! Yang ini enggak perlu dijelaskan lagi, alasannya jelas biar bisa lebih mudah menulis plotnya.

Di mana Manah menetap?

Yogyakarta. Manah digambarkan tinggal di Yogyakarta, tepatnya di Kotagede.

Apakah ada karakter krusial di cerita Manah?

Ada beberapa, yaitu: Ayah dan Mbak Maka, Sabrang dan Bahtera, Laut dan Wening, Mentari, serta Rama.

Apakah Manah terbuka untuk relasi dan plot?

Tentu saja! Asal, bisa nyambung dengan kisahnya si Manah. Kalau sekiranya ada tawaran relasi atau ajakan plot, sila hampiri saya di DM, ya.

Bagaimana soal penyaduran dan plagiarisme?

Saya menentang keras segala wujud perbuatan yang bersifat menjiplak konten karakter saya. Bilamana terinspirasi, itu lain lagi. Mohon bedakan dengan baik.

Bagaimana cara menyampaikan kritik dan saran kepada 𝖬𝖠𝖣𝖴𝖪𝖠𝖱𝖠?

Kalian bisa ketuk DM untuk masalah ini! Saya sangat terbuka untuk kritik dan saran, dan saya akan rela membenahi apabila ada yang salah. Hanya saja, saya enggak akan menerima kritik dan saran apapun yang enggak diberikan lewat DM. Apalagi kalau lewat curiouscat lalu pakai fitur anonim. Maaf, saya enggak akan respons.

Apa ada hal lain yang mau disampaikan?

Ada! Saya tidak selektif perihal berteman (atau ber-mutual), hanya saja, saya selektif soal relasi. Bukan apa-apa, hal ini saya lakukan demi pengembangan karakter Manah. Jadi, saya enggak akan selalu menerima tawaran relasi.

Lalu, saya ini manusia yang juga punya kehidupan pribadi di dunia nyata. Saya pun punya kesibukan sendiri yang enggak bisa dipungkiri. Jadi, saya mohon maaf apabila saya lelet sekali dalam membalas plot! Sebab saya berpikir, kalau saya paksa membalas plot di waktu sempit dan suasana hati enggak enak, plot itu nantinya akan jadi kelihatan enggak niat dan pendek. Hal ini berlaku juga untuk interaksi (seperti mention dan DM).

Nah, saya sudah terlalu banyak cuap-cuap, sepertinya. Beberapa peraturan lain mengenai apa-apa yang ada di akun DAULATMATI, akan saya jatuhkan berupa twit di bawah laman ini, ya. Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai akhir. Semoga harimu baik selalu!

Har Satmaka Arinya, 1996.

Mbak Maka, nilakandi paling jelita buat Manah. Bagi si Nona Sangara, Mbak Maka adalah orang yang menduduki posisi kedua setelah Ayah di daftar manusia yang dia sayangi dan kasihi. Mbak Maka adalah sosok pengganti presensi Ibu.

Mbak Maka lahir setahun setelah pernikahan Ayah dan Ibu. Hidup di keluarga yang tidak berkecukupan sedikit banyak memengaruhi pribadi Mbak Maka. Terbiasa melakukan apa-apa sendiri, Mbak Maka tumbuh menjadi perempuan yang tabah dan independen.

Mbak Maka jarang menangis, sebab punya gengsi yang lumayan tinggi dan beranggapan bahwa dia tidak mau terlihat lemah di depan orang lain. Satu kali dia tak kuat menahan air matanya adalah ketika dia gagal masuk ke Universitas Gadjah Mada, seperti apa yang diimpikan ayahnya. Mbak Maka punya pendirian yang kuat dan tidak takut melawan apapun yang menurutnya salah. Dibanding Ayah, Mbak Maka lebih cocok disebut sebagai tameng keluarga.

Mbak Maka berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Lulus sebagai salah satu lulusan terbaik dengan nilai memuaskan di tahun dua ribu delapan belas, Mbak Maka kemudian bekerja sebagai guru PPKN honorer di dua SMA negeri di Yogyakarta.

Hingga kini, Mbak Maka masih memperjuangkan kariernya agar bisa segera berstatus sebagai guru tetap.

Sampai sekarang, Mbak Maka belum tertarik dengan urusan percintaan. Agaknya sedikit takut menjalin hubungan setelah melihat pernikahan Ayah dan Ibu yang kandas di tengah jalan. Saat ini, Mbak Maka hanya memprioritaskan keluarga sebagai pusat perhatian utamanya.

Mbak Maka adalah sosok yang paling bersemangat mendukung Ayah untuk membuka usaha. Setelah Ayah betul-betul membuka warung, Mbak Maka rajin membantu dikala senggangnya. Pun, dia dengan gencar mempromosikan warung milik sang Ayah kepada kawan-kawan dan kenalannya.

Selalu berbagi kasur berdua sejak kecil sampai sekarang, Mbak Maka adalah segalanya bagi Manah.

Riris Sitaresmi, 1975.

Ibu, persona yang paling ingin dilupa buat Manah. Bagi si Nona Sangara, Ibu adalah orang jahat yang tega mengkhianati Ayah. Dulu, ia memandang Ibu sebagai wanita paling mengesankan sejagat raya. Sekarang, Ibu cuma tak lebih dianggap sebagai penghancur keluarganya yang dulu indah oleh Manah.

Ibu datang dari desa yang sama dengan Ayah. Sama-sama merantau ke kota, orangtuanya dan orangtua Ayah beranggapan bahwa adalah ide yang bagus sekali bila mereka dipersatukan. Tak ada rasa cinta, tak ada rasa sayang. Ibu akhirnya menikah dengan Ayah.

Setelah menikah, Ibu tidak punya pekerjaan apa-apa. Ibu rumah tangga, singkatnya. Meski sekali dua Ibu bekerja, ketika ada panggilan untuk membantu masak atau mencuci, oleh tetangga.

Ibu menyimpan satu rahasia besar dari suami dan dua putrinya sejak lama. Setelah sepuluh tahun menikah dengan Ayah, Ibu mulai berhubungan dengan mantan kekasihnya sewaktu SMA. Lelaki itu jauh lebih mapan kalau dibandingkan dengan suaminya, dan punya kehidupan yang menurutnya lebih baik.

Ibu memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Ayah sebab ingin menikah dengan laki-laki yang dia cinta. Dia meninggalkan dua putrinya tanpa penjelasan apa-apa, begitu saja melenggang keluar dari rumah petak keluarga kecilnya untuk selamanya. Perpisahan sepihak tanpa kata inilah yang mencipta benci di hati dua putrinya, yang merasa begitu murka ditinggal dan dikhianati seenaknya.

Setelah itu, Manah tak lagi pernah melihat Ibu. Bahkan kalau bisa, dia tidak mau kembali melihat wajahnya, sebab cuma bisa melukiskan kembali luka lama.

Suta Jaladri, 1975.

Ayah, mestika paling indah buat Manah. Bagi si Nona Sangara, Ayah adalah orang yang menduduki posisi pertama di daftar manusia yang dia sayangi dan kasihi. Baginya, di dunia tiada lagi yang lebih berharga mengalahi Ayah.

Hidup Ayah sedari kecil tidak pernah mudah, bahkan sampai ketika dirinya sudah menikah. Terlebih lagi, menikahnya dengan orang yang belum ia cintai, akibat pinta dari orang tua. Ayah menikah pada umur dua puluh——menikah muda setelah terpaksa berhenti kuliah di Universitas Gadjah Mada karena kendala biaya. Sebagai anak sulung di keluarga, Ayah memutuskan untuk mengalah demi adik-adiknya.

Setelah menikah, Ayah sempat bekerja serabutan. Lapangan kerja yang terbatas untuk seorang tamatan SMA yang jadi masalah. Ujung-ujungnya, Ayah memutuskan untuk bekerja jadi kurir, demi menghidupi istri dan adik-adiknya.

Setelah empat belas tahun, pernikahan Ayah kandas di tahun dua ribu sembilan karena sang istri memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Ayah terpuruk, kala itu merasa gagal jadi sosok suami dan bapak yang baik.

Ayah kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai kurir sebab Ayah masih bertanggungjawab nafkah atas dua putrinya. Hak asuh anak jatuh ke Ayah, dan dua putrinya pun enggan untuk ikut dengan Ibu.

Tahun dua ribu lima belas, Ayah berhenti bekerja sebagai kurir karena sakit yang membatasinya untuk banyak bepergian ke mana-mana. Akhirnya, dengan sisa uang yang ada Ayah membangun usaha——warung gudeg kaki lima, sekali dua dibantu adiknya dan dua putrinya dalam berjualan.

Ada satu hal yang selalu Ayah tekankan untuk dua putrinya. Ayah tidak akan mau dua putri kesayangannya putus sekolah. Ayah mau keduanya terus belajar sampai lulus kuliah. Sebagai mantan mahasiswa Kampus Biru yang dipaksa oleh takdir untuk berhenti, Ayah punya mimpi agar kedua putrinya, atau salah satunya saja, bisa berkuliah di sana.

Mimpi Ayah berhasil diwujudkan putri bungsunya, Manah.