RAMA.

Ramaprana Astrajingga, 2001.

Ramaprana, atau yang akrab disapa Rama, adalah teman satu jurusan, sekaligus teman UKM band, juga kepala divisi tempat di mana Manah bernaung. Divisi Sigma, namanya, singkatan dari Sosial dan Pengembangan Masyarakat.

Persis seperti Manah, Rama juga menghabiskan waktunya sejak lahir di Kota Pelajar. Sedari SMP, Rama sudah aktif berurusan dengan organisasi. Di SMP dan SMA Rama menjabat sebagai ketua OSIS. Hal inilah yang membuatnya dipercaya menjadi kepala salah satu divisi di himpunan. Dalam HIMASTA alias Himpunan Mahasiswa Statistika, sebenarnya istilah yang digunakan adalah Koordinator 1 dan Koordinator 2, jadi otomatis tidak ada yang namanya ketua dan wakil. Tapi karena Rama—sebagai Koordinator 1—memang lebih pandai dalam urusan memimpin dan lebih 'terlihat' sebagai seorang pemimpin, jadilah Manah—Koordinator 2—menyebutnya sebagai ketua atau kepala.

Dibanding teman kampusnya yang lain, Manah paling banyak menghabiskan waktu bersama Rama. Bahkan lebih banyak dari Bahtera. Bagaimana tidak? Sudah sejurusan, satu divisi, satu UKM pula. Sama-sama jurusan Statistika, sama-sama Divisi Sigma, pun sama-sama anggota Gamaband. Nyaris setiap hari di kampus Manah dan Rama bersemuka.

Rama adalah pribadi yang disiplin dalam urusan organisasi. Melihat bahwa dia adalah orang yang tegas dan perfeksionis, Rama kurang bisa menolerir kesalahan. Oleh karenanya, Manah yang selalu jadi sasaran. Sebagai wakil, Manah hampir setiap hari menerima ceramah dadakan dari kepala divisinya yang satu ini. Padahal yang melakukan kesalahan adalah anggota, tapi yang kena tetap saja Lir Manah Sangara. Saking kesalnya, Manah suka mengatai Rama dengan julukan Si Muka Batu, kadang-kadang diimbuhi dengan bisik, “Hatinya juga enggak kalah batu!”.

Biar pun terkadang Rama ini kejam, tetapi dia juga punya sisi baik hati. Setiap kali ada rapat baik pagi, siang, atau bahkan malam-malam, Rama selalu rela mengantar pulang Manah ke rumah. Baiknya lagi, dia tidak pernah meminta upah. Uang bensin, uang rokok, uang makan, apalah itu——kau bisa sebutkan semua. Tetapi Rama tak pernah meminta.

Meskipun kesan yang didapat orang ketika pertama melihatnya adalah galak dan pendiam, nyatanya Ramaprana tidak seperti itu. Dia suka berkelakar, meski lelucon yang dikeluarkannya seringkali tidak lucu. Dia juga suka menebar senyum, mesti saking tipis senyumannya itu tidak terlihat seperti senyuman. Yang jelas, jauh di lubuk hatinya, dia adalah pribadi yang menyenangkan. Hanya di luar urusan organisasi, tapi.

Rahasiakan yang satu ini dari Lir Manah, tapi Ramaprana sebetulnya menaruh rasa padanya.