IV.
Yang melepas kepergian aku dan Sabrang adalah Mentari. Dengan pakaian tidurnya dia berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan dengan mungkum sarat kekariban yang tak kunjung luntur dari roman.
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kak Sabrang, udah pakai jaket dobel, 'kan?” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ini sudah malam, angin di luar pasti dingin.”
Sabrang tidak memberi respons dalam bentuk kalimat, tapi ia mengacungkan ibu jari.
Pakai jaket dobel, apa Sabrang sebetulnya sedang demam, ya?
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Naik ke motorku, Nah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ayo, keburu kamu dicariin ayahmu.”
Aku lajak saja naik ke jok motor Sabrang. Yang mengesalkan, motor Sabrang ini motor besar! Motor gede, bahasa kerennya. Aku biasanya paling enggan dibonceng pakai motor jenis semacam ini, sebab joknya tinggi sekali! Selain karena tinggi badanku yang pendek, aku juga 'kan masih pakai rok sekolah! Untungnya aku selalu pakai celana panjang di bawah rok seragamku.
Hari ini aku tengah mujur, aku bisa naik ke boncengan tanpa banyak kesusahan dan tanpa harus mempermalukan diri di depan Mentari dan Sabrang. Sepertinya Tuhan sedang malas bermain-main dengan takdirku.
Brmmmmm!
Gandaran mentereng Sabrang dengan gagah melesat membelah kesunyian adimarga komplek mewah tempat di mana hunian Sabrang berada. Sejauh mata memandang yang bisa kudapat cuma rumah-rumah besar dengan banyak kaca dan gerbang maha megah, disertai pos sekuriti di tiap-tiap unitnya. Gila, ini sih memang dunia lain! Aku jadi takut-takut Sabrang jadi berpikir tidak-tidak tentangku setelah melihat area di mana rumahku berada.
“Kamu hafal jalan ke arah rumahku, 'tah, Brang?” “Kok kamu kayaknya santai betul!“
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Hafal, Manah!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kotagede wis khatam tenan aku!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Percaya, enggak?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Aku nih sudah mengunjungi tiap-tiap sudut Jogja!”
Dengan intensitas angin yang bukan main-main, kami berusaha menyambung percakapan. Meski harus mengeluarkan tenaga ekstra karena mesti berteriak, kuakui ini sungguh menyenangkan.
Dengan topik-topik yang asal dicomot——seasal ketika tadi Sabrang mencomot kukis cokelat dari kabinet——kami terus membelah malam Kota Pelajar. Sesekali ada tawa geli yang menyelinap, sebab sekali-dua Sabrang melontar kelakar.
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mentari itu ya, Nah, kalau lagi naksir cowok—” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Beh, garangnya langsung hilang semua!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Langsung jadi malu-malu kucing!”
“Hus, Sabrang!” “Kamu nih, enggak boleh gitu sama adikmu sendiri!” “Ya wajar kalau malu, aku kalau lagi naksir cowok juga pasti begitu!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Yah, berarti sama aku enggak naksir, Nah?” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kok enggak malu-malu kucing?”
“Mau 'tak tabok ya kamu, Brang?”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“HAHAHAHAHA, AKU BERCANDA 'TOK, MANAH!”
Konversasi ngawur penuh bumbu lelucon itu akhirnya membawaku hingga sampai di rumah. Dari awal motor Sabrang memasuki jalan menyempit wilayah rumahku, aku sudah gigit bibir——antisipasi kalau-kalau Sabrang mau mengeluarkan unek-unek tentang lingkungan tempatku bermukim. Tapi rupanya tidak, Sabrang tidak mengeluh tentang apa-apa. Dia masih kelihatan santai seperti biasa.
Deru motor gede yang bising akhirnya terhenti ketika rumah petakku berada di hadirat mata. Aku lekas saja turun dari boncengan, tak mau membuat Sabrang berlama-lama.
“Brang, terima kasih banyak sudah antar aku sampai rumah, ya!” “Maaf sudah merepotkan kamu, buat kamu keluar malam-malam.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Santai aja, Manah, 'kan tadi aku sendiri yang nawarin ke kamu?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Santai aja kalau sama aku mah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ini aku langsung pulang, ya?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Takut kena omel Mentari.”
Aku memasang senyum lebar, lantas mengangguk. Sabrang kembali memakai helmnya, kemudian menghidupkan mesin kuda besinya.
“Eh, Brang, sebentar!” “Kamu tuh ... lagi demam, ya, jadi pakai jaket dobel segala?”
Mendengar pertanyaanku, Sabrang malah tertawa lebar. Seperti sewaktu di kamar Mentari tadi, hanya saja suaranya agak lebih pelan, mungkin dia takut mengganggu tetangga rumahku.
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Enggak, Manah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Aku enggak demam, aku sehat.” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Aku enggak kenapa-kenapa, enggak usah khawatir, sayang.” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Pamit, ya?” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Dah, salam buat Ayah!”
Sampai deru motor Sabrang memelan dan sosoknya tak lagi nampak oleh manikam, aku masih belum menjawab salam. Aku masih berdiri di sana sampai lima menit berikutnya dengan dua pipi yang merona berma.
Apa tadi katanya? Sayang? Dasar cowok sinting!