Selebrasi memestakan kehilangan.

Waktu aku masih lugu, aku paling benci dengan yang namanya kehilangan. Harus tiba-tiba melepas apa yang biasanya ketang mesra digenggam, rasanya seperti kecolongan seperdua nyawa. Gering, lara. Padahal jagat rat tak kiamat besok, tapi aku rasanya malah kian dan kian terambau rubuh terperosok.
Saat sudah mampu berasumsi itu ini dan berdiri di atas pagan kaki sendiri, aku punya perasaan yang jauh berbeda lagi. Kehilangan rasanya sudah persis seperti dongan, begitu intim, ambang pula dempang di samping badan. Saking acap bersua, aku sudah bisa berdamai dengan kehilangan dan apa yang disisakannya. Bahkan kini, aku bukan lagi menyambut ketibaannya dengan kusut muka dan gobar hati. Aku sambut kehilangan dengan selebrasi.
Aku menyebutnya, selebrasi memestakan kehilangan.
Dengan secangkir kopi tahlil di seliri warung kecil pinggir jalan Kota Pelajar pukul satu pagi, aku berpesta dengan diri sendiri. Sukmaku berajojing bersimbah semarak alkamar yang segan-segan menyuruk di antara legiun awan pucat kesi. Ragaku masih anteng menyesap likuid lotong jelaga di cangkir kaca, tapi ruhku suah maherat tanpa suara lintang-pukang ke tengah jalan lantas berdansa dengan khusyuknya.
Aku bisa melihatnya. Di tengah dansanya yang cendayam ada air mata. Tapi mungkum sarat gempita tak kunjung reras dari kapita, pelebaya bahwa dansa masih akan terus berlanjut entah sampai pukul berapa.
Ragaku masih anteng kaku, dengan kopi tahlil yang sejumput demi sejumput mulai berkurang. Sebandung manikam tak kunjung beralih dari dansa ruhku di tengah jalan, padahal sebuah sedan sirah mewah baru saja melintas tepat di mana ia berdansa.
Tapi ia tak mati, di tanah ini ia tak akan pernah mati.
Lengan meliuk, aku rindu. Kaki berkinja-kinja, aku lelah ditinggalkan. Kapita berpusing, aku sebenarnya terluka.
Hingga pada pukul lima, ketika surya dengan jantan mulai mempertontonkan kirana, entitas gaib itu seman ditelan angin pagi yang menusuk raga. Pertunjukan dansa ruh subuh suah gentas. Selebrasi memestakan kehilangan jangkap tuntas.
Mungkin yang kali ini, sampai di sini saja. Kopi tahlilku sudah tandas tak bersisa.
