II.

Senyap, tenang, lengang. Untuk beberapa saat, kamar Mentari tak lagi diisi oleh sahut-sahutan berisik antar kakak-beradik yang sama-sama tinggi itu. Aku yang enggan mengancaikan keheningan pun mengatup tetal belah biraiku.

Tidak tahunya lima menit kemudian, Sabrang yang pertama membuka suara.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Manah, Manah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mau tanya.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Masuk kuota SNMPTN enggak, kamu?”

Sebandung manikam jelagaku serta-merta terarah pada si pemuda yang rupanya juga tengah menatapku.

“Masuk, Sabrang.” “Kenapa memangnya?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Enggak, enggak papa.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Semoga keterima di UGM, ya, Manah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Biar bisa bareng, aku sama kamu.”

Sabrang berkata begitu dengan senyum semanis gula derawa. Rona berma lekaslah saja menjalar di pipiku. Aku dibuatnya tersipu, sedikit.

“Amin.” “Makasih doanya, Sabrang.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Enggak masalah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kalau betulan keterima 'kan enak.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kalau mau ngajar Mentari, balik dari kampusnya sekalian aja sama aku.”

Mukaku makin mirip tomat mendengarnya. Mentari mendengus.

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kebiasaan jelek, deh, Kak Sabrang.” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Tiap mau ngedeketin orang pasti pakai namaku buat alibi.” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Enggak keren banget.”

Gelak Sabrang menggelegar di langit-langit kamar.