Apa yang kamu cari setelah mati?

Aku mau mati, aku sering sekali mengeja kalimat itu di dalam hati. Setiap kali hidupku terasa pelik sedikit karena Tuhan sedang dalam suasana hati iseng sehingga Dia mau mengajakku berlawak-lawakan, aku selalu mau mati. Tapi sebenarnya, kenapa aku mau mati? Selama ini, aku mengilhami tujuanku mati sebagai pencarian ketenangan yang abadi. Bukankah kalau kita mati, kita sudah tidak perlu lagi bermakrifat soal hidup dan tetek bengeknya yang membuat kita loya sendiri?
Tapi lama kelamaan, aku berpikir lagi. Apa jikalau aku mati, aku betul-betul mendapat tenang yang abadi, seperti apa yang kudamba tadi? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku setelah aku praktis mati, karena aku bukan kawan karib Tuhan hingga bisa menguping rencana-Nya yang dilontar dengan bisik-bisik syahdu di simposium kudus bersama jemaat malaikat. Aku tidak seberiman itu hingga bisa tahu apa yang akan terjadi dengan atmaku setelah napasku telah terhenti dan jasmani kian bangkar sampai akhirnya mengendur sendiri dan memucat pasi.
Apa yang aku cari setelah mati?
Nyatanya, aku juga tidak tahu apa yang aku cari. Mungkin, mungkin——keinginanku untuk mati itu cuma omong kosong di sela-sela nidera jam tiga pagi. Mungkin, mungkin——mantik dan mindaku tengah hampa hingga aku tanpa sadar mereta-reta.
Mungkin, mungkin——aku belum benar-benar mau mati, musabab aku belum tahu apa yang kucari setelah mati.