I.

Lima detik selepas aku melantangkan salam, pintu agam berbahan jati di depanku terbuka lebar.

Yang membuka adalah Sabrang, dengan penampilan kasual khas anak rumahan.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Eh, Manah!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Langsung ke sini dari sekolah?”

Satu sudut biraiku naik, menempa senyum simpul pada roman.

“Iya, Sabrang.” “Mentari-nya ada?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mentari udah nunggu kamu, tuh, di ruang tengah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ayo, kuantar?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nanti belajarnya di kamar Tari, tapi kita samperin Tari dulu.”

Pastilah orang berpikir, betapa berlebihan masuk ke ruang tengah saja harus diantar. Andai saja mereka tahu sebesar apa rumah Sabrang. Aku bersyukur Sabrang menawarkan diri untuk mengantar, sebab jika tidak aku bisa-bisa berakhir di kamar mandi bukannya ruang tengah.

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kak Manah!” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Aku ada PR yang enggak ngerti, mau minta bantu Kak Manah.”

“Boleeeh, Tari!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kak Sabrang, hus!” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Pergi, aku mau belajar sama Kak Manah!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Tar, Kakak 'kan mau ikut kamu belajar!” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Jahat bener sama Kakak sendiri.”