Geranyam

Suta Jaladri, 1975.

Ayah, mestika paling indah buat Manah. Bagi si Nona Sangara, Ayah adalah orang yang menduduki posisi pertama di daftar manusia yang dia sayangi dan kasihi. Baginya, di dunia tiada lagi yang lebih berharga mengalahi Ayah.

Hidup Ayah sedari kecil tidak pernah mudah, bahkan sampai ketika dirinya sudah menikah. Terlebih lagi, menikahnya dengan orang yang belum ia cintai, akibat pinta dari orang tua. Ayah menikah pada umur dua puluh——menikah muda setelah terpaksa berhenti kuliah di Universitas Gadjah Mada karena kendala biaya. Sebagai anak sulung di keluarga, Ayah memutuskan untuk mengalah demi adik-adiknya.

Setelah menikah, Ayah sempat bekerja serabutan. Lapangan kerja yang terbatas untuk seorang tamatan SMA yang jadi masalah. Ujung-ujungnya, Ayah memutuskan untuk bekerja jadi kurir, demi menghidupi istri dan adik-adiknya.

Setelah empat belas tahun, pernikahan Ayah kandas di tahun dua ribu sembilan karena sang istri memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Ayah terpuruk, kala itu merasa gagal jadi sosok suami dan bapak yang baik.

Ayah kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai kurir sebab Ayah masih bertanggungjawab nafkah atas dua putrinya. Hak asuh anak jatuh ke Ayah, dan dua putrinya pun enggan untuk ikut dengan Ibu.

Tahun dua ribu lima belas, Ayah berhenti bekerja sebagai kurir karena sakit yang membatasinya untuk banyak bepergian ke mana-mana. Akhirnya, dengan sisa uang yang ada Ayah membangun usaha——warung gudeg kaki lima, sekali dua dibantu adiknya dan dua putrinya dalam berjualan.

Ada satu hal yang selalu Ayah tekankan untuk dua putrinya. Ayah tidak akan mau dua putri kesayangannya putus sekolah. Ayah mau keduanya terus belajar sampai lulus kuliah. Sebagai mantan mahasiswa Kampus Biru yang dipaksa oleh takdir untuk berhenti, Ayah punya mimpi agar kedua putrinya, atau salah satunya saja, bisa berkuliah di sana.

Mimpi Ayah berhasil diwujudkan putri bungsunya, Manah.

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Satmaka, Manah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Apa anak-anak Ayah punya waktu senggang nanti malam?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ayah mau ajak anak-anak Ayah bicara sebentar.”


Kalau ditanya siapa laki-laki yang paling kukagumi pribadinya, jawabanku pasti Ayah.

Seringkali aku membayangkan, bagaimana jadinya kalau aku bukan anak Ayah? Bagaimana kalau aku lahir di keluarga lain dengan sosok bapak bukan seperti Ayah? Rasanya hidupku pasti menderita bukan main, secara buatku Ayah adalah bapak paling baik di dunia.


ㅤㅤㅤㅤㅤ “Satmaka senggang, kok, Yah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Manah juga senggang, ya 'kan, Adek?”

“Iya, Yah.”

“Manah senggang.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kalau begitu nanti malam tunggu Ayah di ruang tamu, ya?”


Setelah mengatakan itu, Ayah melangkahkan kaki keluar untuk berangkat kerja. Aku masih menatapnya seiring punggungnya yang makin menjauh bersama suara deru motor yang makin memelan.

Mbak Maka menepuk pundakku.


ㅤㅤㅤㅤㅤ “Adek, mikirin apa?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kok ngelihatin Ayah segitunya?”

“Enggak, Mbak Maka.”

“Enggak mikirin apa-apa.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Yo wis, yuk kita berangkat sekarang ke sekolah?”


Aku merasa ada yang berbeda dengan Ayah hari itu.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kalian lama sekali di atas?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Habis ngapain saja, sih, anak-anak Mama?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ”'Ndak enak ini lho Mama sama Nak Manah, nunggu kalian kelamaan.”


Satu laki-laki dan satu perempuan. Kalau dari tebakanku, sepertinya yang perempuan lah yang lebih muda. Kemungkinan besar dia adalah calon anak yang akan aku tutori Matematika.


ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nak Manah, perkenalkan.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Yang perempuan adalah anak bungsu Ibu.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Namanya Mentari, biasa dipanggil Tari.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Yang waktu itu sempat Ibu bilang lemah Matematika, adalah Tari ini, Nak Manah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Jadi nanti, Nak Manah akan mengajari Tari.”


Cantik dan murah senyum adalah impresi pertama yang kudapat setelah melihat paras Mentari——atau Tari. Dengan senyum lebarnya dia berinisiatif mengulurkan tangan, bermaksud untuk menawarkan jabat denganku. Aku dengan senang hati menerimanya, dengan senyum yang sama lebarnya.


“Salam kenal, Tari!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Salam kenal juga, Kak Manah!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ah, aku enggak sabar mau diajar sama Kak Manah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kak Manah, semoga tahan ngajarin aku yang alergi sama angka ini, ya!”


Ah, aku juga baru sadar kalau Tari ini tinggi sekali. Jarak kepalanya tidak jauh dengan si laki-laki di sebelahnya. Dia lebih muda dariku, tapi tingginya sudah beberapa senti di atasku. Cocok kalau nanti mau jadi model atau pramugari, pikirku asal.


ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nah, kalau yang laki-laki ini adalah anak sulung Ibu, Nak Manah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Dia memang 'ndak Ibu minta untuk kamu tutori, sih, cuma Ibu ingin mengenalkan dia saja sama kamu.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Dia lebih tua setahun dari kamu, Nak Manah.”


Laki-laki itu tersenyum. Aku juga balas tersenyum, tapi dengan sedikit bingung. Bu Lia tadi mengenalkan Tari dengan cara menyebutkan namanya secara langsung, tapi kenapa sekarang tidak melakukan hal yang sama untuk anak sulungnya?

Kali ini aku yang berinisiatif mengulurkan tangan untuk tawaran jabat.


“Manah, Lir Manah.”

“Salam kenal, Kak?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Senang bertemu sama kamu, Manah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Sabrang Dermaga, alias Sabrang.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ngomong-ngomong, langsung panggil namaku aja, Man, enggak usah pakai kak.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Toh, kita cuma beda setahun, 'kan?”


Alah, Gusti. Sudah lama juga tidak merasakan cinta pada obrolan pertama.

LIR.

Lir artinya seperti atau bagaikan. Ini diambil dari bahasa Indonesia klasik.

MANAH.

Manah artinya hati, kalbu, nurani, atau ati. Ini diambil dari bahasa Jawa, dari referensi Dasanama.

SANGARA.

Sangara artinya air atau banyu. Lagi-lagi ini diambil dari bahasa Jawa, dari Dasanama untuk elemen dasar alam.


Jika disambung, ketiganya akan berbunyi: seperti nurani air. Apa maknanya? Maknanya adalah doa dari orangtua kepada si pemilik nama, agar dia menjadi pribadi dengan sifat yang bersih dan jernih——sebagaimana nurani sebuah air. Karena air itu bening, air di sini menjadi personifikasi dari kebersihan dan kejernihan.

Dalam perspektif lain, bisa juga menjadi: bagaikan hatinya adalah air. Maksudnya, si pemilik nama punya hati yang tenang dan menyejukkan seperti air.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Wanita gila!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Apa dia enggak berpikir kalau dia meninggalkan dua anak perempuan yang masih butuh perhatiannya?!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Wanita gila!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Memang dia pikir dengan bercerai akan menyelesaikan semuanya?”


Aku kecil bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah membuat Mbak Maka marah.

Mbak Maka kala murka bukan lagi Mbak Maka yang lembut dan sopan tutur katanya. Mbak Maka yang murka adalah konkretisasi dari mimpi buruk yang jadi nyata.

Bahkan Ayah cuma bisa diam. Ayah tidak bisa meredam kemurkaan putri sulungnya.


ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ayah, aku tahu Ibu pernah bercakap dengan seorang laki-laki lewat ponselnya.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Tapi awalnya, aku kira dia cuma teman biasa Ibu, Ayah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ayah, maafin Satmaka sudah enggak cerita soal ini sejak lama pada Ayah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ayah boleh marahin Satmaka sepuasnya, sesuka hati Ayah.”


Tetapi Ayah tidak pernah marah. Ayah adalah malaikat yang turun dari indraloka. Ayah punya hati dan minda yang kepalang nirmala.

Bahkan ketika Ayah tahu dia pantas sekali untuk marah, Ayah tidak pernah marah.


ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ayah, Satmaka izin bermalam di luar dulu untuk malam ini.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Adek, Manahnya Mbak Maka yang paling manis——”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Malam ini ... dongengnya enggak ada dulu, ya?”


Malam itu adalah tidur terburukku seumur hidup, sampai rasanya aku berharap agar Tuhan membuat tidurku amerta, agar esok aku tak perlu membuka mata untuk bersemuka dengan fakta bahwa keluargaku kini ancai binasa.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Halo, Cah Ayu.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kamu Lir Manah, 'kan, yang tadi diumumkan jadi juara satu lomba Matematika?”


Waduh, waduh, waduh!

Bukannya langsung menjawab, aku malah mengerjapkan sebandung manikamku; bingung. Sepertinya, aku harus mulai melatih refleksku dalam memberi respons pada ucapan orang, soalnya kemampuanku dalam hal ini payah sekali.


“A——ah, iya, betul, Bu!”

“Saya Lir Manah, Manah saja gampangnya, Bu.”

“Ada apa, ya, kalau boleh tahu?”


Ibu itu sebetulnya ramah sekali. Akunya saja yang berlebihan. Seperti orang linglung! Padahal boleh jadi ibu ini cuma mau berkenalan.

Eh, tapi buat apa juga meminta berkenalan dengan anak SMA biasa sepertiku, ya?


ㅤㅤㅤㅤㅤ“Begini, Nak Manah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ibu ini punya anak, sekolahnya di sini, masih SMP kelas tujuh.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Anak Ibu ini paling enggak bisa sama yang namanya Matematika.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nak Manah, kalau Ibu meminta kamu menjadi tutor buat anak Ibu, apa kamu mau?”


Jder!

Enggak, itu bukan petir di langit betulan. Itu cuma petir siang bolong yang refleks muncul di otakku ketika mendengar tawaran si Ibu.

Selama ini, aku selalu ingin membantu Ayah. Kondisi keuangan keluarga yang tidak stabil yang jadi alasanku. Tapi jarang sekali lowongan kerja yang mau menerima anak yang belum lulus SMA.

Aku rasa, ini adalah kesempatan emas buatku. Pokoknya, aku harus membantu Ayah biar Ayah bisa makan enak!


“Dengan senang hati, Ibu!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Alhamdulillah kalau begitu, Nak!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ibu senang sekali!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mau cari tempat duduk dulu, Nak Manah?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Biar bisa kita bicarakan lebih lanjut.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nah, masa ndak bisa?”

“Apa, Bu?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Itu, lho, lomba Matematika.”

“Ibuuuu, Manah mau belajar buat UTBK.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Masih lama, 'tooo?”


Bu Ita, ampun, deh. Aku dikejar-kejar melulu! Sudah kayak maling saja. 'Kan, murid yang pintar Matematika ada banyak?! Kenapa pula aku yang jadi kambing hitam?


ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nah, ayo dong, Nak.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mau, ya?”

“Ibuuuuuuu!”


Dapat kabar dari anak kelas sebelah, katanya aku jadi omongan. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Bu Ita? Kata anak kelas sebelah, Bu Ita curhat soal aku yang kekeh enggak mau ikut lomba Matematika.

Aduuuuh, Bu Ita! Aku dijadikan bahan gibah.


ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nak Manah, ayolah!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Nanti Ibu traktir bubur ayam seminggu, gimana?”

“Iya, iya, Bu Ita!”

“Manah nyerah, deh, menolak.”

“Lombanya tanggal berapa, Bu Ita?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nah, ini baru Manah anak kesayangan Ibu!”


Harga diriku cuma seharga traktiran bubur ayam seminggu.

Halo, kamu yang baru berkunjung ke laman milik Lir Manah Sangara! Saya ucapkan selamat datang.

Pertama-tama, perkenalkan, saya adalah 𝖬𝖠𝖣𝖴𝖪𝖠𝖱𝖠, insan yang bertanggungjawab atas segala yang berkaitan dengan si anak manis, Manah.

Hadirnya saya di sini, untuk memberi beberapa informasi yang sekiranya penting, sebelum kamu memutuskan untuk memencet tombol follow di akun DAULATMATI.

Manah ini karakter yang seperti apa, sih?

Karakter Manah ini digambarkan sebagai sosok gadis pintar yang cinta bermain biola, asli Yogyakarta. Manah ini berasal dari kalangan ekonomi kurang mampu, tapi selalu berusaha untuk membantu ayahnya untuk menghidupi keluarga.

Kira-kira, konten akun ini membahas tentang apa saja?

Apa-apa yang akan saya tulis nantinya akan mengandung bahasan kesenjangan antara si kaya dan si miskin, keluarga yang tidak lengkap (tanpa ibu), penyimpangan norma, dan masalah-masalah sosial lain. Pun, enggak menutup kemungkinan akan terdapat adegan kekerasan dan pemaksaan yang muncul. Tapi, saya tidak akan menghadirkan adegan seksual di sini. Jadi, sebelum yakin untuk menekan tombol follow, mohon pastikan kalian enggak terganggu dengan konten yang nantinya akan saya munculkan di sini, ya. Tolong pahami dengan baik-baik.

Apa kamu keberatan kalau saya unfollow gara-gara saya enggak sreg dengan konten kamu?

Tentu saja tidak keberatan! Dua rius, enggak keberatan sama sekali. Siapapun bebas untuk menentukan follow atau unfollow akun ini. Tetapi, mohon jangan block atau report, ya, teman-teman? Nanti akunnya sakit, lho.

Apa Manah menggunakan setting dunia tanpa pandemi?

Seratus! Yang ini enggak perlu dijelaskan lagi, alasannya jelas biar bisa lebih mudah menulis plotnya.

Di mana Manah menetap?

Yogyakarta. Manah digambarkan tinggal di Yogyakarta, tepatnya di Kotagede.

Apakah ada karakter krusial di cerita Manah?

Ada beberapa, yaitu: Sabrang, Bahtera, Laut, dan Wening. Karakter Ayah dan kakaknya Manah (Mbak Maka) juga akan lumayan banyak mengambil peran, hanya saja tidak terlalu banyak diceritakan detailnya.

Apakah Manah terbuka untuk relasi dan plot?

Tentu saja! Asal, bisa nyambung dengan kisahnya si Manah. Kalau sekiranya ada tawaran relasi atau ajakan plot, sila hampiri saya di DM, ya.

Bagaimana soal penyaduran dan plagiarisme?

Saya menentang keras segala wujud perbuatan yang bersifat menjiplak konten karakter saya. Bilamana terinspirasi, itu lain lagi. Mohon bedakan dengan baik.

Bagaimana cara menyampaikan kritik dan saran kepada 𝖬𝖠𝖣𝖴𝖪𝖠𝖱𝖠?

Kalian bisa ketuk DM untuk masalah ini! Saya sangat terbuka untuk kritik dan saran, dan saya akan rela membenahi apabila ada yang salah. Hanya saja, saya enggak akan menerima kritik dan saran apapun yang enggak diberikan lewat DM. Apalagi kalau lewat curiouscat lalu pakai fitur anonim. Maaf, saya enggak akan respons.

Apa ada hal lain yang mau disampaikan?

Ada! Saya tidak selektif perihal berteman (atau ber-mutual), hanya saja, saya selektif soal relasi. Bukan apa-apa, hal ini saya lakukan demi pengembangan karakter Manah. Jadi, saya enggak akan selalu menerima tawaran relasi.

Lalu, saya ini manusia yang juga punya kehidupan pribadi di dunia nyata. Saya pun punya kesibukan sendiri yang enggak bisa dipungkiri. Jadi, saya mohon maaf apabila saya lelet sekali dalam membalas plot! Sebab saya berpikir, kalau saya paksa membalas plot di waktu sempit dan suasana hati enggak enak, plot itu nantinya akan jadi kelihatan enggak niat dan pendek. Hal ini berlaku juga untuk interaksi (seperti mention dan DM).

Nah, saya sudah terlalu banyak cuap-cuap, sepertinya. Beberapa peraturan lain mengenai apa-apa yang ada di akun DAULATMATI, akan saya jatuhkan berupa twit di bawah laman ini, ya. Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai akhir. Semoga harimu baik selalu!

“Yah, kenapa?” “Ayah kok di rumah?” “Ayah enggak kerja?” “Ayah kenapa enggak jemput aku, kalau begitu?”


Ayah tidak menjawab pertanyaanku.

Ada suatu getir samar-samar yang kutangkap dari durja Ayah. Biasanya, dua obsidiannya yang cerlang jelaga selalu memancarkan pijar kasih dan kama.

Namun kali ini, aku tidak mendapatinya. Pijar itu redup sempurna.


“Pak Warjo, mau masuk dulu?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ealah, ndak usah, Ayahnya Manah!” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Saya cuma mau antar Manah, kok.”

“Terima kasih banyak, ya, Pak Warjo, sudah mengantar putri saya.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ndak masalah, Ayahnya Manah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kalau begitu, saya izin pamit, nggih?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Manah, Bapak pergi dulu, ya.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”


Deru motor Pak Warjo yang perlahan mengecil membuat keadaan di antara aku dan Ayah menjadi hening. Aku tertegun, sebenarnya ada apa?


ㅤㅤㅤㅤㅤ“Manah, maafin Ayah, ya.”

“Kenapa, Ayah?” “Kenapa Ayah minta maaf?” “Ayah habis berbuat apa?”


Lagi-lagi pertanyaanku dibuat menggantung di udara.

Tapi kali ini, setunggal yad Ayah menarik lembut lenganku——membimbingku untuk masuk bersamanya ke dalam rumah.

Yang menyambutku adalah ruang tamu merangkap ruang keluarga yang lengang.


“Yah, Ibu ke mana?”

Pertama-tama, mengenai karakter. Lir Manah Sangara, anak Jogja yang datang dari keluarga enggak punya, ekonomi rendah. Waktu kelas 3 SD, Ibunya pergi buat menikah dengan orang lain. Dia jadi tinggal bertiga bersama ayah dan satu kakaknya. Enam tahun sejak ditinggal istrinya, alias waktu Manah kelas 9 SMP, ayahnya jadi sakit-sakitan dan enggak bisa terlalu banyak berpergian. Beliau yang tadinya bekerja jadi kurir, akhirnya berhenti dan memutuskan untuk bangun warung gudeg kaki lima dengan sisa uang yang dia punya. Untuk membantu ekonomi keluarga, Manah melakoni pekerjaan apa saja yang bisa dia lakukan. Mulai dari menawarkan jasa untuk jadi tutor pelajaran kepada teman-temannya, membantu di toko orang, dan lain-lain.

Di universum ini ada beberapa karakter: Manah, Sabrang, Bahtera, Laut, dan Wening. Saya kesampingkan Laut dan Wening dulu sebab mereka enggak ada hubungan romansa dengan Manah. Laut cuma kawan baik Manah sejak kecil yang punya ekonomi setara, Wening adik kelas SMA anaknya Pak Lurah yang dekat sama Manah.

Sabrang Dermaga, anak orang kaya. Kelahiran 2000, satu tahun lebih tua dari Manah. Kenal Manah gara-gara Manah bekerja jadi guru privat adiknya. Pendek cerita, keduanya jadi dekat dan lama-lama saling suka. Tapi enggak pernah mengungkapkan apalagi jadian, terhalang status kekayaan.

Manah sejak kecil suka bermain biola, berbekal biola peninggalan neneknya. Tapi biola itu terpaksa dijual ketika ayahnya baru membuka warung, karena butuh biaya. Suatu hari, ketika sedang berada di rumah Sabrang setelah selesai mengajar adiknya, Manah melihat biola milik si adik lalu memainkannya setelah lama sekali enggak main biola. Sabrang takjub sama permainannya, baru tahu kalau Manah bisa main biola. Anak itu nantinya menghadiahkan satu biola baru waktu ulang tahun Manah di 2019.

Sabrang meninggal September 2020 karena asma. “Penyakit orang kaya”, kalau kata Laut.

Manah yang berkabung akhirnya datang berkali-kali ke pemakaman Sabrang. Suatu hari, di sana dia ketemu sama Bahtera Lengkawa alias Bahtera, yang ternyata merupakan sahabat karibnya Sabrang yang sekolahnya enggak pernah berpisah dari kecil. Karena sama-sama kehilangan orang yang spesial buat mereka, Manah dan Bahtera berbagi kesedihan yang sama. Dari sana mereka jadi berteman dekat dan sering bertemu. Lama-lama, Bahtera menaruh rasa sama Manah, tapi dihantui rasa takut mengkhianati mendiang sahabatnya yang suka dengan Manah. Sementara Manah, dia merasa nyaman dengan Bahtera dan mau membuka hati, tapi dia masih terngiang-ngiang tentang Sabrang, juga tentang status ekonomi dia dan Bahtera yang lagi-lagi jauh berbeda.

Jadi inti yang mau dikembangkan romansanya adalah antara Manah dan Bahtera, di sini. Soalnya Sabrang 'kan sudah mati, ya, he he. Kurang lebihnya begitu. Nanti mungkin akan banyak menulis tentang Sabrang juga, makanya Sabrang ini saya pikir lebih baik NPC biar enak digimana-gimanakan baik dari sisi cerita Manah atau Bahtera. Kurang lebihnya begitu.