II.
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Halo, Cah Ayu.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kamu Lir Manah, 'kan, yang tadi diumumkan jadi juara satu lomba Matematika?”
Waduh, waduh, waduh!
Bukannya langsung menjawab, aku malah mengerjapkan sebandung manikamku; bingung. Sepertinya, aku harus mulai melatih refleksku dalam memberi respons pada ucapan orang, soalnya kemampuanku dalam hal ini payah sekali.
“A——ah, iya, betul, Bu!”
“Saya Lir Manah, Manah saja gampangnya, Bu.”
“Ada apa, ya, kalau boleh tahu?”
Ibu itu sebetulnya ramah sekali. Akunya saja yang berlebihan. Seperti orang linglung! Padahal boleh jadi ibu ini cuma mau berkenalan.
Eh, tapi buat apa juga meminta berkenalan dengan anak SMA biasa sepertiku, ya?
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Begini, Nak Manah.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ibu ini punya anak, sekolahnya di sini, masih SMP kelas tujuh.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Anak Ibu ini paling enggak bisa sama yang namanya Matematika.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nak Manah, kalau Ibu meminta kamu menjadi tutor buat anak Ibu, apa kamu mau?”
Jder!
Enggak, itu bukan petir di langit betulan. Itu cuma petir siang bolong yang refleks muncul di otakku ketika mendengar tawaran si Ibu.
Selama ini, aku selalu ingin membantu Ayah. Kondisi keuangan keluarga yang tidak stabil yang jadi alasanku. Tapi jarang sekali lowongan kerja yang mau menerima anak yang belum lulus SMA.
Aku rasa, ini adalah kesempatan emas buatku. Pokoknya, aku harus membantu Ayah biar Ayah bisa makan enak!
“Dengan senang hati, Ibu!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Alhamdulillah kalau begitu, Nak!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ibu senang sekali!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mau cari tempat duduk dulu, Nak Manah?”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Biar bisa kita bicarakan lebih lanjut.”