SEKILAS.

Pertama-tama, mengenai karakter. Lir Manah Sangara, anak Jogja yang datang dari keluarga enggak punya, ekonomi rendah. Waktu kelas 3 SD, Ibunya pergi buat menikah dengan orang lain. Dia jadi tinggal bertiga bersama ayah dan satu kakaknya. Enam tahun sejak ditinggal istrinya, alias waktu Manah kelas 9 SMP, ayahnya jadi sakit-sakitan dan enggak bisa terlalu banyak berpergian. Beliau yang tadinya bekerja jadi kurir, akhirnya berhenti dan memutuskan untuk bangun warung gudeg kaki lima dengan sisa uang yang dia punya. Untuk membantu ekonomi keluarga, Manah melakoni pekerjaan apa saja yang bisa dia lakukan. Mulai dari menawarkan jasa untuk jadi tutor pelajaran kepada teman-temannya, membantu di toko orang, dan lain-lain.

Di universum ini ada beberapa karakter: Manah, Sabrang, Bahtera, Laut, dan Wening. Saya kesampingkan Laut dan Wening dulu sebab mereka enggak ada hubungan romansa dengan Manah. Laut cuma kawan baik Manah sejak kecil yang punya ekonomi setara, Wening adik kelas SMA anaknya Pak Lurah yang dekat sama Manah.

Sabrang Dermaga, anak orang kaya. Kelahiran 2000, satu tahun lebih tua dari Manah. Kenal Manah gara-gara Manah bekerja jadi guru privat adiknya. Pendek cerita, keduanya jadi dekat dan lama-lama saling suka. Tapi enggak pernah mengungkapkan apalagi jadian, terhalang status kekayaan.

Manah sejak kecil suka bermain biola, berbekal biola peninggalan neneknya. Tapi biola itu terpaksa dijual ketika ayahnya baru membuka warung, karena butuh biaya. Suatu hari, ketika sedang berada di rumah Sabrang setelah selesai mengajar adiknya, Manah melihat biola milik si adik lalu memainkannya setelah lama sekali enggak main biola. Sabrang takjub sama permainannya, baru tahu kalau Manah bisa main biola. Anak itu nantinya menghadiahkan satu biola baru waktu ulang tahun Manah di 2019.

Sabrang meninggal September 2020 karena asma. “Penyakit orang kaya”, kalau kata Laut.

Manah yang berkabung akhirnya datang berkali-kali ke pemakaman Sabrang. Suatu hari, di sana dia ketemu sama Bahtera Lengkawa alias Bahtera, yang ternyata merupakan sahabat karibnya Sabrang yang sekolahnya enggak pernah berpisah dari kecil. Karena sama-sama kehilangan orang yang spesial buat mereka, Manah dan Bahtera berbagi kesedihan yang sama. Dari sana mereka jadi berteman dekat dan sering bertemu. Lama-lama, Bahtera menaruh rasa sama Manah, tapi dihantui rasa takut mengkhianati mendiang sahabatnya yang suka dengan Manah. Sementara Manah, dia merasa nyaman dengan Bahtera dan mau membuka hati, tapi dia masih terngiang-ngiang tentang Sabrang, juga tentang status ekonomi dia dan Bahtera yang lagi-lagi jauh berbeda.

Jadi inti yang mau dikembangkan romansanya adalah antara Manah dan Bahtera, di sini. Soalnya Sabrang 'kan sudah mati, ya, he he. Kurang lebihnya begitu. Nanti mungkin akan banyak menulis tentang Sabrang juga, makanya Sabrang ini saya pikir lebih baik NPC biar enak digimana-gimanakan baik dari sisi cerita Manah atau Bahtera. Kurang lebihnya begitu.