II.
“Yah, kenapa?” “Ayah kok di rumah?” “Ayah enggak kerja?” “Ayah kenapa enggak jemput aku, kalau begitu?”
Ayah tidak menjawab pertanyaanku.
Ada suatu getir samar-samar yang kutangkap dari durja Ayah. Biasanya, dua obsidiannya yang cerlang jelaga selalu memancarkan pijar kasih dan kama.
Namun kali ini, aku tidak mendapatinya. Pijar itu redup sempurna.
“Pak Warjo, mau masuk dulu?”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ealah, ndak usah, Ayahnya Manah!” ㅤㅤㅤㅤㅤ “Saya cuma mau antar Manah, kok.”
“Terima kasih banyak, ya, Pak Warjo, sudah mengantar putri saya.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ndak masalah, Ayahnya Manah.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kalau begitu, saya izin pamit, nggih?” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Manah, Bapak pergi dulu, ya.” ㅤㅤㅤㅤㅤ“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Deru motor Pak Warjo yang perlahan mengecil membuat keadaan di antara aku dan Ayah menjadi hening. Aku tertegun, sebenarnya ada apa?
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Manah, maafin Ayah, ya.”
“Kenapa, Ayah?” “Kenapa Ayah minta maaf?” “Ayah habis berbuat apa?”
Lagi-lagi pertanyaanku dibuat menggantung di udara.
Tapi kali ini, setunggal yad Ayah menarik lembut lenganku——membimbingku untuk masuk bersamanya ke dalam rumah.
Yang menyambutku adalah ruang tamu merangkap ruang keluarga yang lengang.
“Yah, Ibu ke mana?”