I.

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nah, masa ndak bisa?”

“Apa, Bu?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Itu, lho, lomba Matematika.”

“Ibuuuu, Manah mau belajar buat UTBK.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Masih lama, 'tooo?”


Bu Ita, ampun, deh. Aku dikejar-kejar melulu! Sudah kayak maling saja. 'Kan, murid yang pintar Matematika ada banyak?! Kenapa pula aku yang jadi kambing hitam?


ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nah, ayo dong, Nak.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mau, ya?”

“Ibuuuuuuu!”


Dapat kabar dari anak kelas sebelah, katanya aku jadi omongan. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Bu Ita? Kata anak kelas sebelah, Bu Ita curhat soal aku yang kekeh enggak mau ikut lomba Matematika.

Aduuuuh, Bu Ita! Aku dijadikan bahan gibah.


ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nak Manah, ayolah!”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Nanti Ibu traktir bubur ayam seminggu, gimana?”

“Iya, iya, Bu Ita!”

“Manah nyerah, deh, menolak.”

“Lombanya tanggal berapa, Bu Ita?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nah, ini baru Manah anak kesayangan Ibu!”


Harga diriku cuma seharga traktiran bubur ayam seminggu.