III.
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kalian lama sekali di atas?”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Habis ngapain saja, sih, anak-anak Mama?”
ㅤㅤㅤㅤㅤ”'Ndak enak ini lho Mama sama Nak Manah, nunggu kalian kelamaan.”
Satu laki-laki dan satu perempuan. Kalau dari tebakanku, sepertinya yang perempuan lah yang lebih muda. Kemungkinan besar dia adalah calon anak yang akan aku tutori Matematika.
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nak Manah, perkenalkan.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Yang perempuan adalah anak bungsu Ibu.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Namanya Mentari, biasa dipanggil Tari.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Yang waktu itu sempat Ibu bilang lemah Matematika, adalah Tari ini, Nak Manah.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Jadi nanti, Nak Manah akan mengajari Tari.”
Cantik dan murah senyum adalah impresi pertama yang kudapat setelah melihat paras Mentari——atau Tari. Dengan senyum lebarnya dia berinisiatif mengulurkan tangan, bermaksud untuk menawarkan jabat denganku. Aku dengan senang hati menerimanya, dengan senyum yang sama lebarnya.
“Salam kenal, Tari!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Salam kenal juga, Kak Manah!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ah, aku enggak sabar mau diajar sama Kak Manah.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kak Manah, semoga tahan ngajarin aku yang alergi sama angka ini, ya!”
Ah, aku juga baru sadar kalau Tari ini tinggi sekali. Jarak kepalanya tidak jauh dengan si laki-laki di sebelahnya. Dia lebih muda dariku, tapi tingginya sudah beberapa senti di atasku. Cocok kalau nanti mau jadi model atau pramugari, pikirku asal.
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Nah, kalau yang laki-laki ini adalah anak sulung Ibu, Nak Manah.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Dia memang 'ndak Ibu minta untuk kamu tutori, sih, cuma Ibu ingin mengenalkan dia saja sama kamu.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Dia lebih tua setahun dari kamu, Nak Manah.”
Laki-laki itu tersenyum. Aku juga balas tersenyum, tapi dengan sedikit bingung. Bu Lia tadi mengenalkan Tari dengan cara menyebutkan namanya secara langsung, tapi kenapa sekarang tidak melakukan hal yang sama untuk anak sulungnya?
Kali ini aku yang berinisiatif mengulurkan tangan untuk tawaran jabat.
“Manah, Lir Manah.”
“Salam kenal, Kak?”
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Senang bertemu sama kamu, Manah.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Sabrang Dermaga, alias Sabrang.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ngomong-ngomong, langsung panggil namaku aja, Man, enggak usah pakai kak.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Toh, kita cuma beda setahun, 'kan?”
Alah, Gusti. Sudah lama juga tidak merasakan cinta pada obrolan pertama.