III.
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Wanita gila!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Apa dia enggak berpikir kalau dia meninggalkan dua anak perempuan yang masih butuh perhatiannya?!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Wanita gila!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Memang dia pikir dengan bercerai akan menyelesaikan semuanya?”
Aku kecil bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah membuat Mbak Maka marah.
Mbak Maka kala murka bukan lagi Mbak Maka yang lembut dan sopan tutur katanya. Mbak Maka yang murka adalah konkretisasi dari mimpi buruk yang jadi nyata.
Bahkan Ayah cuma bisa diam. Ayah tidak bisa meredam kemurkaan putri sulungnya.
ㅤㅤㅤㅤㅤ “Ayah, aku tahu Ibu pernah bercakap dengan seorang laki-laki lewat ponselnya.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Tapi awalnya, aku kira dia cuma teman biasa Ibu, Ayah.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ayah, maafin Satmaka sudah enggak cerita soal ini sejak lama pada Ayah.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ayah boleh marahin Satmaka sepuasnya, sesuka hati Ayah.”
Tetapi Ayah tidak pernah marah. Ayah adalah malaikat yang turun dari indraloka. Ayah punya hati dan minda yang kepalang nirmala.
Bahkan ketika Ayah tahu dia pantas sekali untuk marah, Ayah tidak pernah marah.
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ayah, Satmaka izin bermalam di luar dulu untuk malam ini.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Adek, Manahnya Mbak Maka yang paling manis——”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Malam ini ... dongengnya enggak ada dulu, ya?”
Malam itu adalah tidur terburukku seumur hidup, sampai rasanya aku berharap agar Tuhan membuat tidurku amerta, agar esok aku tak perlu membuka mata untuk bersemuka dengan fakta bahwa keluargaku kini ancai binasa.