Harusnya aku sudah mafhum betul bahwa dunia ini penuh dengan fana dan tipu. Harusnya aku paham bahwa manusia bisa saja memasang berbagai muka dan memilih intonasi tutur mana yang akan dipakai menyesuaikan lawan bicaranya. Harusnya.
Aku bodoh menaruh percaya pada Ibu. Kukira, dia wanita paling cantik paras dan wataknya. Nyatanya, dia jauh dari predikat itu.
“Ayah, Ibu ke mana?”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ibu pergi, Manah, pergi jauh dari rumah.”
“Ayah, semalam Ibu bilang Ibu sayang Manah.”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ibu memang sayang kamu, Manah. Ibu memang sayang kamu.”
“Tapi kenapa Ibu pergi?”
ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ibu cuma sayang Manah, bukan sayang Ayah.”
Ibu tukang bohong. Ibu pembohong paling ulung. Mana realisasi dari janji Ibu untuk temani aku bertumbuh dewasa? Ibu enggak ada bedanya lagi dengan wanita-wanita lain yang kukenal di luar sana. Ibu enggak lagi punya singgasana di hati dan kepala.
Ibu sekarang cuma sekadar tukang bohong yang kubilang enggak pantas pernah bersanding dengan Ayah.
“Kalau Ibu enggak sayang Ayah, Ibu juga enggak sayang Manah.”
TYA.
Sotya Candra Tyamoka, sosok paling santai dalam segala hal kecuali menyangkut pekerjaan. Hal ini menjelaskan bagaimana ia tidak pernah sekalipun berpaling dari sisi Ghita untuk membangun ekskul jurnalistik meskipun mereka tidak sekelas dan belum pernah saling kenal sebelumnya.
Tya tidak punya pengalaman apapun di bidang jurnalistik, pun tidak punya orangtua yang bekerja di bidang tersebut. Tapi dia adalah primadonanya lomba debat, sehingga kemampuan bicara dan berpikirnya tidak perlu diragukan lagi.
Tadinya, Tya hendak mendaftar ke ekstrakurikuler paskibra. Tapi ia tahu sekeras apa senioritas di ekskul tersebut. Sebagai orang yang mengaku berego tinggi, Tya tidak pernah mau direndahkan oleh siapapun. Karena takut malah menyebabkan masalah kalau-kalau nanti dia melawan kakak kelasnya di ekskul paskibra, akhirnya dia batal mendaftar ke sana. Berpikir mungkin akan menemukan teman yang bisa nyambung kalau diajak diskusi, akhirnya dia memutuskan untuk mendaftar ke ekskul jurnalistik.
Tya mendapat jabatan Redaktur Pelaksana, alias redaktur yang memimpin langsung surat kabar dan sebagainya. Di Kabinet Ambara, jabatannya adalah yang kedua tertinggi setelah Pimpinan Redaksi. Oleh karenanya, dia selalu jadi sosok tempat bergantung dan bertanya para anggota. Meskipun wajahnya terlihat jutek dan tidak bersahabat, sebenarnya dia ini suka melawak, lho!
GHITA.
Basaghita Paramusadha, sosok paling berjasa di balik bangkitnya ekstrakurikuler jurnalistik DELAYOTA. Tanpa ada dia, mungkin ekskul ini cuma sekadar tinggal nama. Atau parahnya, benar-benar hilang dan enggak pernah lagi disebutkan.
Sedari kecil, Ghita memang sudah akrab dengan dunia tulis menulis, jurnalisme, dan tetek bengeknya. Ayahnya seorang wartawan, Ibunya seorang pembawa berita kondang. Keduanya menjadikan bidang persuratkabaran sebagai pekerjaan tetap untuk menunjang hidup, membuat Ghita—sebagai anak satu-satunya—khatam dengan bidang yang digeluti keduanya.
Karena ketika ia duduk di bangku SD kelas empat kedua orangtuanya pindah ke Jakarta, Ghita tidak tinggal bersama mereka. Ghita menetap di rumah neneknya, alias ibu dari ibunya. Faktor tersebut sedikit banyak memengaruhi Ghita untuk menjadi pribadi yang mandiri. Guru-guru dan beberapa murid yang tidak mengenalnya dekat mengecap Ghita sebagai perempuan yang ambisius. Padahal faktanya, dia cuma sekadar passionate dan perfeksionis dengan pekerjaannya—sebab sudah kepalang jatuh cinta dengan apa yang digelutinya.
Menjabat sebagai ketua ekskul—nama kerennya Pimpinan Redaksi—Ghita sukses menjaring anak-anak DELAYOTA untuk bergabung ke ekskulnya. Mengandalkan kepintarannya dalam berbicara, ia kini meng-handle 73 orang dalam ekskul jurnalistik, membagi-bagi satu-persatu ke bidang tertentu yang sekiranya cocok dengan masing-masing pribadi.
Basaghita Paramusadha, sosok paling berjasa di balik bangkitnya ekstrakurikuler jurnalistik DELAYOTA. Tanpa ada dia, mungkin ekskul ini cuma sekadar tinggal nama. Atau parahnya, benar-benar hilang dan enggak pernah lagi disebutkan.
Sedari kecil, Ghita memang sudah akrab dengan dunia tulis menulis, jurnalisme, dan tetek bengeknya. Ayahnya seorang wartawan, Ibunya seorang pembawa berita kondang. Keduanya menjadikan bidang persuratkabaran sebagai pekerjaan tetap untuk menunjang hidup, membuat Ghita—sebagai anak satu-satunya—khatam dengan bidang yang digeluti keduanya.
Karena ketika ia duduk di bangku SMP kedua orangtuanya pindah ke Jakarta, Ghita tidak tinggal bersama mereka. Ghita menetap di rumah neneknya, alias ibu dari ibunya. Faktor tersebut sedikit banyak memengaruhi Ghita untuk menjadi pribadi yang mandiri. Guru-guru dan beberapa murid yang tidak mengenalnya dekat mengecap Ghita sebagai perempuan yang ambisius. Padahal faktanya, dia cuma sekadar passionate dan perfeksionis dengan pekerjaannya—sebab sudah kepalang jatuh cinta dengan apa yang digelutinya.