I.

“Ibu sayang Manah?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ibu sayang Manah.”

“Manah sayang Ibu.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Terima kasih sudah sayang Ibu.”


Harusnya aku sudah mafhum betul bahwa dunia ini penuh dengan fana dan tipu. Harusnya aku paham bahwa manusia bisa saja memasang berbagai muka dan memilih intonasi tutur mana yang akan dipakai menyesuaikan lawan bicaranya. Harusnya.

Aku bodoh menaruh percaya pada Ibu. Kukira, dia wanita paling cantik paras dan wataknya. Nyatanya, dia jauh dari predikat itu.


“Ayah, Ibu ke mana?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ibu pergi, Manah, pergi jauh dari rumah.”

“Ayah, semalam Ibu bilang Ibu sayang Manah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ibu memang sayang kamu, Manah. Ibu memang sayang kamu.”

“Tapi kenapa Ibu pergi?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ibu cuma sayang Manah, bukan sayang Ayah.”


Ibu tukang bohong. Ibu pembohong paling ulung. Mana realisasi dari janji Ibu untuk temani aku bertumbuh dewasa? Ibu enggak ada bedanya lagi dengan wanita-wanita lain yang kukenal di luar sana. Ibu enggak lagi punya singgasana di hati dan kepala.

Ibu sekarang cuma sekadar tukang bohong yang kubilang enggak pantas pernah bersanding dengan Ayah.


“Kalau Ibu enggak sayang Ayah, Ibu juga enggak sayang Manah.”