GHITA.
Basaghita Paramusadha, sosok paling berjasa di balik bangkitnya ekstrakurikuler jurnalistik DELAYOTA. Tanpa ada dia, mungkin ekskul ini cuma sekadar tinggal nama. Atau parahnya, benar-benar hilang dan enggak pernah lagi disebutkan.
Sedari kecil, Ghita memang sudah akrab dengan dunia tulis menulis, jurnalisme, dan tetek bengeknya. Ayahnya seorang wartawan, Ibunya seorang pembawa berita kondang. Keduanya menjadikan bidang persuratkabaran sebagai pekerjaan tetap untuk menunjang hidup, membuat Ghita—sebagai anak satu-satunya—khatam dengan bidang yang digeluti keduanya.
Karena ketika ia duduk di bangku SD kelas empat kedua orangtuanya pindah ke Jakarta, Ghita tidak tinggal bersama mereka. Ghita menetap di rumah neneknya, alias ibu dari ibunya. Faktor tersebut sedikit banyak memengaruhi Ghita untuk menjadi pribadi yang mandiri. Guru-guru dan beberapa murid yang tidak mengenalnya dekat mengecap Ghita sebagai perempuan yang ambisius. Padahal faktanya, dia cuma sekadar passionate dan perfeksionis dengan pekerjaannya—sebab sudah kepalang jatuh cinta dengan apa yang digelutinya.
Menjabat sebagai ketua ekskul—nama kerennya Pimpinan Redaksi—Ghita sukses menjaring anak-anak DELAYOTA untuk bergabung ke ekskulnya. Mengandalkan kepintarannya dalam berbicara, ia kini meng-handle 73 orang dalam ekskul jurnalistik, membagi-bagi satu-persatu ke bidang tertentu yang sekiranya cocok dengan masing-masing pribadi.