I.

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Satmaka, Manah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Apa anak-anak Ayah punya waktu senggang nanti malam?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Ayah mau ajak anak-anak Ayah bicara sebentar.”


Kalau ditanya siapa laki-laki yang paling kukagumi pribadinya, jawabanku pasti Ayah.

Seringkali aku membayangkan, bagaimana jadinya kalau aku bukan anak Ayah? Bagaimana kalau aku lahir di keluarga lain dengan sosok bapak bukan seperti Ayah? Rasanya hidupku pasti menderita bukan main, secara buatku Ayah adalah bapak paling baik di dunia.


ㅤㅤㅤㅤㅤ “Satmaka senggang, kok, Yah.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Manah juga senggang, ya 'kan, Adek?”

“Iya, Yah.”

“Manah senggang.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ“Kalau begitu nanti malam tunggu Ayah di ruang tamu, ya?”


Setelah mengatakan itu, Ayah melangkahkan kaki keluar untuk berangkat kerja. Aku masih menatapnya seiring punggungnya yang makin menjauh bersama suara deru motor yang makin memelan.

Mbak Maka menepuk pundakku.


ㅤㅤㅤㅤㅤ “Adek, mikirin apa?”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Kok ngelihatin Ayah segitunya?”

“Enggak, Mbak Maka.”

“Enggak mikirin apa-apa.”

ㅤㅤㅤㅤㅤ “Yo wis, yuk kita berangkat sekarang ke sekolah?”


Aku merasa ada yang berbeda dengan Ayah hari itu.