III.
Minder, adalah satu kata yang terlampau akurat untuk menggambarkan perasaanku ketika duduk bersama keluarga Sabrang di meja makan. Mana ada ayahnya pula, amboi! Betapa malangnya aku ini. Lihatlah, mereka semua duduk dengan pakaian mentereng dan wajah nang berseri-seri. Sedangkan aku——ah, sudahlah. Tak perlu kubahas lagi bagaimana penampilan dan raut durjaku sekarang.
️ㅤㅤㅤㅤㅤ “Nak Manah, apa makanannya enak?” ️ㅤㅤㅤㅤㅤ “Mau nambah, Nak?“ ️ㅤㅤㅤㅤㅤ “Biar Ibu ambilkan.”
Aku lajak saja menggelengkan kapita. Bukan karena masakannya tidak enak, tapi karena aku malu! Pemandangan Bu Lia mengambilkan makanan buatku yang bukan siapa-siapa itu rasanya tidak begitu sedap untuk dilihat, makanya aku menggeleng kuat-kuat.
“Eh, 'ndak usah, Bu, 'ndak usah!” “Masakannya enak sekali, tapi Manah sudah kenyang, Bu.” “Maaf.”
Aku meringis dalam hati begitu mendapati intonasiku yang refleks memelan di akhir kalimat. Duh, kedengarannya jadi seperti sedang mencicit!
️ㅤㅤㅤㅤㅤ“Manah, santai aja kali!” ️ㅤㅤㅤㅤㅤ “Beneran enggak mau nambah?” ️ㅤㅤㅤㅤㅤ “Aku yang ambilin, ya?” ️ㅤㅤㅤㅤㅤ“Mau?”
Alah, Sabrang! Kau gampang bicara semacam itu sebab kau yang punya rumah. Aku 'kan cuma tamu! Jangan kau samakan begitu dengan dirimu.
“Enggak, Sabrang.” “Makasih, tapi aku betulan sudah kenyang.”
Selepas aku rampung menyahuti Sabrang, ayahnya Sabrang membuka bilabialnya.
️ㅤㅤㅤㅤㅤ “Nak Manah makannya sedikit, ya.” ️ㅤㅤㅤㅤㅤ “Harus makan banyak, dong, Nak, biar enggak kurus.”
Satu meja makan tertawa kecuali aku yang malu bukan main dengan pipi merona berma.