BAHTERA.

Bahtera Lengkawa, 2000.

Bahtera, jantung hati kedua. Adalah Bahtera, yang menyelamatkan Manah dari lubang hitam berkabung atas kepergian seorang Sabrang Dermaga yang tiba-tiba.

Bahtera lahir setahun sebelum Manah, membuatnya otomatis jadi lebih tua. Namun Manah tidak pernah menyapa Bahtera dengan sapaan formal kak atau mas, sama seperti kepada Sabrang.

Tak jauh beda dengan sahabat karibnya, Bahtera juga lahir dari keluarga kaya. Hidup enak sedari kecil bukanlah bualan semata baginya. Dengan uang di tangan kiri dan kuasa di tangan kanan, Bahtera hidup bersisian.

Sejak kecil, Sabrang dan Bahtera sudah bersahabat dekat. Berawal dari teman main di taman komplek, berlanjut jadi sahabat karib yang sekolahnya selalu sama. Kau yang mengira mereka akan berpisah sewaktu kuliah, nyatanya salah. Bahtera dan Sabrang kembali bernaung di bawah almamater yang sama, kali ini di bawah nama Universitas Gadjah Mada. Meski, mereka berada di jurusan dan fakultas yang berbeda.

Bahtera menaruh suka pada Manah sejak pertama menjumpa wajahnya di hadapan pusara Sabrang. Berkuliah di satu kampus yang sama membuatnya menjadi kepalang lengket dengan Manah, meskipun berasal dari fakultas yang berbeda.

Bahtera adalah sosok yang sanggup menyembuhkan luka Manah selepas kepergian Sabrang. Kalau dulu Sabrang yang rutin memboncengnya dengan motor merah menterengnya ke mana-mana, posisi itu kini digantikan oleh sahabatnya, Bahtera. Sabrang dan Bahtera begitu banyak miliki kesamaan, bahkan merek dan jenis motornya pun sama. Hanya saja, milik Bahtera warnanya hitam jelaga.

Manah dan Bahtera satu sama lain menghembalang rasa yang sama, namun dibumbui banyak tanda tanya. Pula keduanya punya keinginan untuk melapih hubungan lebih dari teman, tapi seperti ada yang menahan di balik badan. Sayang alangkah sayang, lagi-lagj ada paldu tanwujud di antara mereka yang membatasi. Manah masih belum sepenuhnya melupakan Sabrang. Dia pun lagi-lagi berpikir kurang pantas, sebab dia dan Bahtera tak berada di satu tingkat kekayaan yang sama. Sementara Bahtera berpikir bila dia mencintai Manah, itu sama saja seperti mengkhianati Sabrang, sahabatnya sendiri.

Hingga nanti masa kuliah mereka selesai atau hingga mereka tak lagi bersemuka, masih belum juga ada kata cinta.