MBAK.

Har Satmaka Arinya, 1996.
Mbak Maka, nilakandi paling jelita buat Manah. Bagi si Nona Sangara, Mbak Maka adalah orang yang menduduki posisi kedua setelah Ayah di daftar manusia yang dia sayangi dan kasihi. Mbak Maka adalah sosok pengganti presensi Ibu.
Mbak Maka lahir setahun setelah pernikahan Ayah dan Ibu. Hidup di keluarga yang tidak berkecukupan sedikit banyak memengaruhi pribadi Mbak Maka. Terbiasa melakukan apa-apa sendiri, Mbak Maka tumbuh menjadi perempuan yang tabah dan independen.
Mbak Maka jarang menangis, sebab punya gengsi yang lumayan tinggi dan beranggapan bahwa dia tidak mau terlihat lemah di depan orang lain. Satu kali dia tak kuat menahan air matanya adalah ketika dia gagal masuk ke Universitas Gadjah Mada, seperti apa yang diimpikan ayahnya. Mbak Maka punya pendirian yang kuat dan tidak takut melawan apapun yang menurutnya salah. Dibanding Ayah, Mbak Maka lebih cocok disebut sebagai tameng keluarga.
Mbak Maka berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Lulus sebagai salah satu lulusan terbaik dengan nilai memuaskan di tahun dua ribu delapan belas, Mbak Maka kemudian bekerja sebagai guru PPKN honorer di dua SMA negeri di Yogyakarta.
Hingga kini, Mbak Maka masih memperjuangkan kariernya agar bisa segera berstatus sebagai guru tetap.
Sampai sekarang, Mbak Maka belum tertarik dengan urusan percintaan. Agaknya sedikit takut menjalin hubungan setelah melihat pernikahan Ayah dan Ibu yang kandas di tengah jalan. Saat ini, Mbak Maka hanya memprioritaskan keluarga sebagai pusat perhatian utamanya.
Mbak Maka adalah sosok yang paling bersemangat mendukung Ayah untuk membuka usaha. Setelah Ayah betul-betul membuka warung, Mbak Maka rajin membantu dikala senggangnya. Pun, dia dengan gencar mempromosikan warung milik sang Ayah kepada kawan-kawan dan kenalannya.
Selalu berbagi kasur berdua sejak kecil sampai sekarang, Mbak Maka adalah segalanya bagi Manah.