<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Geranyam</title>
    <link>https://geranyam.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 14:04:08 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Simposium Kecil dengan Orang Kota.</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/arang-nggak-tahu-lagi-apa-sebenarnya-yang-ia-kejar-di-dunia-ini?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Hwangshin/Camelon AU.&#xA;  Shin Ryujin sebagai Arang, Hwang Hyunjin sebagai Bujang.&#xA;  Catatan: cerita ini mengandung deskripsi mengenai kematian, harap tidak melanjutkan membaca apabila dirasa tidak nyaman dengan konten yang disajikan. Tokoh yang ada di cerita ini adalah fiksi dengan setting tempat yang nyata. Selamat membaca!&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Arang nggak tahu lagi apa sebenarnya yang ia kejar di dunia ini.&#xA;&#xA;Tadinya, dia pikir, tujuan hidupnya itu cuma untuk membahagiakan orangtuanya saja. Setidaknya, dia mau membuat Ibu dan Bapak hidup enak di masa tua mereka. Arang mau melihat ibunya cuma leyeh-leyeh di kasur sehari-hari, sementara bapaknya asyik pergi memancing seharian.&#xA;&#xA;Nyatanya, belum sempat Arang mewujudkan mimpi kecilnya itu, Ibu dan Bapak sudah keburu pergi duluan. Kalau Arang boleh bilang, perginya pun nggak dalam keadaan yang menyenangkan (meskipun pada dasarnya, kematian memang enggak pernah menyenangkan, tapi kematian kedua orangtua Arang itu benar-benar disebabkan oleh alasan yang kalau bisa dibilang, tragis). Bapak lenyap ditelan ombak ketika sedang melaut, tidak ada yang tahu jasadnya ada di mana, entah telah menjelma menjadi buih atau malah jadi makanan udang. Entahlah, Arang bahkan tidak bisa membayangkannya lagi. Saking tragisnya, kematian Bapak nggak lagi membuatnya sedih, melainkan hampa. Air mata pun seolah sudah enggan keluar lagi dari matanya yang membengkak sendiri.&#xA;&#xA;Arang juga nggak melihat jasad ibunya ketika meninggal sebab bahkan jasadnya telah nggak berbentuk. Kalau nggak dilihat dari KTP yang ada di dompetnya, Arang bisa-bisa nggak mengenali kalau itu jasad ibunya. Ibunya ditabrak, entah siapa pelakunya sebab dia kabur begitu saja, seolah-olah dia tak baru saja menghilangkan nyawa orang. Arang cuma bisa membatu ketika melihat bendera kuning di depan rumahnya senja itu. Dia baru pulang dari pantai, menjaga warung bergantian dengan ibunya seperti hari-hari biasa. Tapi rasanya, setelah ini ia akan selalu menjaga warung sendirian, sebab kini Ibu sudah nggak ada lagi untuk menemaninya.&#xA;&#xA;Maka dari itu Arang melanjutkan hidup dengan seadanya. Dia tak bisa berbuat banyak, melayangkan protes pada Tuhan pun tak akan menghidupkan kembali kedua orangtuanya. Di tahun keduanya menjadi siswi Sekolah Menengah Atas, Arang cuma mengisi hari-harinya dengan bersekolah dan menjaga warung. Semua dilakukannya sendirian, sebab semua yang pernah ada di sampingnya telah mati dengan turut membawa gelora dalam jiwa Arang pergi.&#xA;&#xA;&#34;Permisi, Mbak? Mbak? Halo?&#34;&#xA;&#xA;Agaknya Arang terlalu lama berkontemplasi dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia nggak menyadari bahwa ada pelanggan di warungnya yang meminta dilayani dari tadi.&#xA;&#xA;&#34;Eh, Mas, maaf. Nggak sengaja melamun. Mau pesan apa, Mas?&#34;&#xA;&#xA;Di hadapan Arang, berdiri seorang laki-laki yang ia asumsikan berusia tak jauh dengannya. Penampilannya nggak kelihatan seperti orang kota, tapi sebetulnya nggak culun-culun amat. Biasanya, Arang lebih sering melihat orang-orang kota yang mengunjungi pantai ini, sebab orang-orang yang tinggal di sekitar sini nggak senang memilih pantai yang sudah termasyhur namanya seperti pantai ini. Sudah terlalu ramai pendatang, kata mereka, jadi sudah nggak menyenangkan untuk didatangi.&#xA;&#xA;Laki-laki itu memesan segelas kopi hitam dan semangkuk mi rebus, pesanan template bapak-bapak kalau berkunjung ke pantai ini. Tapi laki-laki itu masih muda, cuma seleranya saja yang kayak bapak-bapak. Ia kelihatan seperti datang seorang diri, sebab ketika Arang menyajikan pesanannya, ia menitipkan barang bawaannya di warung itu sebentar sebab ia mau mengambil foto pantai dengan lebih dekat.&#xA;&#xA;Arang menyanggupi permintaan tolongnya, tapi tanpa ia sadari ia pun jadi malah berlanjut memperhatikan tingkah laku laki-laki itu. Laki-laki itu setengah berlari ke arah air, celana belelnya sudah digulung sampai dengkul. Ia membawa sebuah tustel yang kelihatannya lawas, sebab bentuknya nggak seperti yang sering Arang lihat dalam hajatan-hajatan pernikahan orang kaya (atau setidaknya orang yang kebelet kelihatan kaya).&#xA;&#xA;Sibuk memperhatikan laki-laki itu, sampai Arang sendiri nggak sadar kalau ia melamun lagi. Lagi-lagi, ia lamunannya itu dibuyarkan oleh suara laki-laki tadi. Ia rupanya telah kembali dari bibir pantai.&#xA;&#xA;&#34;Mbak biasa jaga warung sendirian setiap hari?&#34;&#xA;&#xA;Kedua manik Arang mengerjap mendengar pertanyaan itu. Biasanya tuh, yang jualan yang nanya nggak sih, ke pelanggan? Ini malah pelanggannya dulu yang nanya, batinnya nggak penting.&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya, Mas. Saya dulu jaga warung ini bareng ibu saya, tapi sekarang beliau sudah nggak ada. Makanya saya sendirian sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Sebagaimana orang-orang lainnya yang mendengar berita nggak mengenakkan, laki-laki itu memasang roman iba. Arang sudah kebal dengan respons semacam itu sebab telah berkali-kali menerimanya dalam kurun dua bulan ini.&#xA;&#xA;&#34;Mas sendiri, asalnya dari mana? Dari kota?&#34;&#xA;&#xA;Nggak tahu apa yang merasukinya, tapi Arang akhirnya memutuskan untuk memperpanjang konversasi. Dia nggak biasa-biasanya berlaku seperti itu, tapi semenjak ia menjaga warung seorang diri sehari-hari, ia jadi merasa lebih kesepian karena nggak ada kanti berbicara sewaktu menjaga.&#xA;&#xA;&#34;Betul saya dari kota. Mbaknya sendiri, asli dari Gunungkidul? Ngomong-ngomong, nama saya Bujang.&#34;&#xA;&#xA;Bujang, ya ... nama yang agak nggak biasa buat orang kota zaman sekarang, batin Arang, lagi-lagi super nggak penting.&#xA;&#xA;&#34;Saya asli dari Gunungkidul, Mas. Nama saya Arang. Salam kenal ya, Mas Bujang. Di sini lagi liburan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak, saya baru pindah ke sini, ngikut Ibu. Ibu saya asli dan besar di sini, sebelum menikah sama bapak saya.&#34;&#xA;&#xA;Bujang nggak melanjutkan ceritanya, tapi Arang sedikit banyak sudah bisa menebak bahwa kelanjutannya pasti nggak mengenakkan sampai-sampai Bujang akhirnya bisa berakhir di sini. Sesuatu pasti terjadi di antara ibu dan bapaknya, entah apa bentuknya.&#xA;&#xA;&#34;Jadi Mas sekolah di sini? Eh, sebentar. Mas umurnya berapa, sih? Masih sekolah, &#39;kan? Maaf ya kalau saya asal nebak, soalnya kelihatannya Mas seumuran sama saya.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar pertanyaan itu Bujang tertawa, tawa pertamanya semenjak awal konversasinya dengan Arang.&#xA;&#xA;&#34;Iya, saya jadi pindah sekolah di sini. Saya enam belas tahun, harusnya Mbak juga nggak jauh beda, ya to?&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu, Bujang buru-buru menyusulkan nama sekolah tempat ia pindah. Arang berakhir terkesima sebab satu: dia seusia dengan laki-laki itu, dan dua, demi Tuhan, yang dia sebutkan itu nama sekolahnya!&#xA;&#xA;&#34;Ternyata kita seumuran dan satu sekolah. Bisa jadi malah satu kelas, meski nggak tahu juga, tergantung sama pengumuman waktu mulai sekolah dua minggu lagi. Aneh juga.&#34;&#xA;&#xA;Bujang sendiri juga nggak begitu menyangka bakal bertemu calon teman satu sekolahnya, lebih-lebih bertemu ketika ia tengah menjaga warung. Padahal ia sudah rela saja kalau-kalau di sekolah nanti ia nggak punya teman. Dia nggak begitu ambil pusing soal itu, toh sebentar lagi, sekitar satu setengah tahunan lagi juga dia akan lulus dari sana dan kembali ke kota untuk berkuliah. Tapi rupanya Tuhan malah mempertemukannya dengan teman satu sekolah di tempat yang nggak ia duga sama sekali.&#xA;&#xA;&#34;Rumahmu di mana, Arang? Eh, boleh &#39;kan saya panggil gitu karena kita seumuran? Kalau rumah kita berdekatan, rasanya takdir kita aneh betul.&#34;&#xA;&#xA;Nggak tahu kenapa, Arang mengangguk sedikit lebih cepat dari yang ia intensikan di dalam kepalanya. Ia jadi takut Bujang menganggapnya orang sinting sebab dia berakhir mengangguk terlalu bersemangat tanpa sebab (atau bisa jadi karena sebab tertentu sebetulnya, misalnya karena dia senang mengobrol dengan Bujang, cuma Arang nggak mau mengakuinya saja).&#xA;&#xA;&#34;Rumah saya nggak jauh dari Kantor Kapanewon Tepus. Kamu tahu daerah sana? Saya ragu sebab kamu baru pindah ke sini.&#34;&#xA;&#xA;Nyatanya, Bujang ternyata lebih dari paham tempat itu sebab rumahnya juga nggak jauh dari sana. Memang nggak terlalu berdekatan dengan Arang karena rumahnya memang notabenenya masih harus masuk-masuk ke jalan kecil, sementara rumah Bujang lumayan dekat dari pinggir jalan utama.&#xA;&#xA;Nggak tahu bagaimana ceritanya, Arang berakhir mengisi sore harinya dengan mendengarkan Bujang menceritakan bagaimana ia menyelamatkan ibunya dari bapaknya yang pemabuk dan bagaimana pula ia bekerja serabutan untuk menghidupi keduanya. Nggak tahu juga bagaimana ceritanya, Bujang berakhir mengisi sore harinya dengan mendengarkan Arang menceritakan kematian tragis kedua orangtuanya dan bagaimana hampanya menjalani hidup dan banting tulang seorang diri.&#xA;&#xA;Arang jadi malu mendengar bagaimana Bujang dengan berapi-api mengutarakan keinginannya untuk berkuliah meskipun duitnya yang pas-pasan, sementara Arang bahkan sempat berpikiran untuk berhenti sekolah saja untuk menjaga warung di pantai sehari penuh. Mimpi-mimpi kecil lelaki itu mengingatkannya bahwa dulu, sebelum orangtuanya meninggal, ia juga punya mimpi kecil untuk membuat keduanya menjalani masa tua tanpa harus bekerja. &#xA;&#xA;Entah bagaimana caranya, konversasinya dengan Bujang di Pantai Slili yang mulai sepi menjelang magrib itu kembali memunculkan gelora dalam jiwa Arang yang sempat mati bersamaan dengan kepergian orangtuanya. Rasanya ia kini bisa percaya bahwa Tuhan selalu mengirimkan keajaiban di waktu dan oleh cara yang tak terduga. Bagi Arang yang akhir-akhir ini nampak seperti mayat hidup, munculnya kembali gelora dalam jiwanya itu adalah keajaiban yang tiada tara.&#xA;&#xA;&#34;Kalau kamu juga ingin melanjutkan kuliah, nanti kita bisa belajar sama-sama, Rang.&#34;&#xA;&#xA;Arang nggak menjawab, tapi senyumnya menjadi isyarat bahwa ia nggak menolak tawaran Bujang. Bagaimanapun, sebenarnya Arang juga nggak bodoh-bodoh amat dalam pelajaran. Ia cuma butuh dorongan, dan Bujang bersedia untuk membantu mendorongnya.&#xA;&#xA;&#34;Mataharinya sudah mau terbenam, saya harus menutup toko. Kamu pulang naik apa, Bujang? Mau pulang bersama? Jalan ke Tepus itu gelap sekali, saya takut kamu belum hafal jalan.&#34;&#xA;&#xA;Arang itu nggak biasa-biasanya seperti ini. Maksudnya, dia biasanya nggak suka berbasa-basi menawarkan bantuan kepada orang lain yang belum ia kenal lama sebelumnya. Tapi nggak tahu kenapa, konversasi kecil (yang sebenarnya nggak kecil-kecil amat) bersama Bujang hari ini membuat dia merasa punya semacam ikatan dengan laki-laki itu. Lagipula, sudah lama ia nggak punya teman (atau lebih dari teman, mungkin, tapi Arang nggak pernah mau mengakui). Sudah waktunya dia berhenti menjadi antisosial akut hingga jadi perbincangan tetangga.&#xA;&#xA;&#34;Saya tadi ke sini sama Ibu, tapi saya nggak enak minta tolong Ibu buat jemput lagi. Boleh menumpang kamu, nggak? Kamu bawa motor? Kalau boleh, biar saya boncengin.&#34;&#xA;&#xA;Jelas saja Arang nggak akan menolak penawaran itu. Di hari-hari lain, biasanya Arang nggak pernah pulang ketika langit sudah mulai gelap, ia pasti pulang sebelum matahari terbenam karena matanya yang nggak awas cuma akan membahayakan dirinya sendiri kalau naik motor malam-malam. Dia belum punya biaya buat membeli kacamata, jadi selama ia belum punya kacamata, ia nggak akan pulang semalam ini. Tapi karena keasyikan berbincang, nggak kerasa langit sudah mulai menggelap. Untungnya, Bujang itu punya kacamata, pakai kacamata, dan bisa naik motor. Jadi jelas Arang nggak akan menolak tawarannya.&#xA;&#xA;Persetan dengan belum cukup umur, semua orang di sekitarnya bahkan sudah membawa motor sendiri sejak SD. Setidaknya Arang dan Bujang itu sudah enam belas, sebentar lagi bisa ikut ujian untuk dapat SIM. Tapi buat sekarang, Arang lebih memilih melanggar peraturan berkendara dibanding harus bolak-balik Wonosari, Tepus, dan Pantai Slili dengan berjalan kaki. Begini-begini, dia juga masih manusia normal yang kakinya nggak terbuat dari baja.&#xA;&#xA;Ujung-ujungnya, Arang dan Bujang pulang berboncengan—Bujang yang di depan—pakai motor bebek Arang yang sebetulnya hasil peninggalan bapaknya. Besok, Bujang menawarkan untuk menemani Arang menjaga warung di pantai lagi, hitung-hitung menghabiskan waktu sampai Bujang bisa kembali mendapatkan pekerjaan apapun yang mau menerima anak sekolahan di tempat itu. &#xA;&#xA;&#34;Eh, Nduk, Arang! Mau ke warung, ya? Kok tumben, bareng sama teman? Sudah punya teman to, sekarang?&#34;&#xA;&#xA;Asem, batin Arang dalam hati ketika dikomentari tetangganya waktu Bujang menjemputnya ke rumah. Asem, batinnya sekali lagi.&#xA;&#xA;SELESAI.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;2024 © k, @whimsicalode.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hwangshin/Camelon AU.
<strong>Shin Ryujin</strong> sebagai <strong>Arang</strong>, <strong>Hwang Hyunjin</strong> sebagai <strong>Bujang</strong>.
Catatan: cerita ini mengandung deskripsi mengenai kematian, harap tidak melanjutkan membaca apabila dirasa tidak nyaman dengan konten yang disajikan. Tokoh yang ada di cerita ini adalah fiksi dengan <em>setting</em> tempat yang nyata. Selamat membaca!</p></blockquote>

<hr/>

<p>Arang nggak tahu lagi apa sebenarnya yang ia kejar di dunia ini.</p>

<p>Tadinya, dia pikir, tujuan hidupnya itu cuma untuk membahagiakan orangtuanya saja. Setidaknya, dia mau membuat Ibu dan Bapak hidup enak di masa tua mereka. Arang mau melihat ibunya cuma <em>leyeh-leyeh</em> di kasur sehari-hari, sementara bapaknya asyik pergi memancing seharian.</p>

<p>Nyatanya, belum sempat Arang mewujudkan mimpi kecilnya itu, Ibu dan Bapak sudah keburu pergi duluan. Kalau Arang boleh bilang, perginya pun nggak dalam keadaan yang menyenangkan (<em>meskipun pada dasarnya, kematian memang enggak pernah menyenangkan, tapi kematian kedua orangtua Arang itu benar-benar disebabkan oleh alasan yang kalau bisa dibilang, tragis</em>). Bapak lenyap ditelan ombak ketika sedang melaut, tidak ada yang tahu jasadnya ada di mana, entah telah menjelma menjadi buih atau malah jadi makanan udang. Entahlah, Arang bahkan tidak bisa membayangkannya lagi. Saking tragisnya, kematian Bapak nggak lagi membuatnya sedih, melainkan hampa. Air mata pun seolah sudah enggan keluar lagi dari matanya yang membengkak sendiri.</p>

<p>Arang juga nggak melihat jasad ibunya ketika meninggal sebab bahkan jasadnya telah nggak berbentuk. Kalau nggak dilihat dari KTP yang ada di dompetnya, Arang bisa-bisa nggak mengenali kalau itu jasad ibunya. Ibunya ditabrak, entah siapa pelakunya sebab dia kabur begitu saja, seolah-olah dia tak baru saja menghilangkan nyawa orang. Arang cuma bisa membatu ketika melihat bendera kuning di depan rumahnya senja itu. Dia baru pulang dari pantai, menjaga warung bergantian dengan ibunya seperti hari-hari biasa. Tapi rasanya, setelah ini ia akan selalu menjaga warung sendirian, sebab kini Ibu sudah nggak ada lagi untuk menemaninya.</p>

<p>Maka dari itu Arang melanjutkan hidup dengan seadanya. Dia tak bisa berbuat banyak, melayangkan protes pada Tuhan pun tak akan menghidupkan kembali kedua orangtuanya. Di tahun keduanya menjadi siswi Sekolah Menengah Atas, Arang cuma mengisi hari-harinya dengan bersekolah dan menjaga warung. Semua dilakukannya sendirian, sebab semua yang pernah ada di sampingnya telah mati dengan turut membawa gelora dalam jiwa Arang pergi.</p>

<p>“<em>Permisi, Mbak? Mbak? Halo?</em>“</p>

<p>Agaknya Arang terlalu lama berkontemplasi dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia nggak menyadari bahwa ada pelanggan di warungnya yang meminta dilayani dari tadi.</p>

<p>“<em>Eh, Mas, maaf. Nggak sengaja melamun. Mau pesan apa, Mas?</em>“</p>

<p>Di hadapan Arang, berdiri seorang laki-laki yang ia asumsikan berusia tak jauh dengannya. Penampilannya nggak kelihatan seperti orang kota, tapi sebetulnya nggak culun-culun amat. Biasanya, Arang lebih sering melihat orang-orang kota yang mengunjungi pantai ini, sebab orang-orang yang tinggal di sekitar sini nggak senang memilih pantai yang sudah termasyhur namanya seperti pantai ini. Sudah terlalu ramai pendatang, kata mereka, jadi sudah nggak menyenangkan untuk didatangi.</p>

<p>Laki-laki itu memesan segelas kopi hitam dan semangkuk mi rebus, pesanan <em>template</em> bapak-bapak kalau berkunjung ke pantai ini. Tapi laki-laki itu masih muda, cuma seleranya saja yang kayak bapak-bapak. Ia kelihatan seperti datang seorang diri, sebab ketika Arang menyajikan pesanannya, ia menitipkan barang bawaannya di warung itu sebentar sebab ia mau mengambil foto pantai dengan lebih dekat.</p>

<p>Arang menyanggupi permintaan tolongnya, tapi tanpa ia sadari ia pun jadi malah berlanjut memperhatikan tingkah laku laki-laki itu. Laki-laki itu setengah berlari ke arah air, celana belelnya sudah digulung sampai dengkul. Ia membawa sebuah tustel yang kelihatannya lawas, sebab bentuknya nggak seperti yang sering Arang lihat dalam hajatan-hajatan pernikahan orang kaya (<em>atau setidaknya orang yang kebelet kelihatan kaya</em>).</p>

<p>Sibuk memperhatikan laki-laki itu, sampai Arang sendiri nggak sadar kalau ia melamun lagi. Lagi-lagi, ia lamunannya itu dibuyarkan oleh suara laki-laki tadi. Ia rupanya telah kembali dari bibir pantai.</p>

<p>“<em>Mbak biasa jaga warung sendirian setiap hari?</em>“</p>

<p>Kedua manik Arang mengerjap mendengar pertanyaan itu. <em>Biasanya tuh, yang jualan yang nanya nggak sih, ke pelanggan? Ini malah pelanggannya dulu yang nanya</em>, batinnya nggak penting.</p>

<p>“<em>Oh, iya, Mas. Saya dulu jaga warung ini bareng ibu saya, tapi sekarang beliau sudah nggak ada. Makanya saya sendirian sekarang.</em>“</p>

<p>Sebagaimana orang-orang lainnya yang mendengar berita nggak mengenakkan, laki-laki itu memasang roman iba. Arang sudah kebal dengan respons semacam itu sebab telah berkali-kali menerimanya dalam kurun dua bulan ini.</p>

<p>“<em>Mas sendiri, asalnya dari mana? Dari kota?</em>“</p>

<p>Nggak tahu apa yang merasukinya, tapi Arang akhirnya memutuskan untuk memperpanjang konversasi. Dia nggak biasa-biasanya berlaku seperti itu, tapi semenjak ia menjaga warung seorang diri sehari-hari, ia jadi merasa lebih kesepian karena nggak ada kanti berbicara sewaktu menjaga.</p>

<p>“<em>Betul saya dari kota. Mbaknya sendiri, asli dari Gunungkidul? Ngomong-ngomong, nama saya Bujang.</em>“</p>

<p><em>Bujang, ya ... nama yang agak nggak biasa buat orang kota zaman sekarang</em>, batin Arang, lagi-lagi super nggak penting.</p>

<p>“<em>Saya asli dari Gunungkidul, Mas. Nama saya Arang. Salam kenal ya, Mas Bujang. Di sini lagi liburan?</em>“</p>

<p>“<em>Nggak, saya baru pindah ke sini, ngikut Ibu. Ibu saya asli dan besar di sini, sebelum menikah sama bapak saya.</em>“</p>

<p>Bujang nggak melanjutkan ceritanya, tapi Arang sedikit banyak sudah bisa menebak bahwa kelanjutannya pasti nggak mengenakkan sampai-sampai Bujang akhirnya bisa berakhir di sini. Sesuatu pasti terjadi di antara ibu dan bapaknya, entah apa bentuknya.</p>

<p>“<em>Jadi Mas sekolah di sini? Eh, sebentar. Mas umurnya berapa, sih? Masih sekolah, &#39;kan? Maaf ya kalau saya asal nebak, soalnya kelihatannya Mas seumuran sama saya.”</em></p>

<p>Mendengar pertanyaan itu Bujang tertawa, tawa pertamanya semenjak awal konversasinya dengan Arang.</p>

<p>“<em>Iya, saya jadi pindah sekolah di sini. Saya enam belas tahun, harusnya Mbak juga nggak jauh beda, ya to?</em>“</p>

<p>Setelah itu, Bujang buru-buru menyusulkan nama sekolah tempat ia pindah. Arang berakhir terkesima sebab satu: dia seusia dengan laki-laki itu, dan dua, demi Tuhan, yang dia sebutkan itu nama sekolahnya!</p>

<p>“<em>Ternyata kita seumuran dan satu sekolah. Bisa jadi malah satu kelas, meski nggak tahu juga, tergantung sama pengumuman waktu mulai sekolah dua minggu lagi. Aneh juga.</em>“</p>

<p>Bujang sendiri juga nggak begitu menyangka bakal bertemu calon teman satu sekolahnya, lebih-lebih bertemu ketika ia tengah menjaga warung. Padahal ia sudah rela saja kalau-kalau di sekolah nanti ia nggak punya teman. Dia nggak begitu ambil pusing soal itu, toh sebentar lagi, sekitar satu setengah tahunan lagi juga dia akan lulus dari sana dan kembali ke kota untuk berkuliah. Tapi rupanya Tuhan malah mempertemukannya dengan teman satu sekolah di tempat yang nggak ia duga sama sekali.</p>

<p>“<em>Rumahmu di mana, Arang? Eh, boleh &#39;kan saya panggil gitu karena kita seumuran? Kalau rumah kita berdekatan, rasanya takdir kita aneh betul.</em>“</p>

<p>Nggak tahu kenapa, Arang mengangguk sedikit lebih cepat dari yang ia intensikan di dalam kepalanya. Ia jadi takut Bujang menganggapnya orang sinting sebab dia berakhir mengangguk terlalu bersemangat tanpa sebab (<em>atau bisa jadi karena sebab tertentu sebetulnya, misalnya karena dia senang mengobrol dengan Bujang, cuma Arang nggak mau mengakuinya saja</em>).</p>

<p>“<em>Rumah saya nggak jauh dari Kantor Kapanewon Tepus. Kamu tahu daerah sana? Saya ragu sebab kamu baru pindah ke sini.</em>“</p>

<p>Nyatanya, Bujang ternyata lebih dari paham tempat itu sebab rumahnya juga nggak jauh dari sana. Memang nggak terlalu berdekatan dengan Arang karena rumahnya memang notabenenya masih harus masuk-masuk ke jalan kecil, sementara rumah Bujang lumayan dekat dari pinggir jalan utama.</p>

<p>Nggak tahu bagaimana ceritanya, Arang berakhir mengisi sore harinya dengan mendengarkan Bujang menceritakan bagaimana ia menyelamatkan ibunya dari bapaknya yang pemabuk dan bagaimana pula ia bekerja serabutan untuk menghidupi keduanya. Nggak tahu juga bagaimana ceritanya, Bujang berakhir mengisi sore harinya dengan mendengarkan Arang menceritakan kematian tragis kedua orangtuanya dan bagaimana hampanya menjalani hidup dan banting tulang seorang diri.</p>

<p>Arang jadi malu mendengar bagaimana Bujang dengan berapi-api mengutarakan keinginannya untuk berkuliah meskipun duitnya yang pas-pasan, sementara Arang bahkan sempat berpikiran untuk berhenti sekolah saja untuk menjaga warung di pantai sehari penuh. Mimpi-mimpi kecil lelaki itu mengingatkannya bahwa dulu, sebelum orangtuanya meninggal, ia juga punya mimpi kecil untuk membuat keduanya menjalani masa tua tanpa harus bekerja.</p>

<p>Entah bagaimana caranya, konversasinya dengan Bujang di Pantai Slili yang mulai sepi menjelang magrib itu kembali memunculkan gelora dalam jiwa Arang yang sempat mati bersamaan dengan kepergian orangtuanya. Rasanya ia kini bisa percaya bahwa Tuhan selalu mengirimkan keajaiban di waktu dan oleh cara yang tak terduga. Bagi Arang yang akhir-akhir ini nampak seperti mayat hidup, munculnya kembali gelora dalam jiwanya itu adalah keajaiban yang tiada tara.</p>

<p>“<em>Kalau kamu juga ingin melanjutkan kuliah, nanti kita bisa belajar sama-sama, Rang.</em>“</p>

<p>Arang nggak menjawab, tapi senyumnya menjadi isyarat bahwa ia nggak menolak tawaran Bujang. Bagaimanapun, sebenarnya Arang juga nggak bodoh-bodoh amat dalam pelajaran. Ia cuma butuh dorongan, dan Bujang bersedia untuk membantu mendorongnya.</p>

<p>“<em>Mataharinya sudah mau terbenam, saya harus menutup toko. Kamu pulang naik apa, Bujang? Mau pulang bersama? Jalan ke Tepus itu gelap sekali, saya takut kamu belum hafal jalan.</em>“</p>

<p>Arang itu nggak biasa-biasanya seperti ini. Maksudnya, dia biasanya nggak suka berbasa-basi menawarkan bantuan kepada orang lain yang belum ia kenal lama sebelumnya. Tapi nggak tahu kenapa, konversasi kecil (<em>yang sebenarnya nggak kecil-kecil amat</em>) bersama Bujang hari ini membuat dia merasa punya semacam ikatan dengan laki-laki itu. Lagipula, sudah lama ia nggak punya teman (<em>atau lebih dari teman, mungkin, tapi Arang nggak pernah mau mengakui</em>). Sudah waktunya dia berhenti menjadi antisosial akut hingga jadi perbincangan tetangga.</p>

<p>“<em>Saya tadi ke sini sama Ibu, tapi saya nggak enak minta tolong Ibu buat jemput lagi. Boleh menumpang kamu, nggak? Kamu bawa motor? Kalau boleh, biar saya boncengin.</em>“</p>

<p>Jelas saja Arang nggak akan menolak penawaran itu. Di hari-hari lain, biasanya Arang nggak pernah pulang ketika langit sudah mulai gelap, ia pasti pulang sebelum matahari terbenam karena matanya yang nggak awas cuma akan membahayakan dirinya sendiri kalau naik motor malam-malam. Dia belum punya biaya buat membeli kacamata, jadi selama ia belum punya kacamata, ia nggak akan pulang semalam ini. Tapi karena keasyikan berbincang, nggak kerasa langit sudah mulai menggelap. Untungnya, Bujang itu punya kacamata, pakai kacamata, dan bisa naik motor. Jadi jelas Arang nggak akan menolak tawarannya.</p>

<p>Persetan dengan belum cukup umur, semua orang di sekitarnya bahkan sudah membawa motor sendiri sejak SD. Setidaknya Arang dan Bujang itu sudah enam belas, sebentar lagi bisa ikut ujian untuk dapat SIM. Tapi buat sekarang, Arang lebih memilih melanggar peraturan berkendara dibanding harus bolak-balik Wonosari, Tepus, dan Pantai Slili dengan berjalan kaki. Begini-begini, dia juga masih manusia normal yang kakinya nggak terbuat dari baja.</p>

<p>Ujung-ujungnya, Arang dan Bujang pulang berboncengan—Bujang yang di depan—pakai motor bebek Arang yang sebetulnya hasil peninggalan bapaknya. Besok, Bujang menawarkan untuk menemani Arang menjaga warung di pantai lagi, hitung-hitung menghabiskan waktu sampai Bujang bisa kembali mendapatkan pekerjaan apapun yang mau menerima anak sekolahan di tempat itu.</p>

<p>“<em>Eh, Nduk, Arang! Mau ke warung, ya? Kok tumben, bareng sama teman? Sudah punya teman to, sekarang?</em>“</p>

<p><em>Asem</em>, batin Arang dalam hati ketika dikomentari tetangganya waktu Bujang menjemputnya ke rumah. <em>Asem</em>, batinnya sekali lagi.</p>

<p><strong>SELESAI</strong>.</p>

<hr/>

<p><strong>2024</strong> © <strong>k</strong>, <em>@whimsicalode</em>.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/arang-nggak-tahu-lagi-apa-sebenarnya-yang-ia-kejar-di-dunia-ini</guid>
      <pubDate>Mon, 08 Jan 2024 14:41:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>SALAM HANGAT, KAMERAD!</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/salam-hangat-kamerad?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Halo, kamu yang baru berkunjung ke laman milik Menik Kersani! Saya ucapkan selamat datang.&#xA;&#xA;Pertama-tama, perkenalkan, saya adalah MADUKARA, insan yang bertanggungjawab atas segala yang berkaitan dengan si anak manis, Menik.&#xA;&#xA;Hadirnya saya di sini, untuk memberi beberapa informasi yang sekiranya penting, sebelum kamu memutuskan untuk memencet tombol follow di akun AngsangKinang.&#xA;&#xA;  Menik ini karakter yang seperti apa, sih?&#xA;&#xA;Karakter Menik ini digambarkan sebagai sosok gadis gila kerja yang tangguh bukan main demi menghidupi dirinya dan ibunya, asli Gunungkidul namun kini tinggal di Kota Jogja. Menik ini berasal dari keluarga miskin, ayahnya sudah enggak ada dan ibunya buruh pabrik. Itu sebabnya dia mengandalkan otaknya yang encer untuk bisa tetap kuliah dengan menyambi bekerja.&#xA;&#xA;  Kira-kira, konten akun ini akan membahas tentang apa saja?&#xA;&#xA;Apa-apa yang akan saya tulis nantinya akan mengandung bahasan mengenai kemiskinan, kesenjangan antara si kaya dan si miskin, kematian, penyimpangan norma, dan masalah-masalah sosial lain. Pun, enggak menutup kemungkinan akan terdapat adegan kekerasan dan pemaksaan yang muncul. Tapi, saya tidak akan menghadirkan adegan seksual di sini. Jadi, sebelum yakin untuk menekan tombol follow, mohon pastikan kalian enggak terganggu dengan konten yang nantinya akan saya munculkan di sini, ya. Tolong pahami dengan baik-baik.&#xA;&#xA;  Apa kamu keberatan kalau saya unfollow gara-gara saya merasa enggak sreg dengan konten kamu?&#xA;&#xA;Tentu saja tidak keberatan! Dua rius, enggak keberatan sama sekali. Siapapun bebas untuk menentukan follow atau unfollow akun AngsangKinang. Tetapi, mohon jangan block atau report, ya, teman-teman? Nanti akunnya sakit, lho.&#xA;&#xA;  Apa Menik ini dihidupkan pada setting dunia tanpa pandemi?&#xA;&#xA;Seratus! Yang ini enggak perlu dijelaskan lagi, alasannya jelas biar bisa lebih mudah menulis plotnya.&#xA;&#xA;  Di mana Menik menetap?&#xA;&#xA;Menik kini menetap di Kota Jogja, namun sangat memungkinkan untuk menggunakan latar-latar kabupaten lain di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebab Menik memang digambarkan enggak (atau belum) pernah keluar dari Jogja.&#xA;&#xA;  Apakah ada karakter krusial di cerita Menik?&#xA;&#xA;Ada beberapa, berikut nama-namanya: Kusnadi dan Mainah (ayah dan ibunya), Kenanga, Lindu, dan Bujang. Kamu akan dapat menemukan mereka nanti, seiring dengan berjalannya cerita!&#xA;&#xA;  Apakah Menik terbuka untuk relasi dan plot?&#xA;&#xA;Tentu saja! Asal, bisa nyambung dengan kisahnya si Menik. Kalau sekiranya ada tawaran relasi atau ajakan plot, sila hampiri saya di DM, ya.&#xA;&#xA;  Bagaimana soal penyaduran dan plagiarisme?&#xA;&#xA;Saya menentang keras segala wujud perbuatan yang bersifat menjiplak konten karakter saya. Bilamana terinspirasi, itu lain lagi. Mohon bedakan dengan baik.&#xA;&#xA;  Bagaimana cara menyampaikan kritik dan saran kepada MADUKARA?&#xA;&#xA;Kalian bisa ketuk DM untuk masalah ini! Saya sangat terbuka untuk kritik dan saran, dan saya akan rela membenahi apabila ada yang salah. Hanya saja, saya enggak akan menerima kritik dan saran apapun yang enggak diberikan lewat DM. Apalagi kalau lewat curiouscat lalu pakai fitur anonim. Maaf, saya enggak akan respons.&#xA;&#xA;  Apa ada hal lain yang mau disampaikan?&#xA;&#xA;Ada! Saya tidak selektif perihal berteman (atau ber-mutual), hanya saja, saya cukul selektif menyangkut relasi. Bukan apa-apa, hal ini saya lakukan demi pengembangan karakter Menik. Jadi, saya enggak akan selalu menerima tawaran relasi.&#xA;&#xA;Lalu, saya ini manusia yang juga punya kehidupan pribadi di dunia nyata. Saya pun punya kesibukan sendiri yang enggak bisa dipungkiri. Jadi, saya mohon maaf apabila saya lelet sekali dalam membalas plot! Sebab saya berpikir, kalau saya paksa membalas plot di waktu sempit dan suasana hati enggak enak, plot itu nantinya akan jadi kelihatan enggak niat dan pendek. Hal ini berlaku juga untuk interaksi (seperti mention dan DM).&#xA;&#xA;Nah, saya sudah terlalu banyak cuap-cuap, sepertinya. Beberapa peraturan lain mengenai apa-apa yang ada di akun AngsangKinang, akan saya jatuhkan berupa utas di bawah laman ini, ya. Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai akhir. Semoga harimu baik selalu!&#xA;&#xA;Salam sayang, MADUKARA.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Halo, kamu yang baru berkunjung ke laman milik Menik Kersani! Saya ucapkan selamat datang.</p>

<p>Pertama-tama, perkenalkan, saya adalah <strong>MADUKARA</strong>, insan yang bertanggungjawab atas segala yang berkaitan dengan si anak manis, Menik.</p>

<p>Hadirnya saya di sini, untuk memberi beberapa informasi yang sekiranya penting, sebelum kamu memutuskan untuk memencet tombol follow di akun <strong>AngsangKinang</strong>.</p>

<blockquote><p><em>Menik ini karakter yang seperti apa, sih?</em></p></blockquote>

<p>Karakter Menik ini digambarkan sebagai sosok gadis gila kerja yang tangguh bukan main demi menghidupi dirinya dan ibunya, asli Gunungkidul namun kini tinggal di Kota Jogja. Menik ini berasal dari keluarga miskin, ayahnya sudah enggak ada dan ibunya buruh pabrik. Itu sebabnya dia mengandalkan otaknya yang encer untuk bisa tetap kuliah dengan menyambi bekerja.</p>

<blockquote><p><em>Kira-kira, konten akun ini akan membahas tentang apa saja?</em></p></blockquote>

<p>Apa-apa yang akan saya tulis nantinya akan mengandung bahasan mengenai kemiskinan, kesenjangan antara si kaya dan si miskin, kematian, penyimpangan norma, dan masalah-masalah sosial lain. Pun, enggak menutup kemungkinan akan terdapat adegan kekerasan dan pemaksaan yang muncul. Tapi, saya tidak akan menghadirkan adegan seksual di sini. Jadi, sebelum yakin untuk menekan tombol <em>follow</em>, mohon pastikan kalian enggak terganggu dengan konten yang nantinya akan saya munculkan di sini, ya. Tolong pahami dengan baik-baik.</p>

<blockquote><p><em>Apa kamu keberatan kalau saya unfollow gara-gara saya merasa enggak sreg dengan konten kamu?</em></p></blockquote>

<p>Tentu saja tidak keberatan! Dua rius, enggak keberatan sama sekali. Siapapun bebas untuk menentukan <em>follow</em> atau <em>unfollow</em> akun <strong>AngsangKinang</strong>. Tetapi, mohon jangan <em>block</em> atau <em>report</em>, ya, teman-teman? Nanti akunnya sakit, lho.</p>

<blockquote><p><em>Apa Menik ini dihidupkan pada setting dunia tanpa pandemi?</em></p></blockquote>

<p>Seratus! Yang ini enggak perlu dijelaskan lagi, alasannya jelas biar bisa lebih mudah menulis plotnya.</p>

<blockquote><p><em>Di mana Menik menetap?</em></p></blockquote>

<p>Menik kini menetap di Kota Jogja, namun sangat memungkinkan untuk menggunakan latar-latar kabupaten lain di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebab Menik memang digambarkan enggak (atau belum) pernah keluar dari Jogja.</p>

<blockquote><p><em>Apakah ada karakter krusial di cerita Menik?</em></p></blockquote>

<p>Ada beberapa, berikut nama-namanya: Kusnadi dan Mainah (ayah dan ibunya), Kenanga, Lindu, dan Bujang. Kamu akan dapat menemukan mereka nanti, seiring dengan berjalannya cerita!</p>

<blockquote><p><em>Apakah Menik terbuka untuk relasi dan plot?</em></p></blockquote>

<p>Tentu saja! Asal, bisa <em>nyambung</em> dengan kisahnya si Menik. Kalau sekiranya ada tawaran relasi atau ajakan plot, sila hampiri saya di DM, ya.</p>

<blockquote><p><em>Bagaimana soal penyaduran dan plagiarisme?</em></p></blockquote>

<p>Saya menentang keras segala wujud perbuatan yang bersifat menjiplak konten karakter saya. Bilamana terinspirasi, itu lain lagi. Mohon bedakan dengan baik.</p>

<blockquote><p><em>Bagaimana cara menyampaikan kritik dan saran kepada</em> <strong><em>MADUKARA</em></strong><em>?</em></p></blockquote>

<p>Kalian bisa ketuk DM untuk masalah ini! Saya sangat terbuka untuk kritik dan saran, dan saya akan rela membenahi apabila ada yang salah. Hanya saja, saya enggak akan menerima kritik dan saran apapun yang enggak diberikan lewat DM. Apalagi kalau lewat <em>curiouscat</em> lalu pakai fitur anonim. Maaf, saya enggak akan respons.</p>

<blockquote><p><em>Apa ada hal lain yang mau disampaikan?</em></p></blockquote>

<p>Ada! Saya tidak selektif perihal berteman (atau ber-<em>mutual</em>), hanya saja, saya cukul selektif menyangkut relasi. Bukan apa-apa, hal ini saya lakukan demi pengembangan karakter Menik. Jadi, saya enggak akan selalu menerima tawaran relasi.</p>

<p>Lalu, saya ini manusia yang juga punya kehidupan pribadi di dunia nyata. Saya pun punya kesibukan sendiri yang enggak bisa dipungkiri. Jadi, saya mohon maaf apabila saya lelet sekali dalam membalas plot! Sebab saya berpikir, kalau saya paksa membalas plot di waktu sempit dan suasana hati enggak enak, plot itu nantinya akan jadi kelihatan enggak niat dan pendek. Hal ini berlaku juga untuk interaksi (seperti <em>mention</em> dan DM).</p>

<p>Nah, saya sudah terlalu banyak cuap-cuap, sepertinya. Beberapa peraturan lain mengenai apa-apa yang ada di akun <strong>AngsangKinang</strong>, akan saya jatuhkan berupa utas di bawah laman ini, ya. Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai akhir. Semoga harimu baik selalu!</p>

<p><strong>Salam sayang, MADUKARA.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/salam-hangat-kamerad</guid>
      <pubDate>Tue, 15 Aug 2023 19:41:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>UNIVERSUM MENIK KERSANI</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/universum-menik-kersani?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Pertama-tama, mengenai karakter. Menik Kersani Linggayuran, perempuan yang datang dari pesisir, tepatnya dari Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Dulu, semasa ia masih di kampung halamannya, ayahnya bekerja sebagai seorang nelayan dan ibunya bekerja sebagai pengrajin tiwul dan patilo. Di usianya yang masih amat muda, ayahnya berpulang setelah suatu malam pamit pergi melaut dan tak pernah kembali lagi. Menik, ibunya, ayahnya, serta kakak perempuannya, Kenanga, sejak awal memang tak pernah punya keadaan ekonomi yang baik. Tetapi semua itu diperparah dengan kematian ayahnya yang jadi tulang punggung utama. Keadaan memaksa ibunya memutar otak, mencari pekerjaan di kota—setidaknya di sana ia bisa dapat pekerjaan yang lebih menjanjikan.&#xA;&#xA;Hal itulah yang menjadi asal-usul mengapa Menik tumbuh di Kota Jogja. Apakah ia hidup bersama ibunya dan kakak perempuannya? Dengan ibunya? Ya. Dengan kakaknya, Kenanga? Tidak. Awalnya mereka memang tiba bertiga. Namun suatu hari, Kenanga pamit untuk mencari kerja. Sebagaimana yang terjadi pada sang Ayah, Kenanga juga tak pernah kembali lagi ke rumah. Tapi Menik yakin kakaknya satu itu masih bernapas, sebab dia kerap dapat kiriman surat atas namanya di waktu yang tak bisa ditentukan, biasanya ditemani oleh beberapa lembar uang.&#xA;&#xA;Di universum ini, ada beberapa karakter penting: **Menik, Gisik, ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Pertama-tama, mengenai karakter. Menik Kersani Linggayuran, perempuan yang datang dari pesisir, tepatnya dari Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Dulu, semasa ia masih di kampung halamannya, ayahnya bekerja sebagai seorang nelayan dan ibunya bekerja sebagai pengrajin <em>tiwul</em> dan <em>patilo</em>. Di usianya yang masih amat muda, ayahnya berpulang setelah suatu malam pamit pergi melaut dan tak pernah kembali lagi. Menik, ibunya, ayahnya, serta kakak perempuannya, Kenanga, sejak awal memang tak pernah punya keadaan ekonomi yang baik. Tetapi semua itu diperparah dengan kematian ayahnya yang jadi tulang punggung utama. Keadaan memaksa ibunya memutar otak, mencari pekerjaan di kota—setidaknya di sana ia bisa dapat pekerjaan yang lebih menjanjikan.</p>

<p>Hal itulah yang menjadi asal-usul mengapa Menik tumbuh di Kota Jogja. Apakah ia hidup bersama ibunya dan kakak perempuannya? Dengan ibunya? Ya. Dengan kakaknya, Kenanga? Tidak. Awalnya mereka memang tiba bertiga. Namun suatu hari, Kenanga pamit untuk mencari kerja. Sebagaimana yang terjadi pada sang Ayah, Kenanga juga tak pernah kembali lagi ke rumah. Tapi Menik yakin kakaknya satu itu masih bernapas, sebab dia kerap dapat kiriman surat atas namanya di waktu yang tak bisa ditentukan, biasanya ditemani oleh beberapa lembar uang.</p>

<p>Di universum ini, ada beberapa karakter penting: **Menik, Gisik,</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/universum-menik-kersani</guid>
      <pubDate>Fri, 11 Aug 2023 15:25:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Tersyiar sebuah berita beranjak usia.</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/tersyiar-sebuah-berita-beranjak-usia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;Tersyiar sebuah berita beranjak usia, dijala oleh bantau telanjang tak nampak wujudnya dalam kendang telinga. Diantarnya kepadaku secara nyolong-nyolong, nampaknya tak ikhlas bila tawang dan karib-karibnya menjarah dengar.&#xA;&#xA;Ada suara-suara kudus yang mengilik-ngilik kisik; alai-belai magi menunggal bersama prahara pawana alangkah berisik.&#xA;&#xA;Jemaat zakiah yang membayang melabuh suah. Rapat, rapat, bahkan sejengkal pun nihil ordenya. Aku didekap secara batiniah. Intim, intim, kuputuskan tengka itu tak lain cuma bual belaka.&#xA;&#xA;Aku mendapat desas-desus. Aku dirayu, dirayu terus.&#xA;&#xA;Sabdanya, ada yang tengah berbahagia. Aku memfaal dan mereka-reka, kira-kira siapa?&#xA;&#xA;Apakah itu Kanjeng Ratu Pantai Selatan? Agak-agaknya bukan. Kalau iya, aku pasti diganjur untuk merahap di pinggir laut sekon ini juga, sagu hati hijau-hijau terjajar tumplak di pasir pucat manai.&#xA;&#xA;Ibu? Bapak? Bah, omong kosong! Mereka bahkan tak ingat kapan mereka keluar dari selangkangan ibu mereka, tak peduli kapan mereka bersemenda, dan tak tahu kapan mereka bercinta hingga menelurkanku di atas perahu yang berlenggang timpang. Kalau aku mendera mabuk laut dan mati saat itu juga, besoknya Bapak suah menjadikanku umpan untuk cari udang. Karena aku tak mabuk laut, mereka malah menyamakanku dengan penyakit anjing gila.&#xA;&#xA;Aku berkisut, mengerut. Lantas siapa? Siapa yang tengah berbahagia? Siapa yang tengah beranjak usia? Siapa?&#xA;&#xA;Entitas yang entah apa itu kembali mendekapku secara batiniah, dersik sakinah lajak saja berpadu dengan sirah darah. Merabas, merabas. Merembah, merembah.&#xA;&#xA;Suara agung sekonyong-konyong mengilhami hingga aku tersadar.&#xA;&#xA;Aku telah terilhami. Aku telah diilhami.&#xA;&#xA;Yang paling laksmi paras dan hati dari kami, yang paling laksmi paras dan hati dari kami. Berbahagialah, Mayang Nti. Berbahagialah, Mayang Nti.&#xA;&#xA;Ragaku terbius untuk berajojing di sembir pantai, tak menghirau kaki-kaki kurus yang menggeligis tersimbur keling air pasang. Aku jatuh terkulai, jatuh terkulai. Namun bibirku tak mogok berdoa, berdoa untuk yang tengah berbahagia. Aku memang badung separuh tak beragama. Namun untung kali ini, aku berhajat Tuhan betulan ada.&#xA;&#xA;Yang paling laksmi paras dan hati dari kami, yang paling laksmi paras dan hati dari kami. Berbahagialah, Mayang Nti. Berbahagialah, Mayang Nti.&#xA;&#xA;Aku memohon kukila berkenan membawa doaku hingga berlabuh di dekapanmu, Mayang. Hari ini, adalah hari perayaanmu. Berdansalah di gaunmu dengan bintang, mandilah bersimbah pendar alkamar nanti malam. Buatlah semua orang terlalai, tergenggam dalam jari-jemarimu yang panjang. Sebab kau pantas, kau jombang.&#xA;&#xA;Berbahagialah, sayang.&#xA;&#xA;Mayang yang tersayang,&#xA;dari Lauh Ranggit, ditulis di kamar sempit ukuran 3x3.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://imgurupload.org/files/1629693336586.jpg" alt=""/></p>

<p>Tersyiar sebuah berita beranjak usia, dijala oleh bantau telanjang tak nampak wujudnya dalam kendang telinga. Diantarnya kepadaku secara nyolong-nyolong, nampaknya tak ikhlas bila tawang dan karib-karibnya menjarah dengar.</p>

<p>Ada suara-suara kudus yang mengilik-ngilik kisik; alai-belai magi menunggal bersama prahara pawana alangkah berisik.</p>

<p>Jemaat zakiah yang membayang melabuh suah. Rapat, rapat, bahkan sejengkal pun nihil ordenya. Aku didekap secara batiniah. Intim, intim, kuputuskan tengka itu tak lain cuma bual belaka.</p>

<p>Aku mendapat desas-desus. Aku dirayu, dirayu terus.</p>

<p>Sabdanya, ada yang tengah berbahagia. Aku memfaal dan mereka-reka, kira-kira siapa?</p>

<p>Apakah itu Kanjeng Ratu Pantai Selatan? Agak-agaknya bukan. Kalau iya, aku pasti diganjur untuk merahap di pinggir laut sekon ini juga, sagu hati hijau-hijau terjajar tumplak di pasir pucat manai.</p>

<p>Ibu? Bapak? <em>Bah</em>, omong kosong! Mereka bahkan tak ingat kapan mereka keluar dari selangkangan ibu mereka, tak peduli kapan mereka bersemenda, dan tak tahu kapan mereka bercinta hingga menelurkanku di atas perahu yang berlenggang timpang. Kalau aku mendera mabuk laut dan mati saat itu juga, besoknya Bapak suah menjadikanku umpan untuk cari udang. Karena aku tak mabuk laut, mereka malah menyamakanku dengan penyakit anjing gila.</p>

<p>Aku berkisut, mengerut. Lantas siapa? Siapa yang tengah berbahagia? Siapa yang tengah beranjak usia? Siapa?</p>

<p>Entitas yang entah apa itu kembali mendekapku secara batiniah, dersik sakinah lajak saja berpadu dengan sirah darah. Merabas, merabas. Merembah, merembah.</p>

<p>Suara agung sekonyong-konyong mengilhami hingga aku tersadar.</p>

<p>Aku telah terilhami. Aku telah diilhami.</p>

<p><em>Yang paling laksmi paras dan hati dari kami, yang paling laksmi paras dan hati dari kami. Berbahagialah, Mayang Nti. Berbahagialah, Mayang Nti.</em></p>

<p>Ragaku terbius untuk berajojing di sembir pantai, tak menghirau kaki-kaki kurus yang menggeligis tersimbur keling air pasang. Aku jatuh terkulai, jatuh terkulai. Namun bibirku tak mogok berdoa, berdoa untuk yang tengah berbahagia. Aku memang badung separuh tak beragama. Namun untung kali ini, aku berhajat Tuhan betulan ada.</p>

<p><em>Yang paling laksmi paras dan hati dari kami, yang paling laksmi paras dan hati dari kami. Berbahagialah, Mayang Nti. Berbahagialah, Mayang Nti.</em></p>

<p>Aku memohon kukila berkenan membawa doaku hingga berlabuh di dekapanmu, Mayang. Hari ini, adalah hari perayaanmu. Berdansalah di gaunmu dengan bintang, mandilah bersimbah pendar alkamar nanti malam. Buatlah semua orang terlalai, tergenggam dalam jari-jemarimu yang panjang. Sebab kau pantas, kau jombang.</p>

<p>Berbahagialah, sayang.</p>

<p><strong>Mayang yang tersayang,
dari Lauh Ranggit, ditulis di kamar sempit ukuran 3x3.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/tersyiar-sebuah-berita-beranjak-usia</guid>
      <pubDate>Mon, 23 Aug 2021 04:19:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>SALAM HANGAT.</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/salam-hangat-ky9l?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;Halo, kamu yang baru berkunjung ke laman milik Lauh Ranggit! Saya ucapkan selamat datang.&#xA;&#xA;Pertama-tama, perkenalkan, saya adalah MADUKARA, insan yang bertanggungjawab atas segala yang berkaitan dengan si anak manis, Lauh.&#xA;&#xA;Hadirnya saya di sini, untuk memberi beberapa informasi yang sekiranya penting, sebelum kamu memutuskan untuk memencet tombol follow di akun SOERALAJA.&#xA;&#xA;  Lauh ini karakter yang seperti apa, sih?&#xA;&#xA;Karakter Lauh ini digambarkan sebagai sosok gadis cerdik yang tidak suka dikekang, yang berasal dari pesisir, tepatnya di Pantai Pulang Sawal (Indrayanti), Gunungkidul, tetapi merantau ke kota Jogja untuk berkuliah karena mendapat beasiswa. Kata kunci utama dari Lauh adalah pecinta alam.&#xA;&#xA;  Kira-kira, konten akun ini membahas tentang apa saja?&#xA;&#xA;Apa-apa yang akan saya tulis nantinya akan mengandung bahasan kesenjangan antara si kaya dan si miskin, kematian, penyimpangan norma, bentuk-bentuk perundungan (di organisasi pecinta alam), dan beberapa bahasan sosial lain. Pun, enggak menutup kemungkinan akan terdapat adegan kekerasan dan pemaksaan yang muncul. Adegan seksual, kira-kira hanya akan muncul sekilas di awal. Jadi, sebelum yakin untuk menekan tombol follow, mohon pastikan kalian enggak terganggu dengan konten yang nantinya akan saya munculkan di sini, ya. Tolong pahami dengan baik-baik.&#xA;&#xA;  Apa kamu keberatan kalau saya unfollow gara-gara saya enggak sreg dengan konten kamu?&#xA;&#xA;Tentu saja tidak keberatan! Dua rius, enggak keberatan sama sekali. Siapapun bebas untuk menentukan follow atau unfollow akun ini. Tetapi, mohon jangan block atau report, ya, teman-teman? Nanti akunnya sakit, lho.&#xA;&#xA;  Apa Lauh menggunakan setting dunia tanpa pandemi?&#xA;&#xA;Betul sekali! Yang satu ini enggak perlu dijelaskan lagi, alasannya jelas biar bisa lebih mudah dalam menulis plotnya.&#xA;&#xA;  Di mana Lauh menetap?&#xA;&#xA;Lauh punya dua tempat tinggal. Yang pertama rumahnya, kampung halamannya, di pinggir Pantai Pulang Sawal (Indrayanti), Gunungkidul. Yang kedua, indekosnya selama berkuliah di Jogja, tepatnya di Pogung Kidul, Sinduadi.&#xA;&#xA;  Apakah ada karakter krusial di cerita Lauh?&#xA;&#xA;Ada, tentu saja! Mereka ialah Sauh Mualim dan Ratih Isra.&#xA;&#xA;  Apakah Lauh terbuka untuk relasi dan plot?&#xA;&#xA;Tentu saja! Asal, bisa nyambung dengan kisahnya si Lauh. Kalau sekiranya ada tawaran relasi atau ajakan plot, sila hampiri saya di DM, ya.&#xA;&#xA;  Bagaimana soal penyaduran dan plagiarisme?&#xA;&#xA;Saya menentang keras segala wujud perbuatan yang bersifat menjiplak konten karakter saya. Bilamana terinspirasi, itu lain lagi. Mohon bedakan dengan baik.&#xA;&#xA;  Bagaimana cara menyampaikan kritik dan saran kepada MADUKARA?&#xA;&#xA;Kalian bisa ketuk DM untuk masalah ini! Saya sangat terbuka untuk kritik dan saran, dan saya akan rela membenahi apabila ada yang salah. Hanya saja, saya enggak akan menerima kritik dan saran apapun yang enggak diberikan lewat DM. Apalagi kalau lewat curiouscat lalu pakai fitur anonim. Maaf, saya enggak akan respons.&#xA;&#xA;  Apa ada hal lain yang mau disampaikan?&#xA;&#xA;Ada! Saya tidak selektif perihal berteman (atau ber-mutual), hanya saja, saya selektif soal relasi. Bukan apa-apa, hal ini saya lakukan demi pengembangan karakter Lauh. Jadi, saya enggak akan selalu menerima tawaran relasi.&#xA;&#xA;Lalu, saya ini manusia yang juga punya kehidupan pribadi di dunia nyata. Saya pun punya kesibukan sendiri yang enggak bisa dipungkiri. Jadi, saya mohon maaf apabila saya lelet sekali dalam membalas plot! Sebab saya berpikir, kalau saya paksa membalas plot di waktu sempit dan suasana hati enggak enak, plot itu nantinya akan jadi kelihatan enggak niat dan pendek. Hal ini berlaku juga untuk interaksi (seperti mention dan DM).&#xA;&#xA;Nah, saya sudah terlalu banyak cuap-cuap, sepertinya. Beberapa peraturan lain mengenai apa-apa yang ada di akun SOERALAJA, akan saya jatuhkan berupa twit di bawah laman ini, ya. Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai akhir. Semoga harimu baik selalu!]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://imgur.com/1dcTY6D.jpg" alt=""/></p>

<p>Halo, kamu yang baru berkunjung ke laman milik Lauh Ranggit! Saya ucapkan selamat datang.</p>

<p>Pertama-tama, perkenalkan, saya adalah <strong>MADUKARA</strong>, insan yang bertanggungjawab atas segala yang berkaitan dengan si anak manis, Lauh.</p>

<p>Hadirnya saya di sini, untuk memberi beberapa informasi yang sekiranya penting, sebelum kamu memutuskan untuk memencet tombol <em>follow</em> di akun <strong>SOERALAJA</strong>.</p>

<blockquote><p>Lauh ini karakter yang seperti apa, sih?</p></blockquote>

<p>Karakter Lauh ini digambarkan sebagai sosok gadis cerdik yang tidak suka dikekang, yang berasal dari pesisir, tepatnya di Pantai Pulang Sawal (Indrayanti), Gunungkidul, tetapi merantau ke kota Jogja untuk berkuliah karena mendapat beasiswa. Kata kunci utama dari Lauh adalah <strong>pecinta alam</strong>.</p>

<blockquote><p>Kira-kira, konten akun ini membahas tentang apa saja?</p></blockquote>

<p>Apa-apa yang akan saya tulis nantinya akan mengandung bahasan kesenjangan antara si kaya dan si miskin, kematian, penyimpangan norma, bentuk-bentuk perundungan (di organisasi pecinta alam), dan beberapa bahasan sosial lain. Pun, enggak menutup kemungkinan akan terdapat adegan kekerasan dan pemaksaan yang muncul. Adegan seksual, kira-kira hanya akan muncul sekilas di awal. Jadi, sebelum yakin untuk menekan tombol <em>follow</em>, mohon pastikan kalian enggak terganggu dengan konten yang nantinya akan saya munculkan di sini, ya. Tolong pahami dengan baik-baik.</p>

<blockquote><p>Apa kamu keberatan kalau saya <em>unfollow</em> gara-gara saya enggak <em>sreg</em> dengan konten kamu?</p></blockquote>

<p>Tentu saja tidak keberatan! Dua rius, enggak keberatan sama sekali. Siapapun bebas untuk menentukan <em>follow</em> atau <em>unfollow</em> akun ini. Tetapi, mohon jangan <em>block</em> atau <em>report</em>, ya, teman-teman? Nanti akunnya sakit, lho.</p>

<blockquote><p>Apa Lauh menggunakan <em>setting</em> dunia tanpa pandemi?</p></blockquote>

<p>Betul sekali! Yang satu ini enggak perlu dijelaskan lagi, alasannya jelas biar bisa lebih mudah dalam menulis plotnya.</p>

<blockquote><p>Di mana Lauh menetap?</p></blockquote>

<p>Lauh punya dua tempat tinggal. Yang pertama rumahnya, kampung halamannya, di pinggir Pantai Pulang Sawal (Indrayanti), Gunungkidul. Yang kedua, indekosnya selama berkuliah di Jogja, tepatnya di Pogung Kidul, Sinduadi.</p>

<blockquote><p>Apakah ada karakter krusial di cerita Lauh?</p></blockquote>

<p>Ada, tentu saja! Mereka ialah Sauh Mualim dan Ratih Isra.</p>

<blockquote><p>Apakah Lauh terbuka untuk relasi dan plot?</p></blockquote>

<p>Tentu saja! Asal, bisa <em>nyambung</em> dengan kisahnya si Lauh. Kalau sekiranya ada tawaran relasi atau ajakan plot, sila hampiri saya di DM, ya.</p>

<blockquote><p>Bagaimana soal penyaduran dan plagiarisme?</p></blockquote>

<p>Saya <strong>menentang keras</strong> segala wujud perbuatan yang bersifat menjiplak konten karakter saya. Bilamana terinspirasi, itu lain lagi. Mohon bedakan dengan baik.</p>

<blockquote><p>Bagaimana cara menyampaikan kritik dan saran kepada <strong>MADUKARA</strong>?</p></blockquote>

<p>Kalian bisa ketuk DM untuk masalah ini! Saya sangat terbuka untuk kritik dan saran, dan saya akan rela membenahi apabila ada yang salah. Hanya saja, saya enggak akan menerima kritik dan saran apapun yang enggak diberikan lewat DM. Apalagi kalau lewat curiouscat lalu pakai fitur anonim. Maaf, saya enggak akan respons.</p>

<blockquote><p>Apa ada hal lain yang mau disampaikan?</p></blockquote>

<p>Ada! Saya tidak selektif perihal berteman (atau ber-<em>mutual</em>), hanya saja, saya selektif soal relasi. Bukan apa-apa, hal ini saya lakukan demi pengembangan karakter Lauh. Jadi, saya enggak akan selalu menerima tawaran relasi.</p>

<p>Lalu, saya ini manusia yang juga punya kehidupan pribadi di dunia nyata. Saya pun punya kesibukan sendiri yang enggak bisa dipungkiri. Jadi, saya mohon maaf apabila saya lelet sekali dalam membalas plot! Sebab saya berpikir, kalau saya paksa membalas plot di waktu sempit dan suasana hati enggak enak, plot itu nantinya akan jadi kelihatan enggak niat dan pendek. Hal ini berlaku juga untuk interaksi (seperti <em>mention</em> dan DM).</p>

<p>Nah, saya sudah terlalu banyak cuap-cuap, sepertinya. Beberapa peraturan lain mengenai apa-apa yang ada di akun <strong>SOERALAJA</strong>, akan saya jatuhkan berupa twit di bawah laman ini, ya. Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai akhir. Semoga harimu baik selalu!</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/salam-hangat-ky9l</guid>
      <pubDate>Tue, 17 Aug 2021 14:10:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>LAUH.</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/lauh-ranggit-2001-lahir-di-pantai-pulang-sawal-indrayanti-gunungkidul?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Lauh Ranggit, 2001, lahir di Pantai Pulang Sawal (Indrayanti), Gunungkidul. Ayahnya nelayan, ibunya penjahit kebaya. Punya dua kakak laki-laki. Yang paling tua, namanya Jala, kerja di Jakarta. Yang kedua, namanya Bidar, kerja di Jogja. &#xA;&#xA;Di Pulang Sawal, alias kampung dan tempat besarnya, Lauh punya dua sahabat. Yang pertama, namanya Sauh Mualim, Sauh. Yang kedua, namanya Ratih Isra, Ratih, saudara kembarnya Sauh. &#xA;&#xA;Lauh, Sauh, Ratih dari kecil selalu bersama. main bertiga, sekolah bertiga, sampai dapat beasiswa untuk kuliah di UGM pun bertiga. sayangnya, mereka berpisah fakultas dan jurusan. &#xA;&#xA;tapi hal itu belum juga bisa memisahkan mereka bertiga. mereka bergabung dengan MAPAGAMA, UKM pecinta alam di UGM. berkat ada di satu UKM yang sama, mereka jadi sering bertemu. &#xA;&#xA;kalau aku yang menulis cerita, enggak mungkin luput dari bagian sedih-sedihnya. suatu waktu di tahun 2020, mereka bertiga memutuskan untuk nanjak ke Gunung Slamet bertiga. awalnya, semuanya berjalan lancar. mereka bisa mendirikan tenda di pos terakhir. besoknya, waktu jam 3 pagi mereka mau summit attack (istilah untuk naik sampai ke puncak), kabut tiba-tiba menebal. di sanalah mereka mengalami point of no return, alias enggak ada pilihan lain untuk terus nanjak karena kalau turun ke tenda bahayanya lebih besar. mereka terus naik, tapi kabut enggak kunjung hilang. di sana kondisi mereka mulai melemah, karena perbekalan cuma sedikit yang dibawa, sisanya ditinggal di tenda. sewaktu mereka akhirnya memutuskan untuk menepi sebentar, Ratih diserang hipotermia. fokusnya hilang dan sudah susah diajak bicara. Sauh nekat memutuskan buat turun, cari pertolongan ke desa terdekat, sementara Lauh menjaga Ratih. Sauh sempat tersasar, namun karena mengikuti jalur sungai, akhirnya berhasil sampai ke desa terdekat. ketika Sauh kembali ke tempat dua sahabatnya dengan membawa beberapa orang desa untuk menolong, Ratih sudah meninggal di pangkuan Lauh, dengan Lauh yang masih mencoba memberi Ratih kehangatan dengan memegang tangannya erat-erat, dan menangis. &#xA;&#xA;selepas kepergian Ratih, Lauh dan Sauh belum pernah kembali menanjak Gunung Slamet lagi. pun semenjak itu, hubungan mereka merenggang. mereka memang sekampus, tapi interaksi mereka cuma sebatas waktu mereka kembali ke rumah di Pulang Sawal, atau pas sedang ada kegiatan MAPAGAMA. &#xA;&#xA;sedihnya belum selesai. nanti, ayahnya Lauh diceritakan meninggal di laut. di satu malam, beliau pamit untuk melaut. tapi beliau enggak kunjung pulang sampai pagi, esok pagi, lusa pagi, sampai kapanpun. tapi ini masih cerita nanti, masih agak lama. &#xA;&#xA;soal romansa, ini enggak berbelit-belit banyak tokohnya kayak Manah. cuma sama Sauh, romansanya. cuma romansanya ini munculnya mungkin enggak secara gamblang, karena Lauh sama Sauh sama-sama sembunyi di balik nama persahabatan. &#xA;&#xA;tapi mengejutkannya, cerita ini nanti ending-nya malah cenderung bahagia. yang ini kusimpan dulu biar jadi rahasia. 👍]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lauh Ranggit</strong>, 2001, lahir di Pantai Pulang Sawal (Indrayanti), Gunungkidul. Ayahnya nelayan, ibunya penjahit kebaya. Punya dua kakak laki-laki. Yang paling tua, namanya Jala, kerja di Jakarta. Yang kedua, namanya Bidar, kerja di Jogja.</p>

<p>Di Pulang Sawal, alias kampung dan tempat besarnya, Lauh punya dua sahabat. Yang pertama, namanya <strong>Sauh Mualim</strong>, Sauh. Yang kedua, namanya <strong>Ratih Isra</strong>, Ratih, saudara kembarnya Sauh.</p>

<p>Lauh, Sauh, Ratih dari kecil selalu bersama. main bertiga, sekolah bertiga, sampai dapat beasiswa untuk kuliah di UGM pun bertiga. sayangnya, mereka berpisah fakultas dan jurusan.</p>

<p>tapi hal itu belum juga bisa memisahkan mereka bertiga. mereka bergabung dengan MAPAGAMA, UKM pecinta alam di UGM. berkat ada di satu UKM yang sama, mereka jadi sering bertemu.</p>

<p>kalau aku yang menulis cerita, enggak mungkin luput dari bagian sedih-sedihnya. suatu waktu di tahun 2020, mereka bertiga memutuskan untuk nanjak ke Gunung Slamet bertiga. awalnya, semuanya berjalan lancar. mereka bisa mendirikan tenda di pos terakhir. besoknya, waktu jam 3 pagi mereka mau <em>summit attack</em> (istilah untuk naik sampai ke puncak), kabut tiba-tiba menebal. di sanalah mereka mengalami <em>point of no return</em>, alias enggak ada pilihan lain untuk terus nanjak karena kalau turun ke tenda bahayanya lebih besar. mereka terus naik, tapi kabut enggak kunjung hilang. di sana kondisi mereka mulai melemah, karena perbekalan cuma sedikit yang dibawa, sisanya ditinggal di tenda. sewaktu mereka akhirnya memutuskan untuk menepi sebentar, Ratih diserang hipotermia. fokusnya hilang dan sudah susah diajak bicara. Sauh nekat memutuskan buat turun, cari pertolongan ke desa terdekat, sementara Lauh menjaga Ratih. Sauh sempat tersasar, namun karena mengikuti jalur sungai, akhirnya berhasil sampai ke desa terdekat. ketika Sauh kembali ke tempat dua sahabatnya dengan membawa beberapa orang desa untuk menolong, Ratih sudah meninggal di pangkuan Lauh, dengan Lauh yang masih mencoba memberi Ratih kehangatan dengan memegang tangannya erat-erat, dan menangis.</p>

<p>selepas kepergian Ratih, Lauh dan Sauh belum pernah kembali menanjak Gunung Slamet lagi. pun semenjak itu, hubungan mereka merenggang. mereka memang sekampus, tapi interaksi mereka cuma sebatas waktu mereka kembali ke rumah di Pulang Sawal, atau pas sedang ada kegiatan MAPAGAMA.</p>

<p>sedihnya belum selesai. nanti, ayahnya Lauh diceritakan meninggal di laut. di satu malam, beliau pamit untuk melaut. tapi beliau enggak kunjung pulang sampai pagi, esok pagi, lusa pagi, sampai kapanpun. tapi ini masih cerita nanti, masih agak lama.</p>

<p>soal romansa, ini enggak berbelit-belit banyak tokohnya kayak Manah. cuma sama Sauh, romansanya. cuma romansanya ini munculnya mungkin enggak secara gamblang, karena Lauh sama Sauh sama-sama sembunyi di balik nama persahabatan.</p>

<p>tapi mengejutkannya, cerita ini nanti ending-nya malah cenderung bahagia. yang ini kusimpan dulu biar jadi rahasia. 👍</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/lauh-ranggit-2001-lahir-di-pantai-pulang-sawal-indrayanti-gunungkidul</guid>
      <pubDate>Tue, 17 Aug 2021 05:15:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>SEKILAS TENTANG WENING.</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/sekilas-tentang-wening-yq7c?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Wening Narpa Dayita, anak bungsunya Pak Lurah yang paling disayang sama seantero Kelurahan Prenggan. Paling kaya juga, jelas. Yang paling berada di antara Manah sama Laut. Tapi karena dia kaya dan julukannya sebagai &#34;Anak Pak Lurah&#34; itu melekat, Wening jadi dianggap enggak asyik sama teman-temannya di sekolah dan di kelas. Dianggap sombong karena dia orang kaya, dianggap jaga imej karena dia anaknya pejabat kelurahan. Padahal dia sebenarnya enggak gitu. Anaknya polos-polos lucu, seru diajak cerita dan bercanda. &#xA;&#xA;Wening ini adik kelasnya Manah sama Laut, lebih muda setahun. Tapi saking akrabnya, Wening manggil mereka enggak pakai honorifik kak, mas, mbak. Manggilnya langsung nama. Wening kenal dan jadi dekat sama Manah dan Laut itu berawal gara-gara pernah kejebak hujan bertiga sampai sore di sekolah waktu SMA. Dari sana jadi sering ngobrol dan suka main bersama. Istilahnya, mereka bertiga jadi enggak terpisahkan. Manah, Laut, dan Wening ini ketiganya sama-sama enggak punya teman lain di sekolah. Mereka selalu bertiga-tiga aja. Karena berbagi perasaan sama-sama dijauhin dan enggak punya teman inilah, Manah, Laut, dan Wening berteman. &#xA;&#xA;Aku belum nentuin terlalu detail tentang hal-hal lainnya, sih! Cuma, aku bikin Wening ini juga di UGM, biar enak nulisnya kalau satu kampus. Sisanya ... apalagi, ya? Aku sempet nulis sekilas dinamikanya buat orang yang waktu itu nawarin diri jadi Laut, tapi dianya malah hilang. Biar tambah paham, kamu bisa cek di sini! Kalau kamu baca itu, nanti ada arahan lagi mengarah ke link sekilas dinamikanya Bahtera Sabrang Manah biar makin jelas. &#xA;&#xA;Asli, ini semestanya memang ramai banget dan belibet. Kalau nggak paham, bilang ke aku ya sayang, nanti aku jelasin ulang. T_____T&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wening Narpa Dayita</strong>, anak bungsunya Pak Lurah yang paling disayang sama seantero Kelurahan Prenggan. Paling kaya juga, jelas. Yang paling berada di antara Manah sama Laut. Tapi karena dia kaya dan julukannya sebagai “Anak Pak Lurah” itu melekat, Wening jadi dianggap enggak asyik sama teman-temannya di sekolah dan di kelas. Dianggap sombong karena dia orang kaya, dianggap jaga imej karena dia anaknya pejabat kelurahan. Padahal dia sebenarnya enggak gitu. Anaknya polos-polos lucu, seru diajak cerita dan bercanda.</p>

<p>Wening ini adik kelasnya Manah sama Laut, lebih muda setahun. Tapi saking akrabnya, Wening manggil mereka enggak pakai honorifik kak, mas, mbak. Manggilnya langsung nama. Wening kenal dan jadi dekat sama Manah dan Laut itu berawal gara-gara pernah kejebak hujan bertiga sampai sore di sekolah waktu SMA. Dari sana jadi sering ngobrol dan suka main bersama. Istilahnya, mereka bertiga jadi enggak terpisahkan. Manah, Laut, dan Wening ini ketiganya sama-sama enggak punya teman lain di sekolah. Mereka selalu bertiga-tiga aja. Karena berbagi perasaan sama-sama dijauhin dan enggak punya teman inilah, Manah, Laut, dan Wening berteman.</p>

<p>Aku belum nentuin terlalu detail tentang hal-hal lainnya, sih! Cuma, aku bikin Wening ini juga di UGM, biar enak nulisnya kalau satu kampus. Sisanya ... apalagi, ya? Aku sempet nulis sekilas dinamikanya buat orang yang waktu itu nawarin diri jadi Laut, tapi dianya malah hilang. Biar tambah paham, kamu bisa cek di <a href="https://write.as/sabda-berjujai/pertama-tama-mengenai-karakter" rel="nofollow">sini</a>! Kalau kamu baca itu, nanti ada arahan lagi mengarah ke link sekilas dinamikanya Bahtera Sabrang Manah biar makin jelas.</p>

<p>Asli, ini semestanya memang ramai banget dan belibet. Kalau nggak paham, bilang ke aku ya sayang, nanti aku jelasin ulang. T_____T</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/sekilas-tentang-wening-yq7c</guid>
      <pubDate>Wed, 11 Aug 2021 16:22:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>I.</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/i-ycrz?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Suta, mending kamu bantu bapakmu ngangon di sawah.&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Dari tadi berkutat sama buku terus, memangnya kamu pikir kerjaan bapakmu akan selesai dengan kamu hanya baca buku?&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Buku enggak akan bikin kita kaya, Suta.&#34;&#xA;&#xA;Ibu.&#xA;&#xA;Aku menyayangi dan menghormatinya dengan amat sangat. Bagaimanapun juga, beliau tetap ibuku.&#xA;&#xA;Meski aku selalu diam-diam berdoa ibuku bisa sebaik ibu-ibu temanku ketika melihat anaknya tekun belajar.&#xA;&#xA;Teman-temanku dipuji ketika baca buku, aku malah disambit pakai jarik batik ibu.&#xA;&#xA;  &#34;Bu, Suta sudah kelas dua belas.&#34;&#xA;  &#34;Suta harus belajar untuk ujian.&#34;&#xA;  &#34;Suta mau kuliah di UGM.&#34;&#xA;&#xA;Kini aku bukan disambit lagi. Jarik batik yang biasa dipakai untuk membungkus mayat di kampungku itu dilempar dengan sekuat tenaga ke arah kepalaku.&#xA;&#xA;Aku oleng sedikit, membentur buku biologi yang sejak tadi kugelontorkan atensi.&#xA;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Cah gendeng!&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Kuliah?&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ &#34;Mau kuliah pakai duit siapa kamu?&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ &#34;Duit bapakmu?&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Dasar anak enggak tahu diuntung!&#34;&#xA;&#xA;Ibu pergi dengan kaki yang terhentak-hentak, menggetarkan lantai kayu rumah reyotku.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Suta, mending kamu bantu bapakmu ngangon di sawah.”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Dari tadi berkutat sama buku terus, memangnya kamu pikir kerjaan bapakmu akan selesai dengan kamu hanya baca buku?”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Buku enggak akan bikin kita kaya, Suta.”</em></p></blockquote>

<p>Ibu.</p>

<p>Aku menyayangi dan menghormatinya dengan amat sangat. Bagaimanapun juga, beliau tetap ibuku.</p>

<p>Meski aku selalu diam-diam berdoa ibuku bisa sebaik ibu-ibu temanku ketika melihat anaknya tekun belajar.</p>

<p>Teman-temanku dipuji ketika baca buku, aku malah disambit pakai <em>jarik</em> batik ibu.</p>

<blockquote><p><em>“Bu, Suta sudah kelas dua belas.”</em>
<em>“Suta harus belajar untuk ujian.”</em>
<em>“Suta mau kuliah di UGM.”</em></p></blockquote>

<p>Kini aku bukan disambit lagi. <em>Jarik</em> batik yang biasa dipakai untuk membungkus mayat di kampungku itu dilempar dengan sekuat tenaga ke arah kepalaku.</p>

<p>Aku oleng sedikit, membentur buku biologi yang sejak tadi kugelontorkan atensi.</p>

<blockquote><p>ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Cah gendeng!”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Kuliah?”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ <em>“Mau kuliah pakai duit siapa kamu?”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ <em>“Duit bapakmu?”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Dasar anak enggak tahu diuntung!”</em></p></blockquote>

<p>Ibu pergi dengan kaki yang terhentak-hentak, menggetarkan lantai kayu rumah reyotku.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/i-ycrz</guid>
      <pubDate>Wed, 11 Aug 2021 13:11:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>III.</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/iii-8ck8?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Menyambut awang-awang yang mulai penyap pendarnya menjelang, Mbak Maka pulang. Romannya nampak dengkik dengan kacamata nang turun dan surai jelaga nang acak-acakan. Tangan kanannya mendekap segunung kertas-kertas, sementara tangan kirinya bergiat melepas sepatu putihnya yang mulai menguning perlahan demi perlahan.&#xA;&#xA;Aku menyambutnya dengan senyum kecil, berharap senyumku bisa secara ajaib menular padanya.&#xA;&#xA;  &#34;Mbak Maka.&#34;&#xA;  &#34;Tumben pulangnya sore banget.&#34;&#xA;  &#34;Sini, Mbak, biar &#39;tak bantu bawa kertas-kertasnya.&#34;&#xA;&#xA;Mbak Maka tak memarih penafian sama sekali ketika selarap karantalaku mulai memindahtangankan kertas-kertas yang tadi didekap Mbak Maka erat-erat. Ia kemudian menggelandang napas panjang.&#xA;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Ada masalah yang lumayan bikin repot di kampus tadi, Nah.&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Mbak capek banget rasanya hari ini.&#34;&#xA;&#xA;Kaki-kaki kecil kami beriringan membawa aku dan kakak perempuanku satu-satunya itu berjalan untuk masuk ke dalam rumah petak kami. Aku mewalakkan kertas-kertas milik Mbak Maka di meja ruang tamu, berdampingan dengan asbak yang juga milik Mbak Maka. Sementara Mbak Maka menghembalang awaknya dengan penuh kelesuan ke sofa reyot sebelah meja.&#xA;&#xA;  &#34;Mbak.&#34;&#xA;  &#34;Mau ngudut dulu?&#34;&#xA;  &#34;Mau &#39;tak belikan rokok dulu ke warung?&#34;&#xA;&#xA;Mbak Maka tidak bisa hidup tanpa rokok. Ngudut adalah satu-satunya pelarian Mbak Maka bila ia tengah dipersendakan semesta. Tapi kali ini, Mbak Maka menggelengkan kapita.&#xA;&#xA;Tawaranku untuk membelikannya rokok di warung ditolak. Sebuah kejadian langka.&#xA;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Nanti malam &#39;kan Ayah mau ajak kita bicara.&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ &#34;Mbak enggak mau suara batuk-batuk Mbak mengganggu pembicaraan serius antara kita bertiga.&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Batuk-batuk dan ngudutnya, kutunda besok saja.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Menyambut awang-awang yang mulai penyap pendarnya menjelang, Mbak Maka pulang. Romannya nampak dengkik dengan kacamata nang turun dan surai jelaga nang acak-acakan. Tangan kanannya mendekap segunung kertas-kertas, sementara tangan kirinya bergiat melepas sepatu putihnya yang mulai menguning perlahan demi perlahan.</p>

<p>Aku menyambutnya dengan senyum kecil, berharap senyumku bisa secara ajaib menular padanya.</p>

<blockquote><p><em>“Mbak Maka.”</em>
<em>“Tumben pulangnya sore banget.”</em>
<em>“Sini, Mbak, biar &#39;tak bantu bawa kertas-kertasnya.”</em></p></blockquote>

<p>Mbak Maka tak memarih penafian sama sekali ketika selarap karantalaku mulai memindahtangankan kertas-kertas yang tadi didekap Mbak Maka erat-erat. Ia kemudian menggelandang napas panjang.</p>

<blockquote><p>ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Ada masalah yang lumayan bikin repot di kampus tadi, Nah.”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Mbak capek banget rasanya hari ini.”</em></p></blockquote>

<p>Kaki-kaki kecil kami beriringan membawa aku dan kakak perempuanku satu-satunya itu berjalan untuk masuk ke dalam rumah petak kami. Aku mewalakkan kertas-kertas milik Mbak Maka di meja ruang tamu, berdampingan dengan asbak yang juga milik Mbak Maka. Sementara Mbak Maka menghembalang awaknya dengan penuh kelesuan ke sofa reyot sebelah meja.</p>

<blockquote><p><em>“Mbak.”</em>
<em>“Mau ngudut dulu?”</em>
<em>“Mau &#39;tak belikan rokok dulu ke warung?”</em></p></blockquote>

<p>Mbak Maka tidak bisa hidup tanpa rokok. <em>Ngudut</em> adalah satu-satunya pelarian Mbak Maka bila ia tengah dipersendakan semesta. Tapi kali ini, Mbak Maka menggelengkan kapita.</p>

<p>Tawaranku untuk membelikannya rokok di warung ditolak. Sebuah kejadian langka.</p>

<blockquote><p>ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Nanti malam &#39;kan Ayah mau ajak kita bicara.”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ <em>“Mbak enggak mau suara batuk-batuk Mbak mengganggu pembicaraan serius antara kita bertiga.”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Batuk-batuk dan ngudutnya, kutunda besok saja.”</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/iii-8ck8</guid>
      <pubDate>Sun, 25 Jul 2021 17:10:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>II.</title>
      <link>https://geranyam.writeas.com/ii-bmv6?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bel pulang sekolah menjadi pelebaya buatku untuk bisa segera merapikan barang-barang di atas dan kolong meja. Di sebelahku, Laut menatapku dengan dua alis yang bertaut.&#xA;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Nah, Manah.&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Ngopo sih, kok kesusu koyok ngono?&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Lagi dikejar demit po, kowe ki?&#34;&#xA;&#xA;Kenapa sih, kok buru-buru kayak gini? Lagi dikejar setan kah, kamu ini?&#xA;&#xA;  &#34;Enggak, enggak kenapa-kenapa.&#34;&#xA;  &#34;Aku cuma pingin buru-buru pulang, ada urusan sama Ayah.&#34;&#xA;  &#34;Ayo, Ut, anterin aku pulang sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Padahal Ayah juga pulangnya masih malam nanti, tapi aku betul-betul tak sabar karena sudah dibuat tak tenang seharian ini.&#xA;&#xA;Laut mengganjur napas panjang, nampaknya pasrah dengan kelakuanku. Dia menarik tas selempangnya yang buluk bukan main, sebelum merangkulku untuk berjalan menuju parkiran.&#xA;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Nek ono opo-opo, Nah—&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;—kowe iso cerito karo aku.&#34;&#xA;&#xA;Kalau ada apa-apa, Nah, kamu bisa cerita sama aku.&#xA;&#xA;Di tengah-tengah langkah gontai kami menuju tempat kuda besi Laut terparkir, dia berkata begitu sambil menatapku.&#xA;&#xA;Aku balik menatapnya, lantas mengembangkan senyuman simpul pada roman. Satu karantalaku terangkat, iseng menjitak keningnya pelan.&#xA;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Heh, jangkrik!&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Kok aku malah mbok jitak iki lho?&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Aku ngomong serius, lho!&#34;&#xA;&#xA;Mendengar reaksinya, aku tidak bisa tidak tertawa. Laut memang paling seru diajak bercanda.&#xA;&#xA;  &#34;Iyoooooo, Laut Buhpala sing paling ngganteng sejagat raya.&#34;&#xA;  &#34;Eh, enggak deng, dudu sing paling ngganteng.&#34;&#xA;  &#34;Paling nggilani, kowe mah.&#34;&#xA;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Jangkrik!&#34;&#xA;  ㅤㅤㅤㅤㅤ&#34;Tak pites yo, kowe?!&#34;&#xA;&#xA;Lengan kirinya yang tadi merangkulku, kini dibuat Laut mengerat di bagian leherku.&#xA;&#xA;  &#34;Heh, Laut, uhuk!&#34;&#xA;  &#34;Aku ra iso napas, bajigur!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Bel pulang sekolah menjadi pelebaya buatku untuk bisa segera merapikan barang-barang di atas dan kolong meja. Di sebelahku, Laut menatapku dengan dua alis yang bertaut.</p>

<blockquote><p>ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Nah, Manah.”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Ngopo sih, kok kesusu koyok ngono?”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Lagi dikejar demit po, kowe ki?”</em></p></blockquote>

<p><em>Kenapa sih, kok buru-buru kayak gini? Lagi dikejar setan kah, kamu ini?</em></p>

<blockquote><p><em>“Enggak, enggak kenapa-kenapa.”</em>
<em>“Aku cuma pingin buru-buru pulang, ada urusan sama Ayah.”</em>
<em>“Ayo, Ut, anterin aku pulang sekarang.</em>“</p></blockquote>

<p>Padahal Ayah juga pulangnya masih malam nanti, tapi aku betul-betul tak sabar karena sudah dibuat tak tenang seharian ini.</p>

<p>Laut mengganjur napas panjang, nampaknya pasrah dengan kelakuanku. Dia menarik tas selempangnya yang buluk bukan main, sebelum merangkulku untuk berjalan menuju parkiran.</p>

<blockquote><p>ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Nek ono opo-opo, Nah—”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“—kowe iso cerito karo aku.”</em></p></blockquote>

<p><em>Kalau ada apa-apa, Nah, kamu bisa cerita sama aku.</em></p>

<p>Di tengah-tengah langkah gontai kami menuju tempat kuda besi Laut terparkir, dia berkata begitu sambil menatapku.</p>

<p>Aku balik menatapnya, lantas mengembangkan senyuman simpul pada roman. Satu karantalaku terangkat, iseng menjitak keningnya pelan.</p>

<blockquote><p>ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Heh, jangkrik!”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Kok aku malah mbok jitak iki lho?”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Aku ngomong serius, lho!”</em></p></blockquote>

<p>Mendengar reaksinya, aku tidak bisa tidak tertawa. Laut memang paling seru diajak bercanda.</p>

<blockquote><p><em>“Iyoooooo, Laut Buhpala sing paling ngganteng sejagat raya.”</em>
<em>“Eh, enggak deng, dudu sing paling ngganteng.”</em>
<em>“Paling nggilani, kowe mah.”</em></p>

<p>ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Jangkrik!”</em>
ㅤㅤㅤㅤㅤ<em>“Tak pites yo, kowe?!”</em></p></blockquote>

<p>Lengan kirinya yang tadi merangkulku, kini dibuat Laut mengerat di bagian leherku.</p>

<blockquote><p><em>“Heh, Laut, uhuk!”</em>
<em>“Aku ra iso napas, bajigur!”</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://geranyam.writeas.com/ii-bmv6</guid>
      <pubDate>Fri, 23 Jul 2021 16:39:02 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>